Silahkan masukkan username dan password anda!
Login

Lupa password?

Latest topics
» Ada apa di balik serangan terhadap Muslim Burma?
by Dejjakh Sun Mar 29, 2015 9:56 am

» Diduga sekelompok muslim bersenjata menyerang umat kristen
by jaya Wed Nov 27, 2013 12:30 am

» Sekitar 6.000 orang perempuan di Suriah diperkosa
by jaya Wed Nov 27, 2013 12:19 am

» Muhammad mengaku kalau dirinya nabi palsu
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:53 pm

» Hina Islam dan Presiden, Satiris Mesir Ditangkap
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:50 pm

» Ratusan warga Eropa jihad di Suriah
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:48 pm

» Krisis Suriah, 6.000 tewas di bulan Maret
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:46 pm

» Kumpulan Hadis Aneh!!
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:43 pm

» Jihad seksual ala islam!
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:40 pm

Social bookmarking

Social bookmarking Digg  Social bookmarking Delicious  Social bookmarking Reddit  Social bookmarking Stumbleupon  Social bookmarking Google  Social bookmarking Blinklist  Social bookmarking Blogmarks  Social bookmarking Technorati  

Bookmark and share the address of Akal Budi Islam on your social bookmarking website

Bookmark and share the address of on your social bookmarking website

Pencarian
 
 

Display results as :
 


Rechercher Advanced Search

Poll
Statistics
Total 40 user terdaftar
User terdaftar terakhir adalah tutunkasep

Total 1142 kiriman artikel dari user in 639 subjects
Top posting users this month

User Yang Sedang Online
Total 1 user online :: 0 Terdaftar, 0 Tersembunyi dan 1 Tamu

Tidak ada

[ View the whole list ]


User online terbanyak adalah 23 pada Sat Jun 04, 2016 11:25 pm

Magdi Allam

 :: Kesaksian :: Katolik

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Magdi Allam

Post  Admin on Fri Apr 22, 2011 11:48 pm

Magdi Alam, 56 tahun, dibaptis oleh Paus Benediktus XV paada tanggal 22 April 2008 di Basilika Santo Petrus Roma, di bawah sorotan kamera televisi dan disiarkan ke banyak Negara..
Magdi Alam dilahirkan di Kairo, Mesir. Sewaktu kecil dia memang bersekolah di sekolah-sekolah Katolik. Menurut pengakuannya, dia sebenarnya sudah tertarik pada iman Katolik sejak dia berusia 4 tahun. Meskipun para biarawati yang mengelola sekolah tempat Magdi menuntut ilmu tidak bermaksud menobatkan dia, pendidikan dan pembinaan yang dijalankan para suster Salesian dan Comboni sangat membantu dia “menjadi sadar akan realitas agama, memberikan kesempatan bagi dirinya untuk mengambil bagian dalam kehidupan para religius Katolik dan tokoh-tokoh awam, membaca Alkitab dan Injil, dan menghadiri perayaan Ekaristi.”
Magdi Alam pindah ke Itali tahun 1972, pada usia 20 tahun, dan tinggal di sana sampai sekarang. Belakangan ini, menurut pengakuannya, “dua pengalaman mempercepat langkah saya untuk bertobat menjadi Katolik.”

“Pengalaman pertama adalah lima tahun lalu ketika saya menemukan diri berada dalam perlindungan tentara kaum bersenjata karena ancaman dari para ekstrimis dan teroris Muslim,” demikian pengakuan Magdi Allam. “Situasi ini memaksa saya untuk berefleksi tidak hanya pada realitas ekstremis Islam, tetapi juga pada Islam sebagai agama.”
Pengalaman kedua adalah kesempatan untuk bertemu dengan umat Katolik biasa—dan satu orang yang sangat spesial, yang Paus Benediktus XVI sendiri.

“Saya bangga menjadi salah satu dari sedikit orang Muslim di Italia yang bekerja di sebuah surat kabar nasional yang berdiri teguh membela Sri Paus setelah pidatonya di Regensburg tanggal 12 September 2006,” demikian Magdi Allam. “Saya tidak hanya membela Paus dari segi kebebasan berpendapat, saya juga membela isi dari yang dikatakannya, karena percaya bahwa apa yang dikatakannya berkorespondensi dengan kebenaran dan level ilmiah.”

Paus dalam pidatonya memberi tekanan pada pentingnya nalar dan menentang kekerasan dalam agama. Magdi Allam mengakui bahwa rencananya untuk dibaptis Paus muncul sekitar satu tahun yang lalu ketika dia memulai kursus persiapan bersama Uskup Rino Fisichella, Rektor Universitas Pontifikal Lateran, Roma.
Aref Nayed adalah juru bicara bagi 138 ilmuwan Muslim yang menginisiatifi proyek dialog Common Word di bulan Oktober dan yang mendirikan Forum Katolik-Muslim untuk dialog dengan Vatican di awal bulan Maret.

Nayed menanyakan secara terbuka kepada Paus Benediktus XVI mengapa dia memutuskan untuk membaptis Magdi Allam.

“Menyedihkan bahwa tindakan yang intim dan pribadi dari sebuah pertobatan religius dilakukan dalam cara yang megah dan meriah hanya untuk mencatat skor,” kata Nayed. “Adalah menyedihkan bahwa orang yang khusus dipilih untuk pengormatan publik ini memiliki sejarah melahirkan dan terus melahirkan diskursus yang penuh kebencian.”
Magdi Allam mengatakan bahwa hal ini tidaklah benar. “Saya tidak menyangka bahwa hal ini bisa mungkin. Saya tidak pernah memikirkannya barang semenitpun ketika saya memutuskan menjadi Katolik ketika hal-hal yang baik dapat terjadi.”

Bagi Magdi Allam, kontroversi karena pertobatannya memunculkan standar ganda yang mematikan. “Saya sungguh merasa kecewa bahwa mereka menganggap pembaptisan seorang Muslim ke Kristianitas sebagai sebuah provokasi, dan citra seorang Paus yang membaptis seorang Muslim harus membuat hal ini menjadi lebih buruk,” demikian Allam.
“Ini seolah-olah ibarat seseorang yang melihat bahwa pembaptisan seorang Muslim sebagai sesuatu yang memalukan sebegitu rupa sehingga mereka menganggapnya bahwa jika saya dibaptis di sebuah paroki yang jauh, jauh dari masyarakat, berarti bahwa itu lebih baik supaya orang-orang tidak tahu mengenainya. Saya bangga sebagai orang yang bertobat kepada Katolisisme dan menerima pembaptisan itu secara meriah dan diketahui publik.”

Magdi Allam mengatakan bahwa di Eropa sudah ada ribuan orang yang bertobat kepada Islam dan “tidak ada seorang pun yang mempermasalahkan hal ini. Tak seorang pun yang diperbolehkan untuk mengkritisi hal ini, atau mengancam mereka, tetapi jika hanya seorang saja Muslim yang bertobat kepada agama Kristen, tiba-tiba saja dia dijatuhi hukuman mati karena penghojatan. Ini yang terjadi saat ini di Eropa—bukan di Arab Saudi. Jika kita di Eropa saja tidak membela kebebasan beragama, termasuk hak seorang Muslim untuk bertobat ke agama Kristen atau iman kepercayaan lainnya, maka saya bisa mengatakan bahwa kita telah kehilangan perjuangan kita demi peradaban dan kebebasan.”
Islam Moderat

Allam menjadi contoh yang unik untuk melihat konflik Islam-Kristen. Di satu pihak, dia dikenal sampai belum lama ini sebagai suara dari dalam Islam yang menyuarakan moderasi. Di lain pihak, sekarang dia meminta perlindungan karena merasa diancam oleh kaum Muslim yang marah atas pertobatannya.

“Saya yakin ada Islam moderat, bahwa ada kaum Muslim yang mendukung hukum yang menjamin koeksistensi,” demikan Allam. “Orang tidak secara otomatis merupakan produk dari dogma-dogma imannya; mereka bukan seperti buah dari sebuah pohon. Dalam kenyataan, orang itu sangat kompleks. Setiap individu bersifat khas, memiliki hubungan yang khas dan tertentu dengan agamanya yang bisa saja dangkal atau dalam.”
“Kita harus membedakan pribadi dan agama,” demikian Allam.

“Islam adalah sebuah agama yang selalu bersifat plural karena ia memiliki dalam dirinya sejumlah besar jiwa-jiwa. Tetapi sebagai agama, ia tidak pernah menjadi pluralistik, tidak pernah menjadi demokratis.” Dia mengatakan “perang bersifat internal bagi Islam. .... Cukuplah untuk menganggap bahwa tiga atau empat penerus Muhammd dibunuh oleh Islam karena jalan mereka bertentangan dengan jalan yang dianggap sebagai jalan Islam, cara mereka menjalankan kekuasaan.”
Tetapi apakah Islam ditakdirkan untuk mengulangi hal ini di masa depan? Dapatkah dia berubah?

“Saya tidak ingin membatasi Penyelenggaraan Ilahi, tetapi sebagai seorang Muslim selama 56 tahun, saya tidak menjadi yakin akan kemungkinan adanya perubahan internal dalam Islam, bahwa agama ini bakal akan menundukkan dirinya sepenuhnya pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang menurut pertimbangan saya bersifat tidak mengalienasikan dan tidak terbantahkan.” Harapan yang terbaik, demian Allam, adalah koeksistensi.

Karena pertobatan ini Allam sekarang harus menghadapi satu konsekuensi penting: Kemarahan dari mereka yang selama ini mendukung pandangan-pandangannya mengenai ekstrimisme Islam yang juga khawatir karena pembaptisan ini justru akan menghasut kaum Islam ekstrem untuk menyerang orang-orang Kristiani.

Alam menjawab hal ini dengan mengatakan bahwa sikap semacam ini didasarkan pada salah pamam. “Kita harus membebaskan diri kita dari asumsi-asumsi yang lazim bahwa kekerasan yang dilancarkan kaum ekstremis dan teroris adalah reaktif, yakni tindakan yang tergantung pada provokasi,” demikian Allam.

Allam mengatakan bahwa serangan tanggal 11 September atas menara kembar di Amerika Serikat mengkarakterisasi terorisme Islamis sebagai “agresif” daripda sekadar defensif. Osama Bin Laden bertindak atau beraksi tanpa ada provokasi.
“Itu adalah tindakan perang, tindakan agresi melawan Amerika Serikat,” demikian Allam. “Dewasa ini, orang-orang Kristiani di Timur Tengah, di negara-negara Islam, di Iraq, telah dibantai. Mereka mengalami penganiayaan di Mesir, Algeria, Sudan, dan Lebanon. Semua ini terjadi karena mereka diprovokasi oleh Sri Paus. Mereka membunuh orang Kristen karena mereka menganggap penggunaan kekerasan sebagai tindakan yang sah (legitim) melawan semua orang yang tidak sepaham dengan mereka.”

Daripada bersikap reaktif terhadap berbagai peristiwa yang terjadi, para teroris justru menyerang tempat-tempat yang mereka kehendaki dan kemudian mencari alasan pembenar atas tindakan-tindakan mereka tersebut.

“Mereka memanipulasi kejadian dengan mengatakan: ‘Ini adalah kesalahan Sri Pus, ini karena kesalahan Magdi Allam,’ dan karena hal ini, kita dapat bertindak dalam cara tertentu. Tetapi sebenarnya mereka sudah melakukannya: sejak tahun 1945, sekitar 10 juta orang ditelantarkan di Timur Tengah. Di negara-negara di pantai bagian selatan Mediterania, terdapat 1 juta orang Yahudi pada waktu itu; sekarang hanya ada sekitar 1000 orang. Semua ini terjadi karena realitas ketidaktoleranan dan kekerasan melawan semua orang yang bukan Islam.”

Osama Bin Laden mengirim sebuah pesan berbahaya dan mengancam yang menyebut Sri Paus beberapa hari sebelum hari raya Paskah. Apakah pesan yang kebetulan ini membuat pertobatan Magdi Allam terlihat sebagai bagian dari sebuah perang salib?
Allam menolak bahkan untuk menimbang pertanyaan ini.

‘Bin Laden adalah pimpinan ideologis dari jaringan teroris Islam seluruh dunia,” demikian Allam. “Kita berbicara mengenai sebuah kejahatan, orang yang paling diburu di dunia, sosok yang telah membunuh ribuan orang, sosok yang membenarkan pembunuhan tanpa pandang bulu atas orang-orang yang tidak tunduk pada kekuasaannya. Kita tidak dalam cara apapun membenarkan orang semacam ini dan menimbang dia dalam negosiasi-negosiasi. Sri Paus tidak memaklumkan sebuah perang salib.”

Bagi Allam, pembaptisan tersebut memiliki makna yang cukup berbeda mengenai Sri Paus Benediktus. Mengenai hal ini, Allam mengatakan, “Dia telah meletakkan iman dan akal budi melebihi berbagai pertimbangan diplomatik dan politik.” Allam kemudian melanjutkan, “Saya percaya Sri Paus dalam konteks ini telah menunjukkan dirinya sendiri sebagai seorang Paus besar karena dia memposisikan dirinya sendiri di atas berbagai kepentingan.”

Sumber

Admin
Admin

Jumlah posting : 225
Join date : 17.04.11

Lihat profil user http://akalbudiislam.forumid.net

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 :: Kesaksian :: Katolik

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik