Silahkan masukkan username dan password anda!
Login

Lupa password?

Latest topics
» Ada apa di balik serangan terhadap Muslim Burma?
by Dejjakh Sun Mar 29, 2015 9:56 am

» Diduga sekelompok muslim bersenjata menyerang umat kristen
by jaya Wed Nov 27, 2013 12:30 am

» Sekitar 6.000 orang perempuan di Suriah diperkosa
by jaya Wed Nov 27, 2013 12:19 am

» Muhammad mengaku kalau dirinya nabi palsu
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:53 pm

» Hina Islam dan Presiden, Satiris Mesir Ditangkap
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:50 pm

» Ratusan warga Eropa jihad di Suriah
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:48 pm

» Krisis Suriah, 6.000 tewas di bulan Maret
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:46 pm

» Kumpulan Hadis Aneh!!
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:43 pm

» Jihad seksual ala islam!
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:40 pm

Social bookmarking

Social bookmarking Digg  Social bookmarking Delicious  Social bookmarking Reddit  Social bookmarking Stumbleupon  Social bookmarking Google  Social bookmarking Blinklist  Social bookmarking Blogmarks  Social bookmarking Technorati  

Bookmark and share the address of Akal Budi Islam on your social bookmarking website

Bookmark and share the address of on your social bookmarking website

Pencarian
 
 

Display results as :
 


Rechercher Advanced Search

Poll
Statistics
Total 40 user terdaftar
User terdaftar terakhir adalah tutunkasep

Total 1142 kiriman artikel dari user in 639 subjects
Top posting users this month

User Yang Sedang Online
Total 2 uses online :: 0 Terdaftar, 0 Tersembunyi dan 2 Tamu

Tidak ada

[ View the whole list ]


User online terbanyak adalah 23 pada Sat Jun 04, 2016 11:25 pm

Ateisme dan Evolusi

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Ateisme dan Evolusi

Post  Admin on Tue May 10, 2011 12:14 pm

Esai ini mengungkapkan pembalikan argument rancangan, bahwa pencipta mestilah lebih agung dari ciptaanya yang ujung2nya menyatakan harus ada Tuhan, bahwa alam raya memiliki keteraturan dan rancangan ilahiah, dan bahwa alam raya memiliki tujuan. Ada keterangan penerjemah di sana-sini hanya dengan maksud mempermudah pemahaman istilah-istilah yang mungkin kurang akrab.

Descrates (seorang filsuf rasionalis yang percaya Tuhan.pent), dalam Meditations (1841), mencatat bahwa “hanya ada dua cara membuktikan keberadaan Tuhan, yang pertama melalui akibat-akibatnya, dan yang kedua melalui sifat atau hakikatnya” “ (AT, 120). Yang kedua, sebuah jalan a priori, secara paradigma diwakili oleh argumen ontologisme (bahwa Tuhan ada sebagai akibat definisinya.pent) St. Anselm (dan turunanya, termasuk versi Descrates sendiri), memiliki daya tarik abadi bagi beberapa golongan filsuf, tapi tidak dipedulikan oleh sebagian besar orang. Yang pertama, secara paradigma diwakili oleh argumen rancangan (argumen from design), tentunya merupakan yang paling mendesak dari semua alasan-alasan menolak ateisme, dan argumen rancangan dengan gambalang muncul secara spontan kapanpun di manapun orang ditantang membenarkan kepercayaan meraka akan Tuhan. Contoh William Paley perihal menemukan sebuah jam tangan selagi berjalan-jalan di panas terik mencotohkan pokok-pokok dan sari-sarinya, kata dia, pada “acuan yang kita pikir tak dapat dielakan, bahwa jam tangan pastilah memiliki pembuat- bahwa pasti telah ada pada suatu waktu dan pada suatu atau lain tempat, sebuah kecerdsan atau kecerdasan-kecerdasan yang membentuknya demi tujuan yang sebenarnya kita menemukan jam tangan itu untuk menjawabnya, yang memahami konstruksinya dan merancang penggunaanya” (Paley 1800). Hingga Darwin muncul, argumen rancangan merupakan argumen yang disegani, berharga untuk dirusak Hume (seorang filsuf ateis, skeptic dan empiris yang percaya bahwa segalanya datang dari indera.pent) tapi tidak serentak ditembak dalam Hume Dialogues Concerning Natural Religion (1779). Descrates sendiri menganut sebuah versi argumen rancangan, dalam argumen Meditasi Ketiga-nya yang terkenal buruk bahwa gagasanya perihal Tuhan terlalu hebat untuk Descrates ciptakan sendiri. Walaupun Descrates tentunya menganggap dirinya cerdas, dan terlebh lagi perancang gagasan-gagasan yagn berhasil, dia tidak dapat membayangkan bahwa dia dapat menjadi perancangan cerdas gagasanya perihal Tuhan.

Gagasan akrab bahwa alam raya yang mengagungkan membuktikan keberadaan Tuhan sebagai penciptanya mungkin setua spesies kita, atau bahkan lebih tua. Apakah Homo habilis, manusia “yang menggunakan alat” yang membuat alat-alat sederhana pertama, memiliki beberapa gagasan remang-remang dan tak tersampaikan bahwa selalu membutuhkan suatu yang sungguh canggih yang cerdas untuk membuat sesuatu yang kurang canggih? Kita tidak pernah melihat pot membuat pembuat pot, tapal kuda membuat pandai besi, bagaimanapun juga. Aliran mengucur-bawah (trickle-down) ini, pandangan pikiran-awal (mind-first) perihal rancangan nampak pada awalnya tidak perlu bukti (self-evident). Pamflet propaganda kreasiones (kaum yang percaya pada penciptaan.ed) yang dulu diberikan pada saya oleh seorang murid memanfaatkan intuisi ini dengan kuisoner yang mengejek:

Tes Dua

Apakah Anda mengetahui bangunan apapun juga yang tidak punya pembangun? [YA] [TIDAK]

Apakah Anda mengetahui lukisan apapun juga yang tidak memiliki pelukis? [YA] [TIDAK]

Apakah Anda mengetahui mobil apapun juga yang tidak memiliki pembuat? [YA] [TIDAK]

Jika Anda menjawab YA untuk pertanyaan apapun di atas, berikan rincianya:

_________________________________________

_________________________________________

_________________________________________

_________________________________________

malu yang diperkirakan pada orang yang mengisi tes tersebut saat dihadapkan dengan urutan panjang ini menimbulkan pada banyak orang-mungkin sebagian besar- rasa ragu saat mereka menghadapi gagasan agung Darwin. Nampaknya sungguh jelas, bukankah begitu, bahwa tidak dapat ada rancangan apapun tanpa perancang, ciptaan apapun tanpa seorang pencipta! Rasa penat dan reaksi mendadak yang dimunculkan kemungkinan ini pada banyak orang disampaikan dengan sempurna dalam sebuah serangan awal terhadap Darwin, diterbitkan tanpa nama pada 1868:

Dalam teori yang denganya kita harus berurusan, Keangkuhan Mutlak adalah kecerdasannya; sehingga kita dapat terus terang mengucapkan sebagai prinsip dasar seluruh sistem, bahwa, UNTUK MEMBUAT SEBUAH MESIN YANG SEMPURNA DAN INDAH, TIDAK DIBUTUHKAN MENGETAHUI BAGAIMANA MEMBUATNYA. Pernyataan ini akan ditemukan, pada pengkajian cermat, untuk mengekspresikan, dalam bentuk termampatkan, pokok inti dari Teori ini, dan untuk mengekspresikan dalam sedikit kata meringkas semua maksud Tuan Darwin; yang, dengan pembalikan penalaran aneh, nampaknya berpikir Keangkuhan Mutlak secara sepenuhnya bermutu menggantikan Kebijakasanaan Mutlak dalam semua pencapaian-pencapaian skil kreatif. (Mackenzie 1868)

Tepat! “pembalikan penalaran aneh” milik Darwin pada kenyataanya merupakan sebuah cara pikir baru dan mengagumkan, menjungkirbalikan sepenuhnya cara pikiran-pertama yang bahkan David Hume tidak dapat menyangkalnya, dan menggantikanya dengan pandangan yang meletup muncul yang di dalamnya kecerdasan- kecerdasan yang terkumpulkan, berpandangan ke depan dari sebuah pelaku anthropomorphis (berwujud seperti manusia.pent)- sesungguhnya muncul hanya sebagai salah satu hasil proses mekanistik, tak berpikiran. Proses-proses ini penuh dengan milyaran ketiadaan arah yang tak terkisahkan, tanda-tanda tubrukan, beberapa serpihan kecil yang musnah yang secara kebetulan menghasilkan sedikit peningkatan pada keturunan tempat proses-proses tersebut terjadi. Terimakasih pada prinsip Darwin “menurunkan dengan perombakan,”inovasi rancangan yang diuji dengan kejam ini bertumpuk selama berabad-abad, menghasilkan rancangan-rancangan brilian mencengangkan yang tidak pernah memiliki perancang-kecuali ketiadaan tujuan, proses tersalurkan dari seleksi alam itu sendiri.

Tanda-tanda khas dari inovasi-inovasi tak terencana ini dapat ditemukan dimana-mana dalam pengujian rinci atas alam yang mengaggumkan, retina mata binatang bertulang belakang yang mengembang dan memipih, yang setengah dibuang yang sia-sia di gen dan organ dari setiap spesies, pemborosan-pemborosan dan kekejaman yang tampak jelas dari begitu banyaknya proses-proses alam. Hal-hal tersebut berasal dari kebijaksanaan, “kecelakaan-kecelakaan terbekukan,” dalam frasa yang sangat tepat dari Francis Crik, menghadapkan teis dengan sebuah dilemma: jika Tuhan bertanggung jawan atas rancangan-rancangan tersebut, maka secara menggelisahkan kecerdasanya tampak seperti kebodohan dan tak berperasaan milik manusia. Terlebih lagi, seraya pemahaman kita perihal mekanisme evolusi bertumbuh, kita dapat membuat sketsa yang semakin rinci tentang urutan sejarah perisitiwa-peristiwa yang dengannya inovasi-inovasi rancangan muncul dan tergabung pada cabang-cabang pohon genom . Sebuah penjelasan berlimpah yang terprediksi perihal proses pembuatan kini sedang muncul, penuh dengan ribuan rincian yang saling mendukung, dan tanpa kontradiksi sama sekali. Seraya teka-teki bongkar-pasang (puzzle) besar ini jatuh serpih demi serpih ke tempatnya dengan semakin cepat, tidak ada alasan meragukan bahwa inilah, dalam segala garis besar umum seakan-akan tiada semua rincian yang tidak mapan, kisah sesungguhnya tentang bagaimana semua makhluk hidup dapat memiliki rancangan seperti yang kita amati.

Keraguan tak beralasan tumbuh dengan subur, bagaimanapun juga, terima kasih pada upaya-upaya propaganda kreasionis yang tiada henti dan penyuara rancangan cerdas (RC (intelligent Design)), seperti William Dembski dan Michael Behe, yang telah mengelola secara mengecewakan sebagian besar jumlah populasi awam bahwa sungguh ada kontroversi ilmiah terjadi dalam biologi perihal teori yang menjadi tulang punggungnya, evolusi oleh seleksi alam. Tidak ada. Sungguh ada kontroversi ilmiah berlimpah di setiap sudut biologi, tapi tidak ada kontoversi yang membantah evolusi. Cara sah menanam badai dalam disiplin ilmu adalah dengan teori alternatif yang

Membuat prediksi yang langsung saja ditolak oleh teori yang berkuasa tapi akhirnya benar atau
Menjelaskan sesuatu yang telah dan masih membingungkan pembela status quo atau
Menyatukan dua teori yang jauh, berkaitan dengan beberapa elemen pandangan yang sedang diterima,
Tercatat, para pembela RC belum menghasilkan satu contoh dari apapun seperti di atas. Tidak ada percobaan dengan hasil-hasil yang menantang standar pemahanan neo-Darwinian apapun juga, tidak ada pengamatan pada catatan fosil atau genomik atau biogeografi atau anatomi perbandingan yang memperlemah pemikiran evolusioner standar, tanpa penyederhanaan maupun kesatuan teoritis, dan tanpa prediksi mengejutkan yang menjadi nyata. Singkatnya, tidak ilmiah-hanya iklan. Tidak ada hipotesa RC yang telah diajukan sebagai penjelasan tandingan atas fenomena biologi apapun. Untuk merancang hipotesa saingan, Anda harus turun ke parit-parit dan menawarkan beberapa rincian berdampak yang dapat dibuktikan, tapi pembela RC dengan baik sekali menghindari persyaratan itu, mendaku bahwa mereka tidak tahu secara pasti dalam kepala perihal kemungkinan siapa atau apa rancangan cerdasnya.

Untuk mengamati kelemahan ini dalam penggambaranya, pertimbangkanlah sebuah hipotesa imginatif dari rancangan cerdas yang dapat menjelaskan munculnya umat manusia di atas planet ini:

Sekita enam juga tahun yang lalu, insinyur genetis cerdas dari galaksi lain mengunjungi bumi dan memutuskan bahwa bumi akan menjadi planet yang lebih menarik jika di atasnya ada spesies pengguna-bahasa, pembentuk-agama, sehingga mereka mengasingkan beberapa primata (yang di antaranya nenek moyang baik manusia dan simpanse dan bonobo (kera langka afrika.pent)), dan secara genetis merancang ulang mereka guna memberi insting bahasa, dan memperlebar cuping bagian depan untuk perencanaan dan berefleksi. Hal tersebut berhasil.

Jika beberapa versi hipotesa ini benar, sesungguhnya hal tersebut dapat menjelaskan bagaimana dan kenapa umat manusia berbeda dari kerabat-kerabat terdekat mereka dan hal ini akan menyalahkan semua hipotesa saingan neo-darwinian yang akhir-akhir ini sedang dikejar perihal pertanyaan menghebohkan ini. Kita masih memiliki masalah perihal bagainama insinyur genetis cerdas ini ada di planet asal mereka, tapi kita dapat saja mengacuhkanya dengan aman kesulitan itu untuk saat ini, karena tidak ada sedikit irisanpun bukti mendukung hipotesa ini. Dan-inilah sesuatu yang komunitas RC enggan membahasnya-tak ada hipotesa rancangan-cerdas yang berkembang lebih jauhd dari ini. Faktanya, ketidakyakinann saya- tapi mungkin- hipotesa memiliki keuntungan tersendiri karena dapat diuji prinspinya: kita dapat mengamati genome manusia dan simpanse untuk tanda-tanda yang tak dapat keliru perihal pencangkokan oleh para insinyur genetis tersebut (mungkin mereka meninggalkan sebuah pesan“Kilroy pernah ada di sini” di DNA manusia bagi kita untuk diuraikan!). Menemukan semacam buku pentunjuk penggunaan yang dengan rapi tersimpan dalam “DNA sampah” yang tampaknya tidak berguna yang membentuk sebagian besar genome manusia akan mendapat Penghargaan Nobel-segera menang KO untuk gerombolan RC, tapi jika mereka bahkan mencari, mereka tidak memberi tahu siapapun. Mereka lebih tahu. Ironisnya, argumen “kesimpulan rancangan” William Dembski seharusnya menegaskan tes yang pasti berhasil dalam hanya menemukan pembuka rahasia seperti itu perihal pematri cerdas dalam fenomena asal muasal keturunan, tapi alih-alih mencoba menunjukan dalam tindakan tes tersebut, Dembski (2005) menyudahi dengan pengamatan yang menggunakan sudut pandang RC “mendorong ahli biologi untuk menyelidiki apakah system yang pada mulanya nampak tak berfungsi mungkin kenyataannya memiliki sebuah fungsi”- dan tiada kaum neo-Darwinian akan tidak setuju dengan strategi itu.

Antara kisah evolusi yang sangat terperinci serta bercabang-cabang banyak dan misteri tak berciri perihal Tuhan pencipta semua ciptaan besar dan kecil, tidak ada persaingan. Inilah pembalikan penting bagi keyakinan purba bahwa eksistensi Tuhan dapat dibaca melalui alam yang mengagumkan. Siapapun yang pernah terpukul oleh kebesaran rumitnya rancangan dan sangat banyaknya varietas menghidupi dunia dan berkhayal apakah-jika bukan Tuhan-dapat mungkin menjelaskan keberadaanya kini mesti menghadapi bukan hanya alternatif yang memuaskan, tapi sebuah kekuatan alternatif penjelasan yang menghenyakan nafas didukung ribuan prediksi yang benar-benar terbukti dan teka-teki yang terselesaikan. Richar Dawkins telah membuat intinya dengan bernas: “walaupun ateisme secara logis memungkin dapat dipertahankan sebelum Darwin, Darwin membuat mungkin ateisme terpenuhi secara intelektual” (1986:6).

Memperlemah argumen terbaik yang pernah terpikirkan siapapun untuk mendukung eksistensi Tuhan bukanlah, tentu saja, membuktikan ketiadaan Tuhan, dan banyak pemikir teliti yang telah menerima evolusi oleh seleksi alam sebagai penjelasan kekaguman dunia yang memiliki makhluk hidup mencari dukungan-dukungan lain agar kepercayaan mereka akan Tuhan berlanjut. Gagasan memperlakukan pikiran sebagai sebuah dampak bukanya sebagai sebab pertama terlalu revolusioner bagi beberapa orang. Alfred Russel Wallace, teman penemu (co-discoverer) Darwin perihal seleksi alam, tidak pernah dapat menerima pembalikan tersebut sepenuhnya, menyatakan bahwa “kompleksitas yang hebat dari daya-daya yang nampaknya mengendalikan permasalannya, jika bukan sesungguhnya mendirikannya , merupakan dan pastilah produk-pikiran” (dikutip dari Gould 1985:397). Lebih baru lagi, seorang fisikawan Paul Davies, dalam bukunya, The Mind of God (Pikiran Tuhan) (1992:232), berpendapat bahwa kekuatan reflektif pikiran manusia mungkin “bukanlah rincian sepele, bukanlah bagian kecil dari produk daya-daya tanpa pikiran yang tanpa tujuan.” Ini adalah cara paling terbuka untuk menyatakan penyangkalan yang akrab, karena hal ini mengkhianati prasangka yang kurang-dikaji. Kenapa, kita mungkin menanyai Davies, jika keberadaanya karena produk daya tanpa pikiran dan tanpa tujuan membuatnya sepele? Kenapa tidak dapat hal paling penting dari semuannya merupakan sesuatu yang muncul dari hal-hal tidak penting? Kenapa yang penting dan unggul dari segalanya harus turun jatuh bercucuran dari atasnya dari ketinggian, dari sesuatu yang lebih penting, sebuah anugrah dari Tuhan? Pembalikan Darwin menyarankan bahwa kita melepaskan anggapan itu dan mencari semacam keunggulan, berharga dan bertujuan, yang dapat muncul, meluap dari “daya-daya tanpa pikiran, tujuan.”

Tapi sebelum kita bereskan sudut pandang yang meluas tentang yang paling penting, dengan bantuan apapun yang kita dapat kerahkan, kita perlu berurusan dengan skeptisisme sisa dari sudut pandang tradisional mengucur-ke-bawah: Begitu evolusi tanpa pikiran, tujuan dapat berjalan, evolusi menghasilkan rancangan dahsyat setiap waktu, tapi bagaimana ini semua bermula? Tidakkah kita membutuhkan Tuhan untuk memantik proses dengan menyatukan secara ajaib dan secara mustahil benda replika-diri pertama? Harapan ini- dan keyakinan sebaliknya bahwa asal usul hidup dapat dijelaskan sedemikian rupa oleh urutan-urutan peristiwa alamiah yang dasar tapi kemungkinannya tidak sepele perihal asal-usul kehidupan-mendasari minat yang dalam, agar tidak menyebutnya hasrat, yang mengelilingi penelitian terbaru perihal asal-usul kehidupan. Rincian-rincian proses belum selesai, tapi kehadiran bekas-bekas bangunan yang cenderung kompleks-tidak hanya asam amino dan molekul dasar “organis”- dalam dunia sebelum adanya makhluk hidup kini terbangun, dan permasalahan yang dihadapi para ilmuwan saat ini lebih persoalan misteri yang tak dapat diperhitungkan ketimbang sebuah kekayaan memalukan: begitu banyak kemungkinan yang belum disingkirkan. Keyakinan bahwa pasti telah butuh sebuah mukjizat-pelanggaran sejenak hukum fisika dan kimia yang berlaku-bagi kehidupan untuk dapat bermulah telah kehilangan kepercayaan apapun juga yang pernah dimilikinya.

Tapi, lalu, kedudukan hukum-hukum itu sendiri membutuhkan penjelaskan, bukankah demikian? Jika Tuhan Cerdas dan Tuhan Pemantik telah kehilangan pekerjaan mereka, bagaimana dengan Tuhan Pemberi hukum? Pendapat ini telah populer sejak saat-saat awal pemikiran Darwininian, dan Darwin sendiri bermain dengan pemunduran menarik ini. Dalam sebuah surat pada 1860 pada seorang peneliti alam Amerika, Asa Gray, seorang supporter dini, Darwin menulis, “saya cenderung melihat semuanya sebagai hasil hukum-hukum terancang (penekanan ditambahkan), dengan rincian apakah baik atau buruk, ditentukan oleh kerja apa yang dapat kita sebut kebetulan” (Darwin 1911:105).

Proses otomatis sendiri sering merupakan ciptaan dari kecerdasan yang tinggi. Dari letak yang menguntungkan kini, kita dapat memahami bahwa para pencipta transmisi otomatis dan pembuka-pintu otomatis bukanlah orang idiot, dan kejeniusan mereka tersimpan pada memahami bagaimana menciptakan sesuatu yang dapat melakukan sesuatu yang “cerdas” tanpa harus berpikir tentangnya. Bermanja dalam suatu anarkonisme (kekacauan istilah.pent), kita dapat mengatakan bahwa bagi beberapa pengamat di saat Darwin, tampaknya Darwin telah membiarkan terbuka kemungkinan bahwa Tuhan melakukan prakaryanya dengan merancang pembuat rancangan otomatis. Dan pada beberapa hal dari gagasan tersebut, gagasan tersebut bukan hanya sebuah selisish-henti putus asa melainkan sebuah peningkatan positif pada tradisi. Bab pertama Kitab Kejadian (bagian pertama dari Kitab Perjanjian lama di Alkitab yang mengkisahkan penciptaan.pent) menjelaskan urutan tahapan penciptaan dan semuanya berakhir denga ulangan “dan Tuhan melihatnya baik.” Darwin telah menemukan sebuah cara menghilangkan penerapan terus-menerus dari kendali mutu yang cerdas; seleksi alam akan mengambil alih tanpa campur tangan lebih jauh dari Tuhan. (filsuf abad tujuh belas Gottfried Wilhelm Leibniz telah membela pandangan tanpa campur tangan dari Tuhan Pencipta yang mirip.) Sebagaimana Henry Ward Beecher menyampaikannya, “Rancangan secara besar-besaran lebih besar daripada rancangan terus-menerus” (Rachels 1991:99). Asa Graya, tertawan oleh gagasan baru Darwin tapi mencoba mendamaikanya sebisa mungkin dengan iman relijius tradisionalnya, menyimpulkan pada perkawinan menyamankan ini: Tuhan memaksudkan “arus variasi-variasi” dan telah memahami bagaimana hukum alam yang telah dia letakan akan memangkas aliran ini melalui ribuan tahun. Seperti yang kemudian John Dewey dengan tepat katakan (1910:12), mendukung tapi metafor pasaran lainya, “Gray berpegang pada apa yang dapat kita sebut rancangan dengan rencana kecil-kecil.”

Apakah perbedaan antara tatanan dan rancangan? Sebagai tikaman awal, kita mungkin mengatakan bahwa tatanan hanyalah keteraturan, hanyala pola; rancangan merupakan “telos”nya Aristoteles (telos=tujuan.pent), sebuah pendaya gunaan tatanan untuk sebuah tujuan, seperti kita lihat dalam artefak yang dirancang dengan cerdas. Sistem tata surya menunjukan tatanan menakjubkan, tapi (rupanya) tidak memiliki sebuah tujuan-tata surya tidak berjalan untuk apapun juga. Sebuah mata, sebagai lawanya, adalah untuk memandang. Sebelum Darwin, perbedaan ini tidak selalu dengan jelas diputuskan. Lebih tepatnya, perbedaan ini secara positif dikaburkan:

Pada abad tiga belas, Aquinas (Teolog abad pertengahan pembela Tuhan dengan lima jalan, yang salah satunya mendukung alasan rancangan.pent) menawarkan pandangan bahwa tubuh alam [seperti planet-planet, rintik hujan, gunung-gunung berapi] bertikndak seolah-olah dibimbing menuju sebuah tujuan atau akhir yang pasti “sehingga mendapatkan hasil terbaik.” Penyesuaian alat-alat ini dengan tujuan-tujuan menyiratkan, pendapat Aquinas, sebuah maksud. Tapi, melihat bahwa tubuh-tubuh alam tidak memiliki kesadaran, tubuh-tubuh alam tidak dapat mengisi maksud tersebut sendiri. “Maka ada suatu makhluk cerdas yang olehnya semua hal-ikhwal alam diarahkan ke tujuanya, dan makhluk ini kita sebut Tuhan.” (Davies 1992:200)

Cleanthes-nya Hume (seorang karakter dalam Dialogues Concerning Natural Religion), mengikuti tradisi ini, mengumpulkan kekaguman yang dibiasakan perihal dunia yang ditinggali makhluk hidup dengan keteraturan-keteraturan surga-hal ini semua seperti sebuah mesin jam yang menawan baginya. Tapi Darwin menyarankan sebuah pemisahan: beri saya tatanan, kata dia, dan waktu, dan saya akan memberi Anda rancangan. Biarlah saya mulai dengan keteraturan-keteraturan tanpa tujuan, tanpa pikiran, tanpa inti dari fisika-dan saya akan menunjukan pada Anda sebuah proses yang sesungguhnya akan menghasilkan produk-produk yang menunjukan tidak hanya keteraturan tapi juga rancangan bertujuan. (Inilah apa Karl Marx dengat tepat pikir dia lihat saat dia mendeklarasikan bahwa Darwin telah memberi pukulan mematikan pada teleologi(paham bahwa alam raya bertujuan-pent) : Darwin telah mengurangi teleologi menjadi nonteleologi, rancangan ke tatanan)

Sebuah gagasan lebih baru perihal perbedaannya- dan hubungan erat- antara rancangan dan tatanan akan membantu memperjelas gambaran tersebut. inilah usulannya, dipopulerkan pertama kali oleh fisikawan Erwin Schrodinger (1967), bahwa hidup dapat dijelaskan dalam hal hukum kedua thermodinamika (cabang fisika yang berurusan dengan perpindahan berbagai bentuk daya satu ke yang lainnya dan bagaimana perpindahan tersebut mempengaruhi temperature, tekanan, isi, aksi mekanis, dan kerja.pent). Dalam fisika, tatanan atau pengelompokan dapat diukur dalam kaitanya dengan perbedaan panas antar daerah-daerah ruang-waktu, entropi (satuan ketidakteraturan.pent) hanyalah ketidakteraturan, lawannya keteraturan, dan menurut hukum kedua, entropi sistem terisolasi bertambah seiring waktu. Dengan kata lain, hal ikhwal berhenti berfungsi, secara tak terhindarkan. Menurut hukum kedua, alam raya semakin berhenti bekerja dari keadaan tertata akhirnya tak tertata yang dikenal sebagai matinya panas alam raya. Lalu apakah keberadaan semua makhluk hidup? Mereka adalah hal ikhwal yang menentang kehancuran menjadi debu ini, paling tidak untuk sementara, dengan tidak menjadi terisolasi- dengan mengambil bagian dalam lingkungan mereka alat yang diperlukan untuk tetap hidup dan bertunas bersama. Richard Gregory seorang psikolog menyarikan gagasan tersebut:

Anak panah waktu dilepaskan oleh Entropi-hilangnya pengorganisasian, atau hilangnya perbedaan-perbedaan temperatur- merupakan statistis dan merupakan subyek untuk pembalikan lokal berskala-kecil. Paling mencengangkan: hidup merupakan sebuah pembalikan Entropi sistematis, dan kecerdasan menciptakan tatanan dan perbedaan-perbedaan energi melawan “kematian” bertahap yang seharusnya melalui Entropi fisik alam raya. (1981:136).

Gregory melanjutkan dengan berhutang kepada Darwin dengan dasar yang memungkinkan gagasan: “inilah takaran konsep Seleksi Alam yang meningkat dalam kompleksitas dan tatanan organisme dalam waktu biologis kini dapat dipahami.” Kemudian tidak hanya organisme individual, tapi seluruh proses evolusi yang menciptakan mereka, maka dapat dilihat sebagai fenomena fisik mendasar yang berjalan melawan kecenderungan lebih lebar dari waktu kosmis.

Sebuah hal yang dirancang, maka, kalau tidak makhluk hidup ya sebagian dari makhluk hidup, atau artefak sebuah makhluk hidup, terorganisir dalam kasus apapun dalam pertolongan pertarungan melawan ketaktertataan ini. Tidaklah tidak mungkin melawan kecenderungan Hukum Kedua, tapi harganya mahal. Gregory mendramatisir ini dengan sebuah contoh tak terlupakan. Ekspresi standar buku pelajaran tentang keberarahan yang dipaksakan oleh hukum kedua thermodinamika adalah klaim bahwa Anda tidak dapat menyatukan telor (yang telah pecah.pent). Baiklah, bukannya Anda sepenuhnya tidak dapat, tapi bahwa akan sungguh-sungguh mahal bayarannya, tugas yang rumit, dengan segala jalan melawan hukum kedua. Kini pertimbangkanlah: betapa mahalnya jika membuat sebuah alat yang akan mengambil telor yang pecah sebagai bahan dan mengeluarkan telor yang utuh sebagai hasil? Ada satu penyelesaian yang siap: letakan induk ayam di kotak! Beri makan telor pecah, dan ayam akan dapat mengeluarkan telor untuk Anda-untuk sementara. Ayam normalnya tidak menghenyakan kita sebagai entitas yang canggih mendekati muzizat, tapi satu hal yang seekor ayam dapat lakukan, terima kasih pada rancangan yang telah mengaturnya, caranyapun masih di luar gapaian peralatan yang dibuat oleh insinyur manusia.

Semakin terancang sesuatu tampaknya, semakin kerja Penelitian dan Pengembangan harus telah terdapat untuk menghasilkan rancangan tersebut. Di antara hal-hal paling terancang adalah pikiran (dalam peranannya karena pikiran merupakan hal yang merancang-ulang-dirinya). Tapi ini berarti bahwa pikiran adalah di antara yang efek-efek paling tinggi (hingga kini) dari proses pembuatan, bukan-seperti dalam versi lama-penyebab atau sumbernya. Produk pikiran pada gilirannya-artefak manusia yang merupakan model awal kita-harus dianggap masih tetap sebagai masih terancang. Hal ini pada awalnya mungkin tampak melawan intuisi. Syair pujian Keats (penyair zaman Romantik ternama karena karya “Syair Pujian untuk Kendi Yunani”.pent) mungkin nampaknya memiliki suatu klaim kepemilikan turunan Penelitian dan Pengembangan yang lebih besar ketimbang sebuah burung bulbul – paling tidak hal ini mungkin tampak seperti itu bagi seorang pujangga yang tidak peduli biologi-tapi bagaimana dengan sebuah penjepit koran? Tentunya, penjepit koran merupakan produk rancangan sepele ketimbang makhluk hidup apapun, betapapun mendasarnya. Satu hal yang jelas, hal ini benar, tapi renungkanlah sejenak. Letakan dirimu di posisi Paley, tapi berjalanlah sepanjang sungai yang tampak benar-benar padang pasir di sebuah planet asing. Penemuan (discovery) mana yang paling menghebohkanmu: sebuah kerang atau pengumpul kerang? Sebelum sebuah planet dapat membuah seorang pengumpul kerang, harus dibuat terlebih dahulu pembuat pengumpul kerang, dan hal itu sebuah hal yang jauh lebih terancang ketimbang sebuah kerang.

Hanya sebuah teori dengan bentuk logis milik Darwin yang dapat menjelaskan bagaimana hal-hal terancang muncul, karena penjelasan sejenisnya lainya kalau bukan menjadi lingkaran setan maka menjadi pengunduran tak terbatas (Dennet 1975). Jalan lama, jalan pikiran-pertama, menyokong prinsip bahwa membutuhkan kecerdasan untuk membuat kecerdasan. Anak-anak menyanyi, “butuh seseorang untuk mengetahui seseorang,” tapi sebuah slogan yang lebih membujuk nampaknya akan menjadi” butuh yang lebih besar untuk membuat yang kurang besar.” Pandangan apapun yang terinspirasi oleh slogan ini akan segera menghadapi sebuah pertanyaan memalukan, bagaimanapun juga, seperti Hume tandaskan: Jika Tuhan menciptakan dan merancang semua hal-hal menawan, siapa yang menciptakan Tuhan? Supertuhan? Dan siapa yang menciptakan supertuhan? Supermahatuhan? Atau apakah Tuhan menciptakan dirinya? Apakah hal ini merupakan kerja keras? Apakah hal ini membutuhkan waktu? Jangan banyak tanya! Baiklah maka, kita dapat ganti bertanya apakah pelukan lemah lembut ini merupakan peningkatan atas hanya penolakan prinsip kecerdasan (atau rancangan ) musti bersemi dari kecerdasan. Darwin menawarkan sebuah jalan penjelasan yang sesungguhnya menghormati wawasan Paley: karya nyata berjalan merancang jam ini, dan karya ini tidaklah gratis. Richard Dawkins menyarikan pokoknya:

kompleksitas teratur merupakan hal yang sulit kita jelaskan. Begitu kita diperbolehkan hanya mendalilkan kompleksitas teratur, jika saja kompleksitas teratur mesin pengganda DNA/protein, cenderung gampang memunculkannya sebagai penghasil tapi kompleksitasnya lebih tertata…tapi tentu saja Tuhan apapun yang dapat merancang secara cerdas sesuatu yang kompleks seperti mesin tiruan DNA/protein pasti paling tidak telah sama kompleks dan teratur seperti mesin itu sendiri….menjelaskan asal-usul mesin DNA/protein dengan mempersembahkan Perancang supernatural sama persis dengan tidak menjelaskan apa-apa, karena ini meninggalkan asal-usul sang Perancang tidak terjelaskan (1986:141)

Seperti yang Dawkin katakan selanjutnya, “Satu hal yang membuat evolusi teori yang sedemikian rapi adalah bahwa teori ini menjelaskan bagaimana kompleksitas teratur dapat muncul dari kesederhanaan purba” (hal. 316). Tapi tetap, kesederhanaan purba itu menunjukan tatanan, dan apakah hukum alam itu sendiri? Tidakah mereka mengejawantahkan eksistensi pemberi-hukum? Freeman Dyson seorang fisikawan dan kosmologis menyebut pokok tersebut secara hati-hati: “saya tidak mendaku bahwa arsitektur alam raya membuktikan eksistensi Tuhan. Saya hanya mendaku arsitektur alam raya konsisten dengan hipotesa bahwa pikiran memainkan perananan esensial dalam penggunaanya (Dyson 1979:251). Karena, seperti Dawkin perhatikan, hipotesa bahwa pikiran (teratur, kompleks) memainkan peranan sedemikian rupa tidak mungkin dapat menjadi penjelasan, kita mesti bertanya: Dengan hipotesa lain apa arsitektur alam raya konsisten? Ada beberapa.

Karena semakin banyak yang dipelajari tentang perkembangan alam raya sejak dentuman besar, tentang kondisi-kondisi yang memungkinkan pembentukan galaksi dan bintang dan elemen berat yang darinya planet dapat terbentuk, fisikawan dan kosmologis telah semakin tercengang oleh eloknya kepekaan hukum alam. Kecepatan cahaya kurang lebih 300.000 km per detik. Bagaimana jika kecepatanya hanya 299.000 km per detik, atau 301.000 km per detik? Akankah itu banyak merubah sesuatu hal apapun itu? Bagaimana jika daya gravitasi satu persen lebih atau kurang ketimbang sekarang? Konstanta dasar fisika-kecepatan cahaya, konstanta daya tarik graviatas, daya-daya lemah dan kuat dari interaksi subatomik, konstantan Planck-memiliki nilai bahwa tentu saja mengizinkan perkembangan actual alam raya seperti kita ketahui alam raya telah terjadi. Tapi yang terjadi jika dalam imajinasi kita merubah sembarang satu dari nilai-nilai tersebut hanya dengan jumlah sedikit, maka kita menempatkan alam raya yang di dalamnya tidak ada salah sau darinya dapat telah terjadi, dan sesungguhnya di dalamnya jelas tidak ada serupa makhluk hidup (life-like) dapat muncul: Tanpa planet, tanpa atmosfir, tanpa kemampatan sama sekali, tanpa elemen-elemen kecuali hydrogen dan helium, atau mungkin bahkan tak ada hal tersebut-hanya suatu plasma panas membosankan, benda-benda sama saja, atau sebuah ketiadaan yang sama membosankanya. Jadi bukankah ini fakta yang mengagumkan bahwa hukum-hukum tersebut begitu tepat untuk kita ada? Sesungguhnya, mungkin dapat ditambahkan, kita hampir tidak membuatnya!

Apakah fakta mengagumkan ini membutuhkan pejelasan, dan jika begitu, penjelasan macam apa yang mungkin diterima? Menurut prinsip anthropik (manusiawi), kita diberi hak untuk menarik fakta-fakta perihal alam raya dan hukumnya dari fakta tak terbantahkan bahwa kita (kita anthropo, kita makhluk manusia) di sini untuk melakukan penyimpulan dan penagamatan. Prinsip anthropik tiba pada beberapa selera. Pada “bentuk yang lemah” prinspip ini merupakan sebuah suara, tak berbahaya, dan kadang berguna diterapkan pada logika dasar: jika x merupakan kondisi niscaya untuk eksistensi y, dan y ada, maka x ada. Orang-orang yang percaya Tuhan dalam versi terkuat yang ditawarkan apapun dari prinsip anthropik pikir mereka dapat menarik kesimpulan sesuatu yang sangat bagus dan mengejutkan dari fakta bahwa kita pengamat berkesadaran ada di sini-contohnya, bahwa dalam beberapa tataran alam raya ada untuk kita, atau mungkin bahwa kita ada sehingga alam raya seluruhnya dapat ada, atau bahkan bahwa Tuhan menciptakan alam raya sedemikian rupa sehingga kita menjadi mungkin. Ditasrikan dengan cara ini, usulan-usulan ini merupakan usaha-usaha mengembalikan argumen rancangan Paley, menyasar ulang hal ini untuk hukum fisika paling umum alam raya, bukan konstruksi tertentu yang dimungkinkan hukum-hukum tersebut. Di sini, sekali lagi, gerakan balasan Darwinian tersedia.

Yang paling keras kepala adalah bahwa entah bagaimana mungkin telah ada semacam reproduksi yang berbeda seluruh alam raya-alam raya, dengan beberapa jenis memiliki lebih “keturunan-keturunan” ketimbang yang lainya, karena hukum alam alam raya tersebut lebih subur. Penyambung lidah Hume, Philo, mempercandakan gagasan ini, dalam Dialogues Concerning Natural Religion, saat dia membayangkan tuhan-perancang yang jauh dari cerdas:

Dan betapa pastinya muncul keterkejutan pada kita, saat kita mendapati dia (Tuhan-perancang, pent) sebuah mesin bodoh, yang meniru yang lainya, dan meniru dari seni, yang, melalui sebuah pergantian zaman yang panjang, setelah berkali-kali percobaan, setelah berkali-kali percobaan, kesalahan, perbaikan, perenungan, dan kontroversi, telah secara bertahap meningkat? Banyak dunia mungkin telah dikerjakan dengan ceroboh dan rusak, melalui keabadian, kesalahn dalam sistem ini adalah kegagalan: Banyak jerih payah hilang: Banyak percobaan dibuat tak berbuah: Dan sebuah peningkatan perlahan, tapi berlanjut dilakukan selama zaman tak terbatas pembuatan-dunia (Bagian V)

Hume mempertalikan “peningkatan berkelanjutan” pada bias pilihan minimal “mekanik bodoh,” tapi kita dapat menggantikan mekanik bodoh dengan sesuatu yang bahkan lebih bodoh tanpa menghilangkan kekuatan peningkatnya: Proses Darwinian yang secara murni proses Darwinian algoritmik[1] percobaan-dunia ([1] Algoritmik : prosedur penyelesaian masalah dengan membuat prosedur logis langkah demi langkah untuk menyelesaikan permasalahan matematis dalam jumlah langkah-langkah terbatas, sering melibatkan pengulangan operasi dasar yang sama.pent). Hume jelas-jelas tidak berpikir apapun juga kecuali hal ini merupakan fantasi filosofis yang menghibur, tapi gagasanny akhir-akhir ini telah dikembangkan dalam beberapa rincian oleh fisikawan Lee Smolin (1992). Gagasan dasarnya bahwa bentuk-bentuk tunggal yang diketahui sebagai lubang-lubang hitam efeknya tempat-tempat lahir anak cucu alam raya-alam raya, yang di dalamnya konstanta fisik dasar akan sedikit berbeda, dengan cara-cara acak, dari konstanta fisik di alam raya induk. Jadi, menurut hipotesa Smolin, kita memiliki reproduksi dan mutasi yang berbeda, dua ciri inti dari algoritme pemilihan Darwinian. Alam raya-alam raya tersebut yang telah terjadi akan memiliki kontanta fisikal yang mendorong perkembangan lubang hitam akan memiliki akibat memiliki lebih banyak anak cucu, yang akan memiliki lebih banyak anak cucu, dan begitu selanjutnya-itulah langkah seleksi. Perhatikanlah bahwa tidak ada mentah matang dalam scenario ini; semua alam raya-alam raya hidup dan “mati” dalam kurun waktu, tapi beberapa hanya memiliki anak cucu. Menurut gagasan ini, maka, tidak hanya merupakan kebetulan menarik bahwa kita tinggal di sebuah alam raya yang di dalamnya ada lubang hitam-lubang hitam. Tapi ini juga bukanlah keniscayaan logis yang absolut; ini lebih semacam perumpamaan mendekati-keniscayaan yang Anda temui dalam catatan evolusioner apapun. Tautanya, Smollim mendaku, adalah karbon, yang memainkan sebuah peranan baik dalam runtuhnya awan-awan gas (atau dengan kata lain, kelahiran bintang-bintang, tanda lahirnya lubang-lubang hitam) dan, tentu saja, dalam keahlian teknik molekuler kita.

Apakah teori itu dapat diuji? Smolin menawarkan beberapa prediksi yang akan, jika tidak dibenarkan, menyingkirkan gagasanya dengan cukup baik: haruslah semua variasi-variasi “mendekati” konstanta fisik dari nilai-nilai yang kita nikmati mesti memberi alam raya-alam raya yang di dalamnya lubang-lubang hitam kurang mungkin atau kurang sering daripada dalam milik kita. Singkatnya, dia berpikir bahwa alam raya kita mesti mengejawantahkan paling tidak sebuah keoptimalan yang lokal, jika tidak global, dalam kompetisi pembuatan-lubang-lubang hitam. Masalahnya adalah terlalu sedikit rintangan-rintangan, sejauh dapat saya lihat, pada apa yang sebaiknya diperhitungkan sebagai “nyaris” variasi dan kenapa, tapi mungkin uraian lebih jauh pada teori ini akan memperjelas ini. Tidak perlu dikatakan, sulit mengetahui apa yang membuat gagasan ini namun, terlepas apapun keputusan sesungguhnya para ilmuwan, gagasanya telah menyajikan pendukung sebuah pokok fasafah. Feeman Dyson, dan yang lainya yang berpikir mereka melihat sebuah pola sangat hebat dalam hukum-hukum fisika, mungkin tergoda membuat kesalahan taktis dari bertanya pertanyaan retoris, “Apalagi selain Tuhan yang mungkin dapat menjealskanya?” Smllin menawarkan gagasan menggemboskan secara halus. Jika kita mengikuti jalur Darwinian hingga setapak ini, Tuhan Pencipta pertama-tama berubah menjadi Tuhan Pemberi Hukum, yang kemudian dapat dilihat bergabung dengan Tuhan Penemuhukum, yang tidak menciptakan hukum-hukum alam, tapi sesungguhnya hanya tersandung sepanjang mereka dalam rangkaian coba-coba buta alam raya-alam raya. Sumbangsih Tuhan dihipotesiskan mejadi semakin kurang personal-dan maka semakin siap dilakukan oleh sesuatu yang tak berpikiran dan keras kepala!

Tapi seumpama, demi kebaikan argumen, bahwa spekulasi Smolin semuanya cacat; seumpama seleksi alam raya-alam raya tidak berjalan sama sekali. Ada yang lebih lemah, spekulasi semi-Darwinian yang juga menjawab pertanyaan retoris secara tepat guna. Hume juga memainkan gagasan yang lebih lemah ini, dalam bagian VIII Dialoguesnya.

Alih-alih mengandaikan materi tak terbatas, seperti dilakukan Epicurus, mari andaikan materi terbatas. Sebuah jumlah terbatas partikel hanya mudah sekali terkena perubahan terbatas: Dan ini pasti terjadi, dalam durasi abadi, bahwa setiap kemungkinan tatanan atau posisi pasti dicoba berkali-kali tak terbatas jumlahnya…..

Seumpama…materi dilemparkan dalam posisi apapun, oleh daya buta, tak terarah; ini bukti bahwa posisi pertama ini patilah dalam semua kemungkinanya yang paling membingungkan dan paling kacau dibayangkan, tanpa kemiripan apapun dengan karya penemuan manusia, yang, bersama dengan sebuah bagian-bagian simetris, menemukan dan menyesuaikan alat-alat untuk tujuan-tujuan dan sebuah kecenderungan untuk mempertahankan-diri….[S]eandainya, bahwa daya penjalan, apapun itu, masih berlanjut dalam materi….Maka alam raya berjalan terus selama banyan zaman dalam urutan chaos dan tak teratur yang berlanjut. Tapi apakah tidak mungkin bahwa alam raya mungkin mapan pada akhirnya…? Mungkinkah kita tidak berharap untuk sebuah posisi tersebut, atau lebih baik diyakinkan akan posisi tersebut, dari revolusi abadi materi tanpa panduan, dan tidakah mungkin hal ini mejelaskan semua kebijaksanaan dan penemuan yang muncul, yang ada di dalam alam raya?

Gagasan ini tidak memanfaatkan versi penciptaan sama sekali, tapi hanya menarik perhatian pada fakta bahwa kita memiliki keabadian untuk bermain denganya. Tidak ada jatuh tempo lima-milyar-tahun dalam hal ini, cara adanya evolusi hidup di Bumi. Beberapa versi spekulasi telah dipertimbangkan dengan serius oleh fisikawan dan kosmologis beberapa tahun terakhir. John Archibald Wheeler (1974), contohnya, telah mengusulkan bahwa alam raya terombang-ambing mundur dan maju selamanya: sebuah dentuman besar diikuti oleh pengembangan, yang diikuti oleh pemampatan menjadi sebuah remukan besar, yang kemudian diikuti oleh big bang lainnya, dan begitulah selamanya, dengan vatiasi acak dalam konstanta dan parameter penting lainya terjadi dalam setiap ombang-ambingnya. Setiap aturan yang mungkin dicoba berkali-kali tak terbatas, dan juga setiap cara dengan setiap corak, baik yang “masuk akal” dan yang tidak masuk akal, bergerak tanpa aturan, bukannya sekali tapi berkali-kali tak terbatas.

Sulit percaya bahwa agagasan ini secara empiris dapat diuji dalam cara bermakna apapun, tapi kita sebaiknya menyediakan putusan. Variasi-variasi atau pengembangan-pengembangan tema yang mungkin memiliki implikasi yang dapat dibenarkan atau tidak dibenarkan. Sementara ini perlu untuk mencatatat bahwa rumpun hipotesa-hipotesa sungguh memiliki kebajikan memperluas prinsip penjelasan yang bekerja demikian baik dalam wilayah teruji seperti apapun juga. Konsistensi dan penyederhanaan adalah sokongannya. Dan bahwa, sekali lagi, hal tersebut tentu saja cukup menumpulkan daya tarik alternative tradisional. Di sinilah kenapa: jika alam raya terstruktur sedemikian rupa sehingga seuah ketakterbatasan “hukum-hukum fisika” yang berbeda dapat dicoba dalam kepenuhan waktu, kita akan sesat berpikir bahwa ada apapun yang khusus perihal menemukan diri kita sendiri dengan hukum-hukum yang secara peka tertata indah. Hal ini harus terjadi sesungguhnya, dengan atau tanpa bantuan dari Tuhan yang ramah. Ini bukanlah sebuah argumen untuk kesimpulan bahwa alam raya merupakan, atau pastilah merupakan, tersususn sedemikian rupa, tapi hanya sebuah argumen untuk kesimpulan yang lebih rendah hati bahwa tak ada sifat “hukum alam” yang dapat diamati dapat mejadi begitu tidak ringkih pada alternatif ini, tafsiran turunan.

Begitu hipotesa-hipotesa yang tadinya spekulatif, hipotesa Darwinian yang semakin ramping dirumuskan, hipotesa-hipotesa tersebut menyajikan-dalam gaya Darwinian klasik-untuk membebaskan dengan langkah kecil tugas penjelasan yang menghadapi kita. Semua yang tertinggal dalam kebutuhan akan penjelasan pada titik ini adalah sebuah kemolekan atau kehebatan yang pasti tercerap di hukum fisik yang dapat diamati. Jika Anda ragu bahwa hipotesa ketidakterbatasan varian-varian alam raya sesunggunya dapat menjelaskan kemolekan ini, Anda sebaiknya merenungkan bahwa hal ini memiliki paling tidak klaim sebanyak seperti pertanyaan-tidak-menuntut penjelasan sebagaimana alterfnatif tradisional; kali ini Tuhan telah didepersonalisasi hingga titik menjadi suatu prinsip abstrak dan abadi dari kecantikan dan kebaikan, bukan sebuah kecerdasan atau pembuathukum atau bahkan penemuhukum tapi paling bagus semacam pembawa acara, susuah melihat bagaimana eksistensi Tuhan dapat menjelaskan segalanya. Apa yang akan dituntut sebagai “penjelasan” yang tidak telah diberikan dalam deskripsi fenomena indah untuk dijelaskan? Sudut pandang Darwinian tidak membuktikan bahwa Tuhan-dalam penyamaran apapun-tidak dapat ada, tapi hanya jika kita tidak punya alasan yang baik untuk berpikir Tuhan sungguh ada. Bukan pula reduksi ad absurdum klasik, maka, tapi bagaimanapun juga sebuah tantangan rasional yang mengurangi pilihan-pilihan orang yang percaya pada Tuhan hingga dasar minimalis secara absurd. Seperti yang diungkapkan Reverend Mackerel, dalam novel komik peter De Vries, The Mackerel Plaza (1958), “Merupakan bukti terakhir kemahakuasaan Tuhan bahwa dia tidak perlu ada untuk menyelamatkan kita.”

Biologi evolusioner juga mendukung ateisme secara tidak langsung dengan menyediakan sebuah kerangka penjelasan untuk apa yang kita mungkin sebut asal-usul (genealogy) teology. Karena percaya pada Tuhan tidak dibenarkan oleh alasan ilmiah atau logis apapun, tapi paling tidak bumbu yang hampir kompak di peradaban manusia, apa yang menjelaskan kelestarian kepercayaan ini? Hal ini merupakan bagian yang diabaikan dari beban bukti bagi ateis: tidak hanya menunjukan kesalahan dan kemeraguan dalam berbagai argumen yang telah ditawarkan mendukung eksistensi Tuhan, tapi menjelaskan kenapa proposisi yang begitu meragukan lebih dipilih oleh siapapun pertama kali. Belum pernah ada kekurangan hipotesis membebaskan ditawarkan selama berabad-abad: neurosis yang merupakan produk peradaban tak terhindarkan, sebuah konspirasi secara akhir pemuka agama egois, dan kebodohan belaka, contohnya, merupakan prasangka lestari yang populer. Karya-karya terbaru dalam ilmu social evolusioner (Boyer 2001; Atran 2002; Dennet 2006) menunjukan bahwa ada hipotesa yang lebih menarik dan lebih masuk akal- dan secara ilmiah terbukti- untuk diburu.

references

Atran, Scott. 2002. In Gods We Trust: The Evolutionary Landscape of Religion. New
York: Oxford University Press.
Boyer, Pascal. 2001. Religion Explained: The Evolutionary Origins of Religious
Thought. New York: Basic Books.
Darwin, Francis. 1911. The Life and Letters of Charles Darwin. 2 vols. New York: Appleton (original edition, 1887).
Davies, Paul. 1992. The Mind of God. London: Simon and Schuster.
Dawkins, Richard. 1986. The Blind Watchmaker. London: Longmans.
De Vries, Peter. 1958. The Mackerel Plaza. Boston: Little, Brown.
Dembski, William. 2005. “In Defense of Intelligent Design.” Http://www/.designinference.com. Forthcoming in Philip Clayton (ed)., Oxford Handbook of Religion and Science.
Dennett, Daniel. 1975. “Why the Law of Effect Will Not Go Away.” Journal of the Theory of Social Behaviour 5: 179–87.
Dennett, Daniel. 1995. Darwin’s Dangerous Idea. New York: Simon & Schuster.
Dennett, Daniel. 2005. “Show Me the Science.” New York Times op/ed page, August 28, 2005.
Dennett, Daniel C. 2006. Breaking the Spell: Religion as a Natural Phenomenon. New York: Viking Penguin.
Descartes, Rene. 1641. Meditations on First Philosophy. Paris: Michel Soly.
Dewey, John. 1910. The Influence of Darwin on Philosophy. New York: Henry Holt; Bloomington: Indiana University Press, 1965.
Dyson, Freeman. 1979. Disturbing the Universe. New York: Harper and Row.
Gould, Stephen Jay. 1985. The Flamingo’s Smile. New York: Norton.
Gregory, Richard L. 1981. Mind in Science: A History of Explanations in Psychology and Physics. Cambridge: Cambridge University Press.
Hume, David. 1779. Dialogues Concerning Natural Religion. London.
MacKenzie, Robert Beverley. 1868. The Darwinian Theory of the Transmutation of Species Examined. London: Nisbet&Co. Quoted in a review, Athenaeum, no. 2102 (February Cool: 217.
Paley, William. 1800. Natural Theology. Oxford: J. Vincent.
Rachels, James. 1991. Created from Animals: The Moral Implications of Darwinism.
Oxford: Oxford University Press.
Schr ¨ odinger, Erwin. 1967. What Is Life? Cambridge: Cambridge University Press.
Smolin, Lee. 1992. “Did the Universe Evolve?” Classical and Quantum Gravity 9:173–91.
Wheeler, John Archibald. 1974. “Beyond the End of Time.” In Martin Rees, Remo
Ruffini, and John Archibald Wheeler (eds.), Black Holes, Gravitational Waves and Cosmology: An Introduction to Current Research. New York: Gordon and Breach.
sumber

Admin
Admin

Jumlah posting : 225
Join date : 17.04.11

Lihat profil user http://akalbudiislam.forumid.net

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik