Silahkan masukkan username dan password anda!
Login

Lupa password?

Latest topics
» Ada apa di balik serangan terhadap Muslim Burma?
by Dejjakh Sun Mar 29, 2015 9:56 am

» Diduga sekelompok muslim bersenjata menyerang umat kristen
by jaya Wed Nov 27, 2013 12:30 am

» Sekitar 6.000 orang perempuan di Suriah diperkosa
by jaya Wed Nov 27, 2013 12:19 am

» Muhammad mengaku kalau dirinya nabi palsu
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:53 pm

» Hina Islam dan Presiden, Satiris Mesir Ditangkap
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:50 pm

» Ratusan warga Eropa jihad di Suriah
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:48 pm

» Krisis Suriah, 6.000 tewas di bulan Maret
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:46 pm

» Kumpulan Hadis Aneh!!
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:43 pm

» Jihad seksual ala islam!
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:40 pm

Social bookmarking

Social bookmarking Digg  Social bookmarking Delicious  Social bookmarking Reddit  Social bookmarking Stumbleupon  Social bookmarking Google  Social bookmarking Blinklist  Social bookmarking Blogmarks  Social bookmarking Technorati  

Bookmark and share the address of Akal Budi Islam on your social bookmarking website

Bookmark and share the address of on your social bookmarking website

Pencarian
 
 

Display results as :
 


Rechercher Advanced Search

Poll
Statistics
Total 40 user terdaftar
User terdaftar terakhir adalah tutunkasep

Total 1142 kiriman artikel dari user in 639 subjects
Top posting users this month

User Yang Sedang Online
Total 2 uses online :: 0 Terdaftar, 0 Tersembunyi dan 2 Tamu :: 1 Bot

Tidak ada

[ View the whole list ]


User online terbanyak adalah 23 pada Sat Jun 04, 2016 11:25 pm

Al-Masih, Muhammad dan Saya

 :: Kesaksian :: Protestan

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Al-Masih, Muhammad dan Saya

Post  Murtadin on Fri Jun 24, 2011 10:42 am

Kisah nyata yang hakiki

Oleh Mohammad Al Ghazoli

Alihbahasa oleh Winston Mazakis

Diedisi oleh David W. Daniels

PESAN PENYUNTING

Nama-nama Surat dalam Al-Qur’an, yang dalam bahasa Arab artinya buku atau bab. Surat Yasin, misalnya, maksudnya sama dengan buku atau kitab Yasin. Qur’an sendiri artinya adalah bacaan.

Naskah yang sedang Anda baca ini adalah bentuk revisi dari tulisan asli karya Mohammad Al Ghazoli yang diterjemahkan ke dalam banyak bahasa, salah satunya bahasa Inggris oleh Dr. R. Winston Mazakis. Karya Ghazoli (dan terjemahan Mazakis) mendeskripsikan arti dari bahasa Arab yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadits sering kali tidak tampak dalam terjemahan Inggris. Kaum Muslim mengimani bahwa tidak ada satupun terjemahan Al-Qur’an yang dapat menjadi pegangan resmi; semua terjemahannya dinamakan sebagai “upaya menjelaskan” (interpretation).

Saya telah menambahkan referensi tambahan yang telah mengkonfirmasikan sumber-sumber Al Ghazoli, dari Al-Qur’an[1], Hadits, Sunah

- David W. Daniels -

NB. Terjemahan kedalam bahasa Indonesia ini telah diringkas dari aslinya, hingga pasal yang kesepuluh, dengan beberapa catatan tambahan disetiap pasal guna menerangi. Dalam hal ada rujukan Hadits Shahih Bukhari tambahan dalam peringkasan ini, maka hal itu terambil dari terjemahan H.Zainuddin Hamidy cs, Volume I-IV, terbitan “Wijaya, Jakarta, edisi ke-13.

Pendahuluan Tentang "Saya"

1. Rasul Allah atau Manusia yang Dirasulkan?

2. Dua puluh tiga Kali Pernikahan Muhammad

3. Sang Diktator, Raja Rasisme

4. Terorisme dan Intimidasi dalam Islam

4. Al-Qur'an Wahyu Allah atau Ciptaan Manusia?

6. Yesus Kristus versus Muhammad

7. Al-Masih dalam Al-Qur’an

8. Salib dan Yang Tersalib

9. Apakah Alkitab Diubah?

10. Betapa Al-Qur’an Memutar-balikkan Alkitab

Diperuntukkan bagi kedua saudari saya

Bagi gereja kecil saya di sebelah selatan Chicago

Bagi kenangan Almarhum ayah, meninggal sebagai Muslim di Mesir

Bagi semua umat Muslim, secara khusus dunia Arab

Bagi semua yang terhilang dan tersesat,

Saya persembahkan buku ini dengan segala kerendahan hati

Pendahuluan Tentang “Saya”

Saya seorang pria yang telah kehilangan arah selama lebih dari empat puluh tahun, dan telah menenggelamkan diri dalam ketidak-pedulian mutlak, berjalan tanpa arah dan tujuan, dan dalam dosa. Saya adalah seorang bayi yang menanyakan dirinya, sebelum bertanya ke orang lain, mengenai arti dari eksistensi, kelahiran dan kematian.

Saya adalah seseorang yang berjalan di jalan yang panjang, mencari kebenaran di semua sudut dan semua jalan. Siapa itu Musa, Yesus dan Muhammad! Akhirnya sampai kepada kesadaran yang mendalam, bahwa diri saya selama 40 tahun telah tertawan dalam sel kebanggaan pada sebuah penjara besar yang bernama ketidak-jelasan dalam agama bangsa saya.

Saya telah menyelesaikan studi tingkat universitas, menerima gelar Master dalam Ekonomi dan Ilmu Politik di Mesir. Dan memulai menitih karier pada bisnis manajemen penerbitan di sebuah koran Arab. Dua tahun kemudian saya menjadi pemimpin editor, lalu bekerja selama lima tahun sebagai penasehat pers untuk seorang presiden Arab.

Saya telah menulis lebih dari 2000 artikel yang diterbitkan di koran serta majalah Arab dan Islam, untuk berbagai agen pers Arab dan internasional.

[2] dan tulisan lainnya, untuk mendokumentasikan penelitian sahihnya. Saya telah menambahkan pula catatan kaki yang memperjelas hal-hal yang mungkin sudah banyak diketahui oleh kaum Muslim pada umumnya, namun tidak diketahui oleh sebagian kecil lainnya.[3] Saya telah menerbitkan sepuluh buku mengenai ekonomi, sosiologi dan politik yang menjangkau pasar dunia Arab maupun internasional. Dan Sebagian telah diterjemahkan dalam tiga bahasa.[4] Sebagai seorang Muslim, Saya adalah salah seorang yang telah mengkritik Taurat dan Injil dalam lebih dari satu kuliah umum dan penelitian serta mengulangnya seperti seekor burung Beo bahwa Alkitab telah dirubah dan dipalsukan!

Saya adalah seseorang yang pintunya diketok oleh seorang saudara yang mengatakan, “Apakah Anda telah membaca Al-Qur’an dan Hadits Muhammad secara mendalam?” Setelah membaca, saya justru terkena penyakit ”kepala intelektual” yang menyakitkan, kemudian berakibat pada penulisan buku saya yang terakhir, Lost Between Reason and Faith (“Tersesat antara Nalar dan Iman”, diterbitkan hanya dalam bahasa Arab). Akibatnya, saya menemukan diri saya di luar batas-batas agama selama lebih dari sepuluh tahun. Selama waktu tersebut, saya hanya melihat ke surga karena pada saat itu saya selalu yakin bahwa di surga terdapat Tuhan.

Walaupun saya tersesat menurut ajaran Islam; ada seorang Kristen yang telah lahir baru meletakkan sebuah Alkitab di dalam tangan saya dan mengatakan: “Baca,” sama seperti yang telah dinyatakan bahwa sebuah ruh yang mengaku sebagai malakat “jibril” mengatakan kepada Muhammad di gurun Ghara. Saya membaca dan akhirnya awan-awan gelap menghilang dan terang matahari mulai memasuki hidup saya. Sebuah perjumpaan yang teramat berharga, seperti budak yang tersesat berjumpa dengan seorang tuan yang baik; domba yang tersesat menemukan seorang Gembala yang baik, yaitu Tuhan Yesus Kristus.

Bagaimana saya kemudian dapat mengenal Yesus Kristus sebagai Penyelamat dan Penebus saya? Perjumpaan saya secara pribadi dengan Yesus bukan sebuah kebetulan, karena saya telah berjalan sekian lama di jalan penuh duri; tetapi perjalanan saya dan pergulatan saya dengan iblis, jauh lebih lama. Perkenankan saya menjelaskan cerita saya dengan singkat; karena buku ini bukan mengenai kehidupan pribadi saya, tetapi lebih mengenai sebuah lilin yang ditujukan untuk menerangi jalan bagi mereka yang hidup dalam kegelapan dan hendak mencari cahaya kebenaran.

Allah Pembimbing dan Sekaligus Penyesat?

Ketika saya duduk di kelas 1 SMP, guru agama kami, Mahmood Qasem, mengatakan bahwa “Allah membimbing siapapun yang dia inginkan” dan “Allah mensejahterakan siapapun yang dia inginkan tanpa batas.” Saya mempunyai hubungan yang sangat baik dengannya. Sayangnya, hal tersebut tidak berlangsung lama, karena suatu hari dia mengatakan di kelas: “Allah mensejahterakan siapapun yang dia kehendaki tanpa batas.”

Kemudian dia mengkontradiksikan dirinya dengan mengutip ayat yang lain: “Carilah dengan rajin di tempat-tempat paling rendah dan makanlah makanannya, karena pada Dialah terdapat keputusan terakhir.” Ayat-ayat lain dari Al-Qur’an mengatakan bahwa Allah menyesatkan siapapun yang dia inginkan.

Kira-kira empat bulan kemudian, guru saya mengutip sesuatu yang mirip dengan yang sebelumnya, mengandung kontradiksi serupa. Dan saya kembali mempertanyakannya! Dan ia berjanji akan menjawab kemudian, tetapi sekali lagi ia tidak melakukannya. Sebaliknya ia malah memanggil ayah saya, dan mengatakan masalah saya kepadanya. Lantas sayapun mengutarakan pertanyaaan saya. “Ayah, di dalam Al-Qur’an terdapat ayat yang menyatakan bahwa Allah membimbing siapapun yang dia kehendaki dan menyesatkan siapapun yang dia kehendaki. Saya meyakini bahwa saya adalah salah satu dari mereka yang disesatkan oleh Allah.”

Itulah awal dari keraguan saya. Keraguan terus bertambah, namun dalam kesibukan kehidupan bisnis saya, saya mencoba untuk melupakannya. Namun saya mempunyai terlalu banyak pertanyaan yang butuh jawaban. Karena itu, 18 tahun yang lalu, saya mulai membaca Al-Qur’an dan Hadits (tradisi dari Muhammad dan pengikutnya). Saya mempelajari dengan mendalam kegiatan Muhammad dan penerus-penerusnya.

Setelah saya banyak membaca mengenai hal ini, lambat laun sebuah gambaran mulai tampak jelas. Saya menjadi yakin, bahwa Al-Qur’an adalah buku ciptaan manusia dan Muhammad bukan utusan Tuhan. Hubungan saya dengan agama telah berakhir dan saya tidak mempunyai ikatan dengan Islam, selain hidup dalam masyarakat Muslim. Saya berada dalam situasi yang pelik. Saya menyadari bahwa Islam bukanlah Kebenaran dan tidak mungkin merupakan Kebenaran. Tetapi dimanakah Kebenaran itu?

Setelah mempelajari secara mendalam Al-Qur’an dan Hadits Muhammad serta penerusnya, sebuah gambaran aneh mengenai Islam terbentuk dalam kepala saya. Bagaimana bisa Muhammad menguasai pemikiran dari lebih dari satu milyar orang di dunia ini? Tidakkah mereka bisa berpikir? Tidakkah mereka membaca? Jawabannya ada dalam pengalaman Muslim, juga muncul pada saya saat ini: “Ketakutan terhadap yang menakutkan” adalah sebuah prinsip yang diformulasikan oleh Muhammad, untuk memimpin dan menguasai hati manusia melalui ketakutan. Tetapi apa yang ditunjukkan oleh prinsip ini? Saya hanya bisa memastikan bahwa Muhammad, anak dari Abdullah, adalah salah satu orang jenius terbesar dalam sejarah. Dia menggunakan kecerdasaannya untuk memformulasikan sebuah prinsip yang sederhana namun licik, yaitu menakuti manusia melalui sebuah agama!

Karena menghadapi kesulitan di Mekah, dia hijrah ke Medina dengan 30 orang, dan jumlah pengikutnya bertambah dua kali lipat di sana. Namun kesulitan mulai menghimpit. Dimana dia bisa mendapatkan uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka? (Bagaimana dengan tempat tinggal, makan, dan pekerjaan?) Bagaimana membiayai pembangunan rumah-rumah baru setelah kematian Khadijah, lalu menikahi dua wanita dan membangun rumah bagi mereka? Enam bulan setelah kedatangannya di Medinah, rumahnya sudah bertambah menjadi lima.

Merasa harus bertanggung jawab, Muhammad ternyata memanfaatkan para pengikutnya untuk merampok suku-suku dan karavan yang berangkat dari Damaskus ke Mekah. Dia merampok karavan-karavan, dan membunuh siapa pun yang mencoba melawannya [sambil membagi jarahan sebagai sebentuk kemurahan Tuhan]. Kegiatan ini menjadi cara termudah untuk mendapatkan dana yang dibutuhkan. Semakin banyak dana yang tersedia, semakin banyak orang yang tergiur bergabung dengan kelompoknya. Tidak puas dengan perampokan karavan-karavan kecil, maka dia mulai merampok suku-suku dan desa yang lebih besar, kemudian beberapa kota. Dia mendistribusikan harta kekayaan hasil penjarahan kepada para pengikutnya, termasuk budak-budak dan wanitanya. Tidak ada batasan mengenai penyiksaan dan pembunuhan tawanan.

*[Dengan cerdik Muhammad mengubah konsep “jihad” yang semula dipahami para pengikutnya sebagai usaha keras untuk mengukuhkan iman – seperti doa dan puasa – kini menjadi “berperang dijalan Allah” dengan cara menyerang musuh-musuh (kafir) secara fisik dan metodis, sekalipun yang diserang nota bene masih punya hubungan famili dengan penyerang. Dan itu berhasil karena dikaitkan dengan perintah wajib dari Allah. Surat 2:216]

Dalam tiga tahun saja, Muhammad berhasil membentuk angkatan bersenjata sebesar 6.000 lebih di antara pengikutnya.

Pengaruh Muhammad pun menjadi kuat dan jumlah istrinya bertambah menjadi sebelas, ditambah enam gundik, dimana dia melakukan hubungan intim dengan mereka. Dikatakan bahwa dia mempunyai sekitar dua ratus pembantu dan pelayan. Tugas dari seseorang pelayan bernama Abd Al-Lah bin Mas’ud adalah untuk menjaga sepatunya. Dia mendapatkan kekayaan cukup banyak untuk membentuk sebuah pasukan. Muhammad harus mengamankan kedudukannya, sehingga “Jibril” turun membawa ayat-ayat dari Allah, tuhannya Muhammad, sesuai dengan keperluannya, dengan mengatakan bahwa siapapun yang meninggalkan Islam harus ditumpahkan darahnya (Surat 4:89). Inilah ayat yang diturunkan sebagai perlindungan mutlaknya dan memberikan kepadanya semua hak yang ia inginkan dan menghapus semua kewajibannya: “Terimalah apapun yang ditugaskan oleh Rasul kepadamu dan sangkal lah dirimu terhadap apa yang dia larang bagimu.” (Surat 59:7). Muhammad meyakini bahwa siapapun yang memeluk Islam dan kemudian berpikiran untuk meninggalkannya, ia pantas mati. Sedangkan Allah mengharuskan semua Muslim untuk taat kepada perintah Muhammad tanpa syarat. Semua orang tunduk dan takut... namun setiap orang mempunyai kewajiban tanpa batas waktu dan tempat untuk membunuh sesama Muslim yang mencoba meninggalkan Islam. *[“Kapanpun kamu menjumpai mereka (Muslim yang murtad), bunuhlah mereka...”, HS Bukhari IX/64]

Muhammad menanamkan filsafat “ketakutan terhadap yang menakutkan” dalam hati pengikut-pengikut sucinya. Kaum Muslim bertambah (dalam jumlah dan garangnya), namun meninggalkannya berarti kematian, bahkan tidak terkecuali di tangan kerabat dan teman terdekatnya. Jika tidak, mereka akan sangat dipermalukan.

Banyak orang memperingatkan saya untuk tidak mengumumkan keimanan saya. Tetapi jawaban saya selalu adalah: Saya berurusan dengan Tuhan yang sesungguhnya, yang namanya adalah Yesus Kristus, dan Alkitab menjamin saya:

“Sungguh, Dialah yang akan melepaskan engkau dari jerat penangkap burung, dari penyakit sampar yang busuk. Dengan kepak-Nya Ia akan menudungi engkau, di bawah sayap-Nya engkau akan berlindung, kesetiaan-Nya ialah perisai dan pagar tembok. Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang.” (Mazmur 91: 3-5)

Pertemuan

Setelah sekian lama menjadi Muslim yang tidak peduli di luar agama Muhamad, dan ketika Setan yakin bahwa saya tidak akan kembali ke agamanya. Dia mulai menteror dan menyerang saya. Pertama-tama dengan merampas harta kekayaan saya, kemudian dengan menghancurkan semua yang saya telah bangun. Mereka menyerang kesehatan saya hingga saya berada di titik hampir mati. Saya menghabiskan kebanyakan waktu saya di rumah sakit. Tak lama kemudian saya kehilangan uang dan nama baik saya.

Di tengah-tengah kezaliman ini, seorang nyonya menelepon saya dan mengatakan “Saya ingin bertemu dengan Anda.” Saya sungguh-sungguh tidak ingin menanggapinya. Namun dia kemudian menelepon lagi, dan kali ini saya memilih untuk menemuinya, walaupun saya teramat letih dan tubuh saya sedang sakit. Ketika saya menemuinya, dia meletakkan sebuah Alkitab di tangan saya. Saya membukanya secara acak dan hal pertama yang muncul di depan mata saya: “Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28). Saya terus membaca. Mengapa saya tidak pernah melihat buku ini, saat saya telah membaca ratusan buku? “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5: 44) Kata-kata indah ini tidak mungkin keluar dari mulut seorang manusia biasa, kecuali dari Tuhan yang Agung yang menyembuhkan orang sakit dan membangkitkan orang mati. Hebatnya lagi, Tuhan Yesus yang penuh kasih ini mengatakan: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup!” (Yohanes 14: 6)

Ya, saya menyerahkan jiwa saya kepada-Nya dan lihat ...! semuanya berubah. Semuanya dipulihkan secara bertahap kembali normal. Sepertinya saya memasuki sebuah lembah yang berbeda…sebuah lembah yang hijau permai. Saya merasakan suka cita, kedamaian dan kasih-Nya.

Sekarang saya hidup di dalam tangan Tuhan saya. Saya tidak puas hanya dengan bertemu Dia, memuji nama-Nya dan berdoa kepada-Nya. Adalah kewajiban saya kepada keluarga dan rakyat saya untuk menghantarkan mereka kepada Kebenaran lewat kesaksian tulisan ini:


Murtadin
Tamu


Kembali Ke Atas Go down

Re: Al-Masih, Muhammad dan Saya

Post  Murtadin on Fri Jun 24, 2011 10:46 am

Al-Masih (Kristus Yesus), Muhammad dan Saya

Saya harap Anda membacanya, karena di dalamnya, Anda akan menemukan penyembuhan untuk jiwa Anda dan mengerti bagaimana Anda dapat kembali kepada Tuhan yang sesungguhnya. Saya mengundang Anda untuk membaca, memahami dan membandingkan. Semoga Tuhan memberkati Anda.

1. Rasul Allah atau Manusia yang Dirasulkan?

Muhammad anak yatim piatu sejak kecil. Ia diasuh oleh kakeknya. Setelah kematian kakeknya, pamannya Abu Talib menjadi walinya, dari umur 8 hingga 25 tahun. Dia kemudian menikahi Khadijah. Abu Talib masih hidup hingga tahun kesepuluh dari “siar kenabian” Muhammad. Dia dan anak-anaknya merupakan pendukung terbesar Muhammad. Namun kita harus bertanya mengapa Abu Talib, pamannya sendiri, tidak mengakui kenabian Muhammad hingga ajalnya? Ketika ajal menghampiri Abu Talib, Muhammad memasuki kamarnya, dimana Abu Jahl dan Abd Alla bin Umia juga berada. Muhammad berkata: “Paman, katakanlah, ‘Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah.” Tetapi paman ini berkata, “Saya adalah pemeluk agama Abd Al-Muttalib (ayahnya).” Dia jelas menolak undangan Muhammad untuk memeluk Islam.

Apakah Abu Talib, seorang Yahudi, Kristen atau kafir? Beberapa sarjana mengatakan dia adalah seorang pagan yang mengimani Manat dan Uzza, dewi-dewi pujaan Mekah. Yang lain mengatakan dia simpatisan Kristen yang mengimani Al Masih dan Alkitab, buktinya terdapat dalam pernyataannya: “Orang-orang terbaik mengetahui bahwa Kutum (panggilan untuk Muhammad) adalah pengikut dari Musa dan Al Masih anak Maryam.” Walau demikian, Abu Talib tetap menolak untuk mengakui Muhammad sebagai nabi dan terus memanggil dia dengan sebutan Kutum.

Abu Jahl adalah paman kedua dari Muhammad, dikenal dengan nama Abu Al-Hakam,

Muhammad telah mencapai umur 25 tahun, dan belum juga menikah, walaupun umur rata-rata bagi kaum pemuda untuk menikah adalah 18 tahun. Ketika seorang pemuda mencapai umur 20-an tanpa menikah, dia biasanya dipertanyakan! Mengapa Muhammad tidak menikah hingga berumur 25 tahun? Ya, paman dari Muhammad (Abu Talib) ini teramat miskin. Semasa itu, Muhammad tidak mempunyai sesuatu apapun yang dapat membantu dirinya untuk menikah. Karena alasan ini, Muhammad tidak dapat menikah hingga datangnya seorang janda berumur 40 tahun dengan banyak harta. Namanya adalah Khadijah bint Khuwailid, seorang janda sekte Kristen yang mendapatkan banyak warisan dari suaminya. Pada pernikahannya, Abu Talib, pamannya membuat pernyataannya yang terkenal: “Terpujilah Allah yang telah melepaskan kita dari kekhawatiran dan kesulitan.”

Muhammad menikah setelah upacara kristiani dilaksanakan dalam salah satu biara. Dia tidak berani menikahi wanita lain selama Khadijah masih hidup, walaupun Khadijah hampir berumur 70 tahun pada saat kematiannya. Namun frustrasi serius muncul dalam diri Muhammad setelah kematian Khadijah, hingga dia menikahi dua gadis muda pada malam yang bersamaan: Aisha yang berumur sembilan tahun dan Sawdah bin Zam’ah yang berumur 27 tahun.



.

Murtadin
Tamu


Kembali Ke Atas Go down

Re: Al-Masih, Muhammad dan Saya

Post  Murtadin on Fri Jun 24, 2011 10:49 am

Panggilan Kenabian Muhammad

Kapankah pewahyuannya mulai? Bagaimana Muhammad mengaku bahwa dirinya adalah nabi? Siapa yang mengatakan kepadanya bahwa dia adalah Rasul Allah untuk bangsa itu? Kisahnya dimulai di gua Hira ketika Muhammad bertapa hingga terlelap. Lalu datanglah satu sosok (ruh) yang memaksanya membaca sesuatu hingga 3 x sambil mencekiknya setiap kali ia (Muhammad) menjawab ”aku tak bisa membaca”. Apa komentar para ahli dan sarjana Muslim tentang kisah ini?

Al-Halabi menulis

*[Dan bagaimana Khadijah mampu memastikan hal-hal tentang ruh dan kenabian, sementara dia hanya seorang awam-agama dan pedagang, dan bahkan belum tahu Islam?]

Al-Suyuti

Mempelajari sejarah Muhammad menimbulkan banyak pertanyaan. Tidak dapatkah si pembawa wahyu turun kepadanya tanpa menimbulkan banyak masalah? Tidakkah si malaikat dapat meyakinkan Muhammad bahwa dia adalah Rasul Allah? Apakah dia tidak mampu meyakinkannya mengenai panggilannya? Bagaimana mungkin malah istrinya yang meyakinkan Muhammad daripada si malaikat yang diutus itu? Tidak dapatkah malaikat menghilangkan kebingungannya, sampai-sampai dia mengira malaikat itu adalah setan? Bukankah malaikat tersebut dapat dengan mudah membuktikan bahwa dirinya adalah malaikat Tuhan, jika dia memang benar-benar demikian? Disinipun kita sudah menemukan kejanggalan luar biasa!

Tapi ada yang lebih janggal lagi: Bagaimana Muhammad dan Khadijah pada akhirnya yakin bahwa Muhammad adalah salah satu dari para nabi? [Sebuah testing yang berkonotasi sex dilakukan oleh Khadijah terhadap Ruh/ Jibril.]

Ibn Hisham telah menulis:

“Khadijah mengatakan kepada Muhammad, apakah engkau dapat mengatakan kepadaku tatkala kawan yang mengunjungimu (ruh/ Jibril) itu datang? Muhammad menjawab, ”Ya”. Ketika dia datang, Muhammad memberitahukan kepada Khadijah. Khadijah berkata lagi ”Apakah engkau melihatnya sekarang”? Muhammad menjawab, ”Ya”. Dia mengatakan, berbaliklah dan duduk di paha sebelah kananku. Muhammad pun melakukannya. Dia mengatakan kepadanya, ”apakah engkau masih dapat melihatnya”? Muhammad menjawab, ”Ya”. Khadija kecewa dan membuka kijabnya dan melemparkannya ke bawah, saat Muhammad sedang duduk di pangkuannya, Khadijah berkata kepada Muhammad: ”Apakah engkau masih dapat melihatnya”? Dan Muhammad menjawabnya, ”Tidak”. Khadijah berkata kepadanya: ”Yakin dan bersukacitalah, demi Allah, dia adalah malaikat dan bukan setan, karena setan tidak akan malu (dan menghilang jika wanita membuka baju), tidak seperti malaikat.”

[12] [13] Ini adalah ujian dari Khadijah untuk memastikan bahwa Muhammad adalah seorang nabi, dan bayangan tersebut adalah malaikat, bukan setan. Masuk akalkah ini?!

Semua nabi-nabi terdahulu tidak perlu diyakinkan mengenai wahyu dari Tuhan. Lalu mengapa cerita tersebut dibutuhkan untuk memastikan pemanggilan Muhammad sebagai nabi? Tidakkah Tuhan dapat memberikan semua pengetahuan tersebut kepada nabinya tanpa cerita-cerita dongeng yang aneh-aneh? Saya melihat keganjilan lainnya. Mengapa ruh yang diutus menurunkan wahyu itu harus mencekiknya hingga hampir mati, tiga kali? Cerita itu menimbulkan banyak pertanyaan dan keanehan.

*[Dan lagi, sebetulnya apa perlunya penyampaian teks tersebut harus mati-matian dipaksa baca oleh Muhammad yang memang ummi itu? Bukankah Qur’an sendiri diyakini diturunkan dengan ayat-ayat yang “terang”, dengan “lidah Arab yang jelas?” Surat 57:9, 26:195, dll.]

Al-Halabi mencatat:

“Setiap kali (bagian dari) Al-Qur’an turun kepada Muhammad, dia akan pingsan setelah sebelumnya dia gemetar dan merinding. Matanya tertutup dan mukanya letih dan dia akan mendengkur seperti unta. Hal-hal tersebut terjadi kepadanya sebelum pewahyuan turun kepadanya. Mereka juga berusaha melindunginya dari mantra si mata jahat.”

Dia juga mencatat:

“Pada waktu wahyu turun kepadanya, dahi Muhammad akan berlumuran keringat, bahkan pada hari-hari dingin, dan matanya akan menjadi merah seperti orang mabuk. Muhammad biasa mengatakan, Setiap kali saya menerima wahyu, aku berpikir bahwa aku akan mati.”

Setiap dokter cenderung memastikan bahwa hal-hal tersebut adalah tanda-tanda penyakit epilepsi. Mengapa seorang nabi besar mendapatkan serangan sejenis epilepsi ketika sebuah wahyu turun kepadanya? Yang seharusnya terjadi dalam setiap penampakan selayaknyalah kedamaian, suka cita, keyakinan dan kepercayaan. Dapatkah kita belajar mengenai sifat asli dari “Jibril,” yang justru memberikan dampak buruk seperti yang dirasakan oleh Muhammad?

Namun, apakah seorang malaikat benar-benar muncul di hadapan Muhammad? Atau itu adalah ciptaan imajinasinya sendiri? Saya yakin itu bukan malaikat. Pertama, malaikat Tuhan membawa damai sejahtera bukan ketakutan! Sebagai contoh, ketika malaikat datang ke Maria untuk menyampaikan berita tentang kelahiran dari Kristus, hal pertama yang dia katakan adalah, “Damai sejahtera atasmu.” Maria dipenuhi dengan kedamaian, iman dan suka cita. Dia tidak dicekik, ataupun mengalami pengalaman yang aneh-aneh, sakit kepala dan mata berputar-putar. Malaikat asli datang dengan kedamaian, bukan dengan gejala epilepsi!

Kedua

*[malahan digambarkan disitu bahwa ”Jibril” berkeliaran tanpa menurunkan wahyu atau entah apa kerjanya secara khusus. Bukankah kehadirannya tidak akan sembarangan, melainkan penuh makna, khidmat dan berotoritas? Dan bukan asal-asalan – bahkan tidak senonoh – seperti yang didongengkan itu? (Lihat Qs.53:4-14)]

Malaikat macam apa yang tidak menyadari hal sekecil ini?

Ketiga

2. 23 Kali Pernikahan Muhammad

Sebelum saya memasuki topik ini, fakta-fakta berikut harus terlebih dahulu diutarakan. Muhamad mengatakan: “Aku hanya manusia biasa seperti kamu.”

Al-Qur’an menyatakan bahwa Muhammad hanya seorang rasul, walaupun kaum Muslim menganggap dia sebagai seorang nabi agung. Namun dia dianggap seperti orang yang hidup dan mati sama seperti orang lain. Dengan kata lain, Al-Qur’an yang diturunkan kepada Muhammad tidak memberikannya karakteristik khusus, yang membedakan dirinya dengan manusia lain. Namun sangat aneh dan bertolak belakang, bahwa tiba-tiba Al-Qur’an memang membedakan diri Muhammad, dengan memberikannya lebih banyak hak keistimewaan dan sedikit kewajiban.

Sebagai contoh, Al-Qur’an memberikan kaum Muslim hak untuk menikahi maksimum empat orang istri. Namun Al-Qur’an menyatakan:

“Wahai, Nabi, sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan perempuan mu’min yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mu’min. Supaya tidak menjadi kesempitan bagimu”

Allah tidak cukup puas dengan hanya memberikan Muhammad banyak istri, dia juga memberikannya carte blanche (kewenangan penuh) untuk melakukan apapun yang dia inginkan dalam soal kawin-mawin ini. Allah tidak membatasi jumlah wanita yang boleh dinikahinya, sebagaimana yang dia perintahkan ke kaum Muslim lainnya. Namun, dia memberikan dirinya sendiri hak untuk mengambil wanita manapun yang diinginkannya, bahkan yang telah menikah, iapun masih memaksa si suami untuk meceraikan istrinya, ketika sang nabi menginginkan si wanita tersebut.

Salah satu ulama Muslim yang terkenal, Burhan El-Deen Al-Halabi, membahas hak-hak khusus dari Muhammad dalam bukunya yang terkenal, Al-Sira Al-Halabia. Al-Halabi mengatakan:

“Jika Muhammad menginginkan wanita yang belum menikah, dia mempunyai hak untuk memasukinya (menikahinya) tanpa upacara pernikahan dan tanpa saksi atau wali. Persetujuan wanita itu juga tidak diperlukan. Namun, jika wanita tersebut sudah menikah dan Muhammad menunjukkan keinginannya terhadap dirinya, adalah sebuah keharusan bagi suaminya untuk menceraikannya, agar Muhammad dapat menikahinya. Muhammad juga mempunyai hak untuk memberikan wanita yang dinikahinya itu kepada lelaki manapun yang ia pilih, tanpa persetujuan wanita tersebut. Dia bahkan juga dapat menikah pada musim lebaran, sebagaimana yang dia lakukan dengan Maimunah. Dia juga mempunyai hak untuk memilih dari para tawanan, siapapun yang dia inginkan, sebelum pembagian hasil jarahan perang.”

“Muhammad mengatakan bahwa dirinya adalah manusia biasa, demikian pula Al-Qur’an.” Lantas, bagaimana ia kemudian memberikan dirinya sendiri HAK yang begitu berlebihan? Sangat jauh dari perilaku Tuhan untuk menerima ketidak-adilan seperti itu, atau untuk menyetujui penghinaan seperti ini. Mungkinkah itu perilaku dari sang nabi besar penutup segala nabi? Namun ada Nabi lain (Isa Al-Masih) yang banyak disebut-sebut oleh Muhammad dalam Al-Qur’an justru menyatakan dalam ajarannya: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya.” (Matius 5:28) Bagaimana Anda melihat perbedaan yang luar biasa ini?!!!

Mengapa Allah memberikan Muhammad hak untuk bernafsu, menceraikan dan menikah, sedangkan dia tidak memberikan hak-hak tersebut kepada nabi-nabi yang lain? Tuhan yang Sejati tidak akan memberikan pengecualian atas hukum moral-Nya kepada siapapun.

Ingat, Muhammad memberikan dirinya hak untuk menikah tanpa saksi atau upacara pernikahan atau bahkan tanpa persetujuan wanitanya. Padahal di lain pihak menurut syariat Islam, apa yang dia sendiri bentuk merupakan tindakan-tindakan perzinahan! Para penzinah dan perzinahan tersebut akan berakhir dalam “api neraka.”

Ketika Muhammad ditanyakan mengenai ini, dia berkata “jibril” adalah saksinya. Kasihan “jibril”, tidakkah dia secara tidak adil ditunjuk, dipakai dan disalah-gunakan? Walaupun jika “jibril” dianggap sebagai saksi dalam pernikahan Muhammad, dimanakah saksi kedua yang dipersyaratkan oleh syariat Islam? Mengapa kita tidak melihat tanda tangannya dalam perjanjian pernikahannya? Dimanakah wali yang disyaratkan? Tidakkah persyaratan pernikahan dalam ajaran Islam diperlukan ketika Muhammad menikah? Bagaimana, wahai saudaraku Muslim melihat semua ini?

Allah memberikan Muhammad hak-hak khusus… dan tidak hanya dalam hal pernikahan sah nya saja. Tetapi Muhammad juga mempunyai “hak secara sah” atas semua wanita dalam arti kata yang sesungguhnya dan tidak ada seorang Muslim pun yang dapat membantah! Karena ketika timbul sebuah pertanyaan yang diajukan, maka “Jibril”pun turun dari surga dengan membawa ayat yang membenarkan tindakan-tindakan Muhammad.

Sangat penting untuk menyebutkan bahwa Muhammad berhubungan dengan tiga puluh orang wanita lebih, namun dikatakan bahwa dia menikah secara sah hanya dengan dua puluh tiga wanita. Bahkan para pengiringnya, enam diantaranya telah menawarkan diri mereka kepada sang nabi, namun hanya empat yang diinginkan.

1. Khadijah bint Khuwailid

[23] Ini tentu masuk akal, tetapi juga mengingat akan kemiskinannya. Empat orang anak perempuan lahir dari pernikahan pertamanya dengan Khadijah.[24] Ahli sejarah Muslim lain yang melaporkan fakta tersebut juga menyepakati bahwa Khawlah, anak perempuan Hakim Al-Silmiya bertanya kepada Muhammad: “Apakah engkau ingin menikahi seorang perawan atau seorang bukan perawan?” Khawlah mengatakan kepadanya: “Seorang perawan adalah Aisyah dan seorang bukan perawan adalah Sawda bint Zam’a; ambillah siapapun yang engkau inginkan.” Sang nabi menjawab, “Saya akan menikahi keduanya. Katakan kepada mereka.” Khawlah melakukannya dan Muhammad menikahi keduanya.[25]

Istri pertama Muhammad adalah Khadijah, anak dari Khuwailid. Dia adalah wanita yang cukup dikenal di Mekah, janda kaya yang mewarisi kekayannya dari suaminya. Ketika dinikahi Muhammad, umurnya 40-an dan Muhammad berumur 25 tahunan. Alasan pernikahan mereka cukup jelas. Muhammad miskin, dan pamannya, Abu Talib, menjadi walinya setelah kematian kakeknya, lebih miskin. Dengan alasan ini, Muhammad tidak dapat menikah, walaupun dia terlambat 5 tahunan dari lazimnya orang yang menikah pada umur 20 tahun. Pernikahan Muhammad dengan Khadijah dilakukan dengan mediasi dari Naufal, paman dari Khadijah dengan beberapa persyaratan pra-nikah termasuk menikah di dalam gereja. Pamannya, Abu Talib, sepakat terhadap persyaratan-persyaratan tersebut dan mengatakan “Terpujilah Allah yang mengambil kesusahaan kita dan menghilangkan kekhawatiran kita.” maksudnya bebas dari kemiskinan!

Ketika saya memasuki SMA, guru-guru agama selalu mengatakan bahwa Muhammad menikah dengan banyak wanita, untuk menguatkan Islam, untuk memperkayanya dengan darah suku yang baru dan untuk menguatkan hubungan antara kaum Muslim. Sangat jelas bagi saya dan murid lainnya bahwa guru-guru itu berbohong; dan asal bunyi saja! Mereka hanya mengulang apa yang dikatakan pendahulu-pendahulu mereka. Namun, kita mempelajari (dan akan diperlihatkan disini) bahwa tidak ada satupun pernikahan Muhammad yang sesuai dengan kesaksian guru-guru itu. Bahkan sebaliknya, semua pernikahan itu didasarkan pada keinginan pribadi dan hanya untuk memenuhi nafsunya, entah itu untuk uang, sebagaimana dengan Khadijah atau untuk kepuasan birahi seks. Apakah karakter demikian pantas disebut nabi besar?!!!

Dr. Aisha Abdul Rahman (dikenal dengan nama bint Al-Shati’) mengatakan dalam bukunya, The Wives of the Prophet (Istri-Istri Sang Nabi): “Muhammad menemukan di dalam Khadijah, belas kasih seorang ibu yang tidak dia dapatkan pada masa kecilnya.”

2. Aisyah bint Abu Bakar

Semua ahli sejarah Muslim sepakat bahwa Muhammad langsung menikah setelah kematian Khadijah.

Pengarang-pengarang lainnya agaknya telah membuat suatu kesalahan disini. Kenyataannya, Khawlah tidak menyebutkan Aisyah, melainkan mengatakan: “anak perempuan dari kawanmu Abu Bakar,” yang merujuk kepada anak perempuannya yang paling tua, Asma’ umur 18 tahun, dan bukan Aisyah. Tidak logis bagi Khawlah untuk merujuk kepada Aisyah yang baru berumur 6 tahun.

Tetapi Muhammad sendiri yang memilih untuk menikahi Aisyah yang berumur enam tahun daripada Asma’, kakak perempuannya!

Muhammad menikahi Aisyah ketika dia berumur 6 tahun, namun dia tidak melakukan hubungan badan dengannya hingga dia berumur 9. Dimanakah ada aturan moral di dunia ini yang mengizinkan seorang anak perempuan berumur 6 tahun untuk menikahi seorang laki-laki yang berumur lebih dari 50 tahun? Jika sesuatu seperti ini terjadi dalam sebuah masyarakat dengan hukum yang beradab, orang tersebut – bila ia waras – akan dilempar ke dalam penjara. Saya berharap cerita tersebut tidak benar, namun sayangnya, semua referensi Islam memastikan keaslian dan kebenarannya! Bagaimana Allah bisa sedemikian masa-bodo dan tidak adilnya, mengingat ulama Muslim membenarkannya: “Allah memilih dan menuntun dia dalam pernikahan - pernikahan tersebut?”

Kita membutuhkan sebuah jawaban yang datang dari hati nurani dan datang dari Kebenaran, bukan dari fanatisme buta, ketakutan dan harga diri.

*[Wahyu yang berkata “Aku hanya manusia biasa seperti kamu”, kembali diuji ketika Muhammad meninggal dan sekaligus menjadikan semua istrinya janda yang tidak boleh menikah lagi.]

Tatkala itu Aisyah baru berumur sekitar 18 tahun. Namun, janda muda ini, diharamkan untuk menikah lagi. Mantan Istri-istri sang nabi tidak diizinkan untuk menikah atau berpacaran lagi, sesuai dengan ajaran Al-Qur’an. Mengapa Allah melakukan ini? Adakah keadilan dan kasih sayang di dalam perintah itu? Saya tak tahu lagi bagaimana melanjutkan diskusi tentang nasib Aisyah, yang masa kanak-kanaknya sudah dikorbankan, dan kini masa janda mudanya masih dicekal!

[Kita teringat satu tantangan dalam website “ex-Muslim” Faith Freedom International, yang berkata: “Saya bersumpah akan kembali ke Islam jika ada Muslim di situs ini yang merelakan puteri mereka yang berumur 9 tahun untuk berbagi ranjang dengan saya sesuai dengan apa yang dicontohkan (sunnah) oleh Muhammad.]

3. Zainab bint Jahsy

Pernikahan ketiga Muhammad adalah sebuah tragedi moral terbesar, yang hanya berisi nafsu seks dan birahi belaka. Selagi Anda membaca, coba tanyakan pada diri Anda sendiri, “Dimanakah pertalian dan penguatan suku dalam sebuah perkawinan ini?” “Adakah hubungan antara pernikahan ini dengan kenabian?”

Khadijah, istri pertama dari Muhammad, membeli seorang budak bernama Zayd Ibn Haritha yang kemudian diberikannya sebagai hadiah kepada suaminya, untuk menjadi pelayannya. Namun setelah Muhammad mendapat panggilan kenabian, dia membebaskan Zayd dan mengadopsinya sebagai anak di muka umum, dimana dia berkata, “Zayd adalah anakku, saya mewarisinya dan dia mewarisiku.” Setelah itu, dia kemudian dikenal dengan sebutan “Zayd, anak dari Muhammad.” Singkat cerita, akhirnya, Zainab menikahi Zayd atas desakan Muhammad. Namun yang terjadi kemudian sangatlah aneh, mengejutkan dan menjijikkan.

Suatu hari Muhammad pergi untuk mengunjungi anak angkatnya, Zayd. Ketika dia memasuki rumah Zayd, dia sedang tidak ada di rumah. Muhammad melihat Zainab setengah telanjang dibalik tirai ketika dia sedang berpakaian. Muhammad menginginkannya, namun dia takut untuk masuk. Sebelum dia pergi, dia berkata kepadanya., “Terpujilah Allah yang dapat merubah hati seseorang.” Zainab senang dan kemudian memberitahukan kunjungan tersebut dan pernyataan Muhammad pada suaminya. Zayd langsung menemui Muhammad dan bertanya: “Apakah engkau menginginkan aku menceraikannya untukmu?” Muhammad menjawab: “Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah.” Pada awalnya merupakan sikap yang masih mulia dari Muhammad. Namun, yang terisi dalam hati dan jiwa Muhammad sangat berbeda dengan apa yang dikatakan mulutnya, karena dia benar-benar menginginkannya sebagaimana yang dicatat oleh Al-Zamkhashri: “Penampilan luar dari Muhammad berbeda dengan apa yang ada di dalamnya.”

Al-Qur’an menyatakan kepada kita bahwa Muhammad jatuh cinta dan menginginkan Zainab menjadi istrinya. Tetapi dia ragu terhadap perkataan orang tentang dirinya, mengambil istri dari anak angkatnya. Namun Allahnya Muhammad mendatanginya untuk memarahinya atas keragu-raguannya. Anehnya, justru Allah yang menginginkan wanita itu untuk meninggalkan suaminya dan melanggar semua norma moralitas, agar Muhammad bisa mendapatkannya. Ini jelas terlihat dalam Al-Qur’an:

“Dan, ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu telah memberi nikmat kepadanya: “Tahanlah terus istrimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zayd telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya, Kami kawinkan kamu dengan dia…”

Waktu tidak berlangsung lama antara Surat 33:36 (ketika Allah lewat Muhammad meyakinkan Zayd sebagai laki-laki mukmin untuk tetap dalam pernikahan yang dia walikan) dan Surat 33:37, dimana Allah berbalik memerintahkan Zayd untuk meninggalkan Zainab sehingga sang nabi itu dapat menikahinya. Apa yang mengakibatkan Allahnya sang nabi itu untuk merubah pikirannya? Apakah tuhan itu sebuah mainan di tangan Muhammad, sehingga sebuat ayat baru akan turun untuk meniadakan ayat yang datang sebelumnya?

*[Sungguh aneh, bahwa tuhannya Muhammad tidak merekonsiliasikan dan tidak mampu menolong kelangsungan keluarga Zayd-Zainab. Dan Muhammad tidak tampak membantu mendoakan pemulihan keluarga ini lewat kuasa Tuhan. Sebaliknya, Allah yang satu ini – seperti manusia saja – hanya merasa perlu buru-buru menggantikan kehancuran rumah tangga tersebut (yang adalah keluarga dari anak angkatnya Rasul Allah) dengan menetapkan perkawinan yang baru untuk Muhammad?]

Macam apakah tuhannya yang satu ini?

Dalam bukunya, The Life of Muhammad, Dr. Haykal menolak cerita tentang Zayd dan Zainab ini. Dia mendeskripsikannya sebagai sesuatu yang memalukan dan dia menuduh kaum misionaris dan peneliti Barat mengada-adakannya untuk menjatuhkan Islam dan nabinya. Ketika saya masih seorang Muslim, saya berharap Dr. Haykal benar dan semua cerita merendahkan terhadap Muhammad memang kebohongan belaka. Namun, kita harus menatap fakta pahitnya dan membaca jawaban Dr. bint Al-Shati’, seorang ulama Muslim yang cukup terkenal, yang menyatakan kebenaran apa adanya:

“Cerita tentang Muhammad, sang Rasul, yang mengagumi Zainab … dan bagaimana dia meninggalkan rumah Zainab dengan berkata, “Terpujilah Allah yang merubah hati seseorang”, diceritakan kepada kita oleh pendahulu-pendahulu yang baik seperti Imam Al-Tabari dalam buku sejarahnya dan oleh Abu Ja’far Ibn Habib Al-Nabeh dan yang dikasihi Al-Tabari, dan tetangga Allah, Al-Zamkhashri. Orang-orang tersebut mengkisahkan cerita ini sebelum dunia mendengarkan Perang Salib, penginjilan, dan misionaris Barat. ... Mengapa kita harus menyangkal bahwa sang Rasul adalah manusia yang melihat Zainab dan mengaguminya... Muhammad tidak pernah menyatakan dirinya sempurna, tanpa nafsu manusia. Sebagaimana dia bergairah ketika melihat Aisyah daripada istri-istrinya yang lain, dia mengatakan, “Allah, jangan salahkan aku karena tidak memiliki apa yang engkau miliki (kemampuan menahan diri).”

Semua kisah diatas adalah fakta, dibenarkan oleh para tokoh Muslim, bukan rekayasa misionaris Barat seperti dituduhkan oleh Haykal.

*[Bahkan pihak Muslim pulalah yang ingin menyembunyikannya atau – seperti halnya Ibn Kathir – menghapusnya dari khazanah Islam karena dianggap tidak sehat, “kami ingin menghapus beberapa halaman dari kisah tersebut, sebab tidak sehat, dan kami tidak akan sebut lagi”. (Ibn. Kathir, Tafsir, vol.3, p.491)]

Apakah seharusnya kita masing-masing memiliki tuhan dan “jibril” kita sendiri-sendiri agar kita dapat melakukan apa yang kita mau, dan menolak apa yang tidak kita inginkan, dengan berkedok bahwa tuhan yang memerintahkannya lewat “jibril” demi membenarkan tindakan kita?

Mari kita bandingan hal ini dengan kehidupan Raja Daud, “Nabi Daud” bagi kaum Muslim. Daud bernafsu atas istri orang lain. Namun betapapun dia disayangi oleh Tuhan, Tuhan tidak membiarkan perselingkuhan tersebut terjadi begitu saja hanya karena Daud adalah seorang nabi dan seorang raja. Sebaliknya, Tuhan menegur dan menghukumnya dengan keras. Ancaman Tuhan berkumandang di seluruh Israel (!) saat Dia berkata kepada Daud: “Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan menambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu.” (2 Samuel 12:10).

Daud menjawab dengan ratapan:

“Kasihanilah aku, ya Tuhan, menurut kasih setiaMu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmatMu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku…. Jadikanlah hatiku tahir, ya Tuhan, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!” (Mazmur 51:3-5, 12)

Dengan kata lain, Tuhan adalah Tuhan yang suci dan murni yang tidak berkompromi dan berkonsesi dengan dosa. Kesuciannya untuk dosa siapapun, baik itu Daud maupun Muhammad. Tuhan yang Sejati menghukum dosa dan tidak malah memberinya hadiah! Sebaliknya Muhammad melakukan apa saja yang ia mau dan itu absah saja.

Zainab sendiri menjelaskan:

“Setelah bercerai, langsung dan lihatlah, Rasul Allah memasuki rumah saya saat saya sedang tidak berjilbab dan saya bertanya kepadanya, “Apakah akan seperti ini tanpa wali atau saksi?” Dia menjawab kepada saya, “Allah adalah walinya dan “jibril” adalah saksinya.”

Akibat dari pernyataannya, Zainab menyombongkan diri di depan istri-istri Muhammad lainnya dengan mengatakan: “Ayah-ayahmu yang memberikan kamu dalam pernikahan, namun untuk saya, surgalah yang memberikan saya dalam pernikahan dengan Rasul Allah.”

Namun agar Muhammad bisa keluar dari issue sah tidaknya ia mengawini Zainab, kembali “jibril” siap sedia menurunkan ayat dari tuhannya, menyatakan bahwa dia tidak bukan mengadopsi Zayd seperti yang umum maksudkan. Sehingga, khusus menikahi Zainab sesungguhnya sah: “Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Ulama terpandang mencatat dalam bukunya, Al-Sira Al-Halabia: “Jika Muhammad bernafsu atas wanita yang sudah menikah, menjadi keharusan bagi suaminya untuk menceraikannya untuk dia (Muhammad).

[Sedangkan ada seorang Nabi lain yang justru mengatakan dalam otoritas dan kekudusanNya: “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya”. (Mat.5:27-28)]

Jadi dimanakah alasan-alasan yang dilemparkan para ulama bahwa pernikahan Muhammad hanya semata untuk menguatkan hubungan Islam antar suku? Dimanakah aspek “demi kepentingan Islam”nya?

4. Safiyah bint Huyay

Pernikahan Muhammad ke-4 adalah dengan Safiyah, anak perempuan dari Huyay, seorang Yahudi. Pada waktu itu adalah tahun ke-7 Hijrah,

Setelah serangan tersebut, Dihya Al-Kalbi, meminta kepada Muhammad atas beberapa tawanan wanita. Muhammad mengatakan: “Pergilah dan ambillah siapapun yang sesuai denganmu.” Dihya mengambil Safiyah, namun kebahagiaannya tidak berlangsung lama karena salah seorang anak buah mengatakan kepada Muhammad: “Wahai, Rasul Allah, apakah engkau memberikan Safiyah kepada Dihya? Hanya engkaulah yang berhak mendapatkannya.” Muhammad mengatakan: “Bawa Dihya dan Safiyah kemari.”

Ketika mereka datang kehadapannya dan dia melihat Safiyah yang cantik, dia berkata kepada Dihya, “Pergi dan ambillah wanita lain.” Dia kemudian memerintahkan pembantu perempuannya untuk menyiapkan Safiyah, sehingga dia dapat bersetubuh dengannya pada malam yang sama. Umm Salamah mendiskripsikan Safiyah demikian: “Saya tidak pernah melihat dalam hidup saya wanita yang lebih cantik dari Safiyah.”

Ketika Muhammad menikahinya, Safiyah baru berumur 17 tahun, dan masih dalam bulan pertama pernikahannya dengan Kinana. Muhammad berumur enam puluh dua tahun. Dan tiga tahun kemudian Safiyah menjadi seorang janda untuk kedua kalinya, pada saat Muhammad meninggal. Namun, beda dengan janda sebelumnya, kali ini dia tidak diperbolehkan untuk menikah lagi. (Beginikah model perkawinan yang di sunnah-kan Nabinya?) Dan Muslim masih juga mengimani bahwa sang nabi menikahi banyak wanita – sekalipun itu di bawah umur – adalah untuk memperkuat ikatan Islam atau karena nabi berbelas kasihan kepada mereka? Namun pandangan saya sekarang jadi jelas dan saya lebih mengerti, ketika diperhadapkan dengan pernikahan Khadijah, Aisyah, Zainab, dan Safiyah.

5. Juwairiyyah bint Al-Haris

Pernikahan yang ke-5 adalah dengan Juwairiyyah bint Al-Haris. Juwairiyyah berumur 20 tahun ketika Muhammad pada usia 59 menikahinya. (Ju

wairiyyah dinikahi satu tahun sebelum Safiyah). Aisyah, yang katanya dikenal sebagai “Ibu Orang Beriman” mengkisahkan” ceritanya:

“Ketika Rasul Allah (Muhammad) membagi-bagi tawanan dari anak-anak Mustaliq, Juwairiyyah diberikan kepada Thabit bin Qais.

Di manakah pertalian antara kaum Muslim dalam masing-masing pernikahan, terutama pernikahannya dengan seorang Yahudi? Apakah karena belas kasihan sehingga dia (Muhammad) menikahi bani asing, padahal dia telah menyogok Thabit dengan uang supaya dia membiarkannya sendiri? Ini adalah pertanyaan yang saya ajukan kepada kaum Muslim.

6. Umm Salamah

Pernikahan keenam dari Muhammad adalah dengan wanita cantik lainnya yang bernama Umm Salamah. Lagi-lagi Aisyah, korban pertama dari sang nabi besar, mengatakan: “Ketika Rasul Allah menikahi Umm Salamah, saya terpuruk dalam kesedihan besar saat dia membicarakan kecantikannya, namun ketika saya melihatnya, saya melihat apa yang dia gambarkan.”

Umm Salamah adalah anak perempuan dari saudara perempuan ‘Utsman bin Affan (khalifah yang ketiga). Ketika Muhammad pertama kali melihatnya di rumah ‘Utsman, dia lalu mengingininya. Dua puluh empat jam kemudian, nabi memerintahkan suaminya, Ghassan bin Mughira untuk membawa bendera di depan pada pertempuran berikutnya. Dia mela-kukannya dan dia tewas dalam pertempuran itu. Keesokan harinya, sang nabi besar itu menikahi Umm Salamah. Begitulah cara dia menjadi istrinya.

Aneh memang kehidupan dari sang nabi ini. Sungguh teramat ganjil bilamana semua itu atas perintah Allah demi agama yang diturunkannya! Dan terlebih ganjil lagi bilamana banyak ulama Muslim mengatakan itu adalah belas-kasihan sang Nabi kepada para janda perempuan!

Tuhan macam apa yang tidak mempunyai pekerjaan lain selain dari memastikan kehidupan seks sang nabi terpuaskan? Tuhan macam apa yang akan memastikan seorang suami dibunuh, atau seorang wanita diceraikan agar sang nabi dapat mendapatkan wanita yang dia inginkan? Tuhan saya Yang Maha Benar berada di atas hal-hal ini dan merataplah mereka ketika mereka berdiri di hadapan Tuhan Yang Sejati pada Hari Penghakiman. Apakah umat Muslim pernah memikirkan dengan jujur mengapa kekerasan terjadi dalam lingkaran-lingkaran Islam, yang diyakini sebagai agama pembawa damai dan rahmat bagi alam sejagat ini?

7. Sawdah bin Zam’ah

Ini adalah kisah mengenai pernikahan Muhammad dengan Sawdah bin Zam’ah. Dia adalah satu-satunya istri Muhammad yang tidak cantik. Namun, banyak ahli Muslim menggambarkannya sebagai seseorang yang baik hati dan sangat cantik di dalam.

Ketika Khadijah meninggal, Khawlah bint Hakim mendatangi Muhammad dan dia bertanya kepadanya, “Apakah engkau menginginkan seorang perawan atau janda?” Dia (Muhammad) meminta kedua-duanya. Yang perawan adalah anak perempuan Bakar dan yang bukan perawan adalah Sawdah. Namun dia terkejut setelah mengetahui, pada malam pernikahannya bahwa Sawdah tidak cantik. Muhammad marah dan memarahi Khawlah karena memperkenalkannya dengan dia. Ibn Hajar Asqalani menulis: “Khawlah, guna memperbaiki kesalahannya, menawarkan dirinya kepada dia (Muhammad), dan dia tinggal bersamanya sebagai suami dan istri, dan itu hanya terjadi dua bulan setelah pernikahannya dengan Sawdah.”

[38] [39] [40]

Dr. bint Al-Shati’ mengatakan dalam bukunya:

“Ketika suatu malam dengan Sawdah (dimana dia akan tidur dengannya), sang nabi memberitahunya tentang keputusannya untuk menceraikannya. Dia sangat terkejut mendengar berita itu dan dia merasa seolah-olah dinding-dinding sedang menimpanya. Dia memohon kepadanya, “Tolong, simpan aku, Wahai Rasul Allah.” Dia menjawabnya, “Dengan satu syarat, bahwa kamu memberikan jatah malam-malammu kepada Aisyah.” Daripada menghabiskan malam-malam tersebut dengan Sawdah, dia menghabiskannya dengan Aisyah ditambah dengan malam-malam lain yang sudah dijatahkan baginya. Sawdah sepakat, sambil mengatakan, “Mulai sekarang, saya tidak akan mengingini apa yang diinginkan oleh seorang wanita, karena saya memberikan jatah malam saya kepada Aisyah.” Akibatnya, Muhammad menyimpannya sebagai seorang istri, tetapi tidak lagi mengunjunginya.”

Hanya dialah istri Muhammad yang tidak cantik secara fisik. Namun, ia adalah yang paling cantik dalam karakter dan moral. Tetapi bagi sang nabi soal karakter, moralitas dan kecantikan jiwa sama sekali tidak disyaratkan. Dia malah mengancam akan menceraikannya, jika dia tidak setuju untuk memberikan jatah malamnya kepada Aisyah. Sawdah yang teramat malang...

8. Umm Habibah (Ramlah) bint Abu-Sufyan

Umm Habibah sebelumnya menikah dengan Ubayd-Allah bin Jahsh. Ubayd-Allah adalah anak dari bibi Muhammad sendiri, dan sekaligus adalah saudara kandung dari Zainab yang dikawini Muhammad seminggu sebelumnya, dan apa yang terjadi dalam acara perkawinan tersebut? Ternyata ia menantang Muhammad dengan berkata kepadanya: “Engkau bukanlah seorang nabi ataupun seorang Rasul Allah. Berhentilah mengatakan demikian. Saya mengimani Al-Masih karena Dia adalah Kebenaran, tetapi engkau adalah orang yang mementingkan diri sendiri.” Ubayd dipaksa untuk pergi dan Muhammad menikahi isterinya. Pada waktu itu, Umm Habibah adalah seorang wanita cantik, berusia dua puluh tiga tahun.

9. Maryam Qibtiyah (Maria, Kristen Mesir)

[41]

Kisah Muhammad dengan Maria orang Mesir agak berbeda. Amro bin Al-Aaz membawa sebuah surat dari Muhmmad kepada Al-Muqawqis, penguasa Mesir, dan memerintahkan untuk memeluk Islam. Mengetahui kelemahan Muhammad, agar tidak beresiko, dia memberikannya hadiah berupa dua orang saudara perempuannya yang sangat cantik. Jika bukan karena sebuah ayat Al-Quran yang turun sebelumnya yang melarang menikahi dua orang saudara perempuan, Muhammad mungkin akan melakukannya. Walaupun demikian, dia hampir melanggar ayat Allah itu, dan menikahi mereka berdua, jika bukan karena nasihat ayah mertuanya, Umar, yang menegurnya. Muhammad puas dengan Maria, mengunjunginya dan menghabiskan banyak waktu siang dan malam dengannya tanpa bosan-bosan.

Satu kali Maria ingin bertemu dengan Muhammad, jadi dia pergi untuk menemuinya di rumah istrinya, Hafsah, puteri dari Umar, yang sedang tidak ada di rumah pada waktu itu. Tetapi ketika Hafsah tiba-tiba pulang, dia menemukan Muhammad sedang berhubungan intim dengan Maria di tempat tidurnya sendiri! Dia berkata kepada Muhammad:

“Di dalam rumahku dan di atas tempat tidurku dan pada hari yang ditentukan untukku…” Nabi, yang menerima pewahyuan Allah berkata: “Rahasiakanlah dan jangan katakan siapapun. Jangan katakan kepada Aisyah (karena ia sangat takut terhadap Aisyah). Dia menambahkan: “Saya tidak akan menyentuh Maria lagi. Dan saya nyatakan kepadamu dan ayahmu serta ayah Aisyah, bahwa mereka akan memimpin bangsaku setelah aku. Saya tinggalkan hal itu kepada mereka”. Tetapi Hafsah memberitahu Aisyah dan Muhammad menceraikan Hafsah.

Ketika kabar mengenai perceraian tersebut terdengar oleh Umar, ayah Hafsah, dia menjadi sangat marah dan nyaris meninggalkan Islam. Ketika Muhammad mendengar reaksi Umar, dia mengambil kembali Hafsah dengan sebuah perintah dari “jibril”yang berkata kepadanya: “Hafsah akan menjadi istrimu pada hari pengangkatan.”

Dalam surat 66:4-5, Allahnya Muhammad memberitahu istri-istri sang nabi:

“Jika kalian berdua (merujuk kepada Aisyah dan Hafsah) bertobat kepadanya, hatimu memang demikian keinginannya; namun jika kalian saling mendukung melawannya, sesungguhnya Allah adalah pelindungnya dan jibril dan (semua) orang benar diantara mereka yang beriman dan lebih dari itu, para malaikat akan mendukungnya. Jikapun, bila diinginkannya sang nabi untuk menceraikan kamu semua, Allah akan memberikan kepadanya (Muhammad) sebagai gantinya, pendamping-pendamping yang lebih baik darimu.”

Tidakkah itu semua menunjukkan bahwa Muhammad memiliki tuhan yang mendukungnya secara kebablasan?

*[Coba bayangkan sejenak, untuk menyelesaikan love affair dan kecemburuan akibat ulah Muhammad sendiri, Allah sampai mengerahkan diriNya serta “jibril” dan seluruh umat beriman untuk membela sang nabi, dalam menentang dua wanita tak berdaya, Aisyah dan Hafsah, dengan memberikan ancaman dan ultimatum yang mematikan masa depan mereka.]

Allah berkata: “Jika kamu tidak berhenti menentang rasul Allah, Aku, Tuhannya, akan membuatnya menceraikanmu dan menikahi istri-istri lebih baik darimu.” Apakah Sang Pencipta dari alam semesta ini benar-benar tidak mempunyai pekerjaan yang lebih layak daripada mengurus langsung permasalahan yang amat sepele?

*[Dimanakah hikmat yang telah Allah berikan kepada setiap orang, apalagi kepada nabiNya, untuk private problem solving masing-masing?]

Saya yakini bahwa tuhan dengan kwalitas seperti itu pastilah bukan Tuhan, kecuali jebakan yang saling menipu daya dari atas ke bawah.

Terdapat banyak keganjilan mengenai kehidupan seorang nabi. Tetapi yang lebih ganjil lagi jika melihat umat Muslim yang membaca dan melihat realitas kehidupan Muhammad, namun tetap berjalan di belakang orang tersebut! Mengapa? Saya sudah ungkapkan mengenai “ketakutan terhadap yang menakutkan” yang menguasai dunia (pikiran) Islam. Dalam kenyataannya, banyak orang Muslim mengetahui betul sejarah hidup Muhammad; tetapi terperangkap dalam rethorika, intimidasi, teror dan ketakutan yang menguasai mereka. Kematian adalah hukuman bagi mereka yang meninggalkan Islam.

[46] Sejarah telah menceritakan kepada kita bahwa Abu Bakar memerintahkan sepuluh ribu orang dibunuh dalam tiga hari karena mereka memilih meninggalkan Islam.

10. Maimunah bint al-Haris

Maimunah mengakhiri bab (topik kawin-mawin) kita yang amat sangat melecehi dan menyakitkan wanita. Saya mengkisahkan kepada Anda, cerita dari Maimunah untuk memperjelas sebuah unsur penting: Muhammad melarang banyak hal untuk orang lain, tetapi dia mengizinkannya untuk dirinya sendiri. Kaum Muslim mengetahui bahwa selama musim haji (Al-Hajj) pernikahan dilarang46a, namun Muhammad justru menikahi Maimunah bint al-Haris pada saat musim haji. Maimunah sedang berada di atas untanya, tetapi ketika dia melihat sang nabi, dia menjatuhkan dirinya dihadapannya dan berkata kepadanya bahwa unta dan semua yang di atasnya adalah milik nabi. Muhammad masih sempat mengingatkan dia bahwa mereka tengah dalam musim haji, namun Maimunah menjawab bahwa dia tidak ingin menunggu.

Apakah mungkin untuk Muhammad untuk menahan diri hingga akhirnya musim haji? Pengalaman masa lalunya membuktikan dua hal: dia tidak dapat menolak kecantikan wanita dan sebuah solusi selalu tersedia untuknya. Sorenya pada hari yang sama, sang nabi berkata kepadanya, “Sebuah ayat diturunkan kepadaku”:

”... dan perempuan mu’min yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mu’min ... supaya tidak menjadi kesempitan bagimu...”

Sehingga Al-Abbas, paman nabi meresmikan, walau ia pernah mengomentari bahwa Muhammad sedang dalam pakaian Haji.

Terlepas bahwa Muhammad memiliki banyak istri, Rasul Allah ini lagi-lagi tidak dapat menunggu berakhirnya masa datang bulan istri-istrinya. Dia memasuki mereka pada saat mereka sedang datang bulan, walaupun hal demikian diharamkan dalam Surat Al-Baqara.

“Jika salah satu dari kita sedang datang bulan, Rasul Allah memerintahkannya untuk datang kepadanya (Muhammad) untuk berhubungan intim, pada saat dia (istrinya) sedang berada dalam puncak datang bulannya.”

Maimunah berkata: ”Rasul Allah biasa melakukan hubungan intim denganku ketika aku sedang datang bulan.” Umm Salamah mengatakan hal yang sama.

Bagaimana bisa sang nabi itu dapat melakukan semua hal yang terlarang dalam agama Islam yang disiarkannya? Sangat jelas, kehidupan, tindakan dan perilakunya tidak pernah sesuai dengan model yang Tuhan perintahkan dalam ajaran-ajaran suciNya. Bagaimana mungkin para ulama berseru agar umat Muslim meneladani hidup sang Nabi?! Semoga umat Muslim dapat menggunakan kekuatan penalaran mereka untuk keluar dari bondage yang menjeratnya!

3. Sang Diktator, Raja Rasisme

Dalam bab ini, Anda akan melihat bagaimana Muhammad berperilaku dalam masyarakat secara umum. Silahkan Anda mempertimbangkan apakah tindakan-tindakan tersebut pantas untuk seorang nabi yang mengaku sebagai utusan Allah.

Kisah tentang Ali

Ali bin Abu Talib adalah sepupu dari Muhammad dan salah satu dari sepuluh sahabat nabi yang membawakan pesannya. Dia pernah satu kali menyelamatkan Muhammad, dengan cara mengambil posisi Muhammad di tempat tidurnya (di mana dia sendiripun hampir mati), ketika Muhammad kabur dari kota tersebut.

Ali adalah suami Fatimah, anak perempuan dari Muhammad. Hal paling buruk yang ditakuti oleh Fatimah adalah bahwa Ali akan meniru Muhammad dan sahabat lainnya yang masing-masing memiliki banyak istri, setidaknya empat seperti yang diizinkan oleh Al-Qur’an, Muhammad, “Jibril” dan Allah. Benarlah, ketika Ali mengumumkan pertunangannya dengan anak perempuan ‘Amr bin Hisham

Keputusan nabi ternyata melupakan ajaran Tuhannya dan tunduk pada keinginan anak perempuannya, dan melarang Ali untuk memiliki istri selain Fatimah. Saat nabi pergi ke Masjid pada masa itu dan dari panggung, dia berteriak: “Aku tidak mengizinkan, aku tidak mengizinkan, aku tidak mengizinkan dia untuk menceraikan anak perempuanku karena anak perempuanku adalah bagian dari diriku. Apa yang menyakitinya, menyakitiku.”

Mengapa Fatimah, anaknya bisa dikecualikan? Apakah anak perempuannya memiliki perasaan yang tidak dimiliki oleh para istri lain? Aisyah, Hafsah, Umm Salamah, Maria, Zainab dan lain lain harus menerima nasib dimadu, tetapi kenapa Fatimah tidak diizinkan dimadu? Muhammad membela diri dan berkata: “Fatimah adalah bagian dari diriku dan apa yang menyakitinya, menyakitiku.” Mengherankan! Tidakkah Aisyah adalah bagian dari ayahnya, Abu Bakar, sahabat Nabi dan penerusnya yang pertama? Tidakkah Hafsah, anak perempuan dari Umar adalah bagian dari Umar, sahabat Nabi dan penerusnya yang kedua? Sangat mengherankan bila menyaksikan bagaimana umat Muslim mencoba membenarkan keputusan diskriminasi sang nabi dengan mengatakan: “Tunangan dari Ali adalah seorang Muslim, tetapi karena ayahnya adalah seorang kafir, maka Ali tidak diizinkan untuk menikahinya.” Tetapi tidakkah Umm Salamah adalah seorang Muslim saat Muhammad menikahinya dan ayahnya adalah seorang kafir? Bagaimana dengan Maria orang Mesir yang Kristen Coptic / Kibti ? Mengapa Allah izinkan wanita-wanita ini dinikahi dengan Muhammad?

Saya berani bertaruh, jika Ali tetap bertekad atas keputusannya untuk menikah lagi, pasti akan turun sebuah ayat ”jibril” pada keesokan harinya untuk membatalkan niat Ali! Ulama Muslim yang mencoba melindungi Muhammad dari diskriminasi ini hanyalah mampu melakukan argumentasi yang bodoh.

Berhubungan Intim dengan Wanita yang sudah Menikah

Di sini terdapat kisah lain yang bisa mengakibatkan seseorang untuk merasa muak. Sang Nabi mengatakan: “Wanita-wanita yang sudah menikah diantara kaum tahanan adalah sah untuk kamu nikahi, Wahai kaum Muslim.” Setelah serangan Awtas, banyak wanita yang menjadi tahanan (budak tawanan), ketika suami mereka masih hidup. Sejumlah pejuang Muslim yang masih ada moral menolak untuk melakukan hubungan intim dengan wanita-wanita tersebut terlepas dari fakta bahwa nabi telah memerintahkan mereka. Namun untuk meyakinkan pengikutnya, Muhammad sudah siap dengan sebuah ayat dari tuhannya, dan “jibril” sudah siap-sedia untuk menurunkannya:

“dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) diantara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Sangat menabjubkan! Banyak ulama mendukung kisah sang nabi, yang menjadikan sah bagi seorang Muslim untuk melakukan hubungan intim dengan wanita-wanita tawanan yang sudah menikah.

Ibn Kathir menyebutkan cerita lengkapnya:“Abu Sa’id Al-Khudri mengata-kan, kami menangkap beberapa wanita tahanan Awtas dan mereka memiliki suami. Sehingga kami berpikir adalah sebuah kezaliman untuk melakukan hubungan intim dengan mereka. Namun, sang Nabi memerintahkan kita untuk melakukannya, tetapi kami menolak. Akibatnya, sebuah ayat turun yang membuat vagina mereka halal bagi kami.”57

Namun mereka harus menerima kenyataan bahwa Tuhan demikian hanyalah tuhan yang paling bejad amoral, karena hubungan tersebut sama saja dengan pemerkosaan! Allah manakah yang menghalalkan perkosaan atas wanita tawanan yang bersuami?

*[Dan surga manakah yang tidak akan ribut tatkala suaminya memprotes sipemerkosa Muslim itu kelak diakhirat?]

Itu sebabnya walaupun sekarang kita hidup dalam masa pesawat luar angkasa, jauh lebih maju dari masa Badui-nya Muhammad, pemerkosaan budak masih diterima di negara-negara Islam.

Hal lain yang tak kalah kejinya adalah, pernyataan yang dibuat oleh Muhammad dalam Al-Hadits yang merupakan esensi dari gerakan terorisme, dalam pemahaman yang paling dalam: “Dia yang membunuh seseorang, mempunyai hak atas segala hartanya.”

Hak untuk Membunuh

Kesewenangan Muhammad tidak hanya terbatas pada diskriminasi yang mengecualikan anak perempuannya, Fatimah. Muhammad juga menghalalkan seorang saudara membunuh saudaranya sendiri atau seorang bapak membunuh anaknya, atau seorang anak membunuh bapaknya, selama perang dalam menyebarkan Islam. Disitu seorang anak dapat membunuh ayahnya jika ayahnya tidak memeluk Islam. Menjadi halal untuk membunuh seorang saudara atau teman yang tidak beriman pada Islam, sehingga dianggap musuh Allah! Namun ajaib, kembali hukum ini tidak berlaku untuk saudara-saudara dari Muhammad! Diskriminasi tidak logis dan yang sesuka hati ini dicatat dalam lebih dari satu referensi Islam, termasuk The Life of the Prophet oleh Ibn Hisham, yang menulis:

“Ibn Ishaq bercerita bahwa Ibn Abbas mengatakan, bahwa Nabi berkata kepada sahabat-sahabatnya selama Perang Badar.

Setelah Hudhayfah menantang Muhammad mengenai masalah ini, Muhammad berkomentar kepada Umar Ibn al-Khattab: “Apakah paman dari Rasul Allah harus dibunuh dengan pedang?” Logika aneh apakah itu? Tidakkah pamannya juga seorang kafir sama seperti kafir lainnya? Tidakkah keluarganya adalah kafir sama seperti kafir lainnya di Quraishi, sukunya sendiri, yang diperintahkan untuk dibunuh tanpa ampun oleh anak-anak mereka sendiri, ayah mereka, saudara dan teman-teman mereka?

Lebih buruk dari Standar Ganda

Kisah diskriminasi dan standar ganda Muhammad bukan hanya terbatas pada diri dan keluarganya, melainkan diteruskan hingga ke kesukuan bangsanya, tercermin dalam pernyataannya: “Penerusku hanya boleh diberikan di antara kaum Quraishi.”

Perkelahian sengit terjadi pada saat Muhammad meninggal, karena kandidat pertama untuk menggantikan Muhammad adalah Sa’d Ibn Ubadah dari Ansar. Al-Suyuti berkata: “Muhammad mengatakan, kepemimpinan dan kekhalifahan setelahku harus berada di tangan suku Quraishi.”

Lebih jauh lagi, Muhammad tidak hanya memberi hak eksklusif kepada Quraishi sebagai penerus Kalifah, namun juga mempraktekkan diskriminasi pada saat pembagian penjarahan perang. Ia memporsikan rampasan kepada Quraishi pagan lebih banyak ketimbang kepada Muslim non-Quraishi!

Sheikh Abu Sa’id Al-Khudri menceritakan:

“Nabi, setelah Perang Hunein,

Sikap ketidak-adilan Muhammad kerap terulang dan Anda dapat membacanya dalam banyak referensi tentang keislaman.

4. Terorisme dan Intimidasi dalam Islam

Dalam bab ini, kami akan membahas serangan dan pertempuran kaum Muslim di bawah kepemimpinan Muhammad dan penerus-penerusnya, para Kalifah. Kita juga akan membahas kekejaman tak terbatas dari orang yang dianggap sebagai orang yang pengampun dan pengasih.

Semua tindakannya, sesungguhnya sedang mencerminkan sebuah inferioritas yang akut – kompleks yang dia alami semasa hidupnya – sebagai akibat dari hidupnya yang miskin hingga umur dua puluh lima tahun, dan tidak berpendidikan. Untuk mengimbangi masa lalunya, dia memberikan dirinya kekayaan, kehormatan dan predikat kenabian.

Sudah dikatakan di depan bahwa di Medinah, Muhammad berhasil melipat gandakan pengikutnya untuk mendukung misinya. Tetapi sekarang dia menghadapi masalah. Dari manakah dia akan mendapatkan uang yang ia butuhkan untuk menghidupi anak buahnya? Dia tidak menemukan cara lain, selain melakukan serangan, penjarahan dan perampokan – atas nama Allah – yang mengakibatkan pembunuhan dan pertumpahan darah.

Empat Serangan Pertama

Serangannya yang pertama dikenal dengan serangan Al-Iwa’, di mana dia menyerang sebuah caravan unta, yang dimiliki oleh beberapa kaum Quraishi.

*[Tidak ada satupun yang hakekatnya dapat dikaitkan kepada Allah, namun tetap dikatakan sebagai “perang demi Allah” atau demi “membela Allah”. Allah ini sudah terlalu banyak dibajak namanya, persis seperti yang dilakukan teroris sampai saat ini.]

Serangan ke empat dikenal dengan Al-Nakhla, sebuah tempat diantara Mekah dan Taif. Abd Allah bin Jahsh, memimpin dua belas orang dalam sebuah serangan atas caravan yang membawa kurma dan kain. Karavan itu dipimpin oleh Amr bin Al-Hadrami, yang dibunuh pada Bulan Haram, bulan dimana kaum Islam dilarang untuk membunuh dan berkelahi. Tetapi untuk Muhammad, dia berdiri diatas pelarangan. Maka lagi-lagi turunlah ayat dari mulutnya: “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi dari jalan Allah, kafir kepada Allah…lebih besar dosanya di sisi Allah.”

Perjanjian antara Muhammad dengan komplotannya adalah dia mendapatkan 20% dari hasil penjarahannya, dan anak-buahnya mendapatkan 80%. Sebagai hasil dari perampokan-perampokan, Muhammad dan anak-buahnya mendapatkan hasil permodalan yang sangat besar. Dengan modal itu, mereka mendapatkan orang dengan jumlah lebih banyak lagi, dan melakukan pekerjaan yang lebih besar lagi. Akibatnya, Perang Badar terjadi pada hari Farkan di bulan Ramadan.

Perang Badar

Siapa yang memulai serangan dalam perang Badar?

*[Muslim selalu merasa bahwa perang ini ”defensif ” untuk menghancurkan musuh-musuh (agresor) Islam yang dituduh kelewat batas.]

Namun jawablah dulu

*[Karena bala bantuan ”milisi kafir” dari Mekah inilah, maka Muslim mendalilkannya sebagai ”perang militer” melawan musuh-musuh Allah yang kafir, padahal itikad aslinya adalah merampok sebuah karavan kaya dari si kafir Abu Sufyan, termasuk menawan wanita-wanita cantik yang bisa dipakai semaunya.]

Seperti biasanya, “jibril” membantu Muhammad dengan ayat yang diturunkan: “Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakukan (teror) ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.”

Muhammad mengambil 70 tawanan wanita. Abu Bakar menyarankan kepada Muhammad untuk membebaskan mereka agar Allah dapat membimbing mereka untuk beriman terhadap kenabian Muhammad. Sa’d Ibn Mua’dh juga berkata sama. Tetapi Muhammad lebih mementingkan penjarahan ketimbang pertobatan iman. Sisa tawanan yang tidak dibunuh ditawarkan untuk dibebaskan atas tebusan (Surat Muhammad 47:4), dengan akibat kaum Quraishi harus menjual rumah mereka demi menebus tawanan tersebut dari tangan Muhammad.

Sa’d Ibn Mua’dh mengkritik kekejaman yang dilakukan Muhammad. Namun Muhammad berkata kepadanya, “Kamu sepertinya membenci apa yang dilakukan para pengikutku.” Dia menjawab, “Ya. Membunuh tahanan bukan tradisi Rab.” Muhammad menjawab, “Tetapi mereka adalah kafir.” Dia kemudian berkata kepada Muhammad dalam pernyataannya yang terkenal: “Sepertinya membunuh jauh lebih penting bagimu daripada membiarkan orang-orang itu hidup.”

Muhammad pergi untuk membagikan hasil rampasan perang diantara dirinya dan anak buahnya. Tetapi setelah hasil rampasan dibagikan, dalam perjalanan pulang, Muhammad membunuh Al-Nadr bin Al-Haris. Dan ketika mendekati gerbang kota, dia membunuh Akaba bin Abi Al-Mu’ait. Inilah kelicikan Muhammad terhadap orang-orang yang telah membantunya. Namun seperti biasanya, Muhammad mengatasi masalah kelicikannya ini dengan mendapat ”pertolongan” ayat Allah yang diturunkan kepadanya: “Mereka menanyakan kepadamu tentang pembagian harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul.”

*[Pembelajaran dari perang ini menyangkut 3 aspek bagi setiap Muslim: (1). Awas-awas terhadap pemlintiran istilah, dari aslinya “perampokan” menjadi “perang militer yang gemilang menghancurkan orang kafir”. (2).Awas-awas terhadap metamorfosa “Jibril” yang selalu ngurusin pengecualian dan penghalalan bagi Muhammad dari ketentuan-ketentuan Allah yang baku. (3). Awas-awas terhadap penyesatan “Jibril” bahwa setiap barang jarahan kafir adalah halal, namun tidak ada satu orang kafirpun yang halal hidup diatas bumi, kecuali Muslim saja, seperti yang didoakan nabi Nuh Islam: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.”


Murtadin
Tamu


Kembali Ke Atas Go down

Re: Al-Masih, Muhammad dan Saya

Post  Murtadin on Fri Jun 24, 2011 10:51 am

Perang Uhud

Tidak lama setelah perampokan Badar, orang-orang Quraishi memutuskan untuk balas dendam atas serangan terhadap Muhammad dan pengikut-pengikutnya. Segera ketika Abu Sufyan tiba di Mekah, dia membangun kekuatan untuk melawan Muhammad dan komplotannya. Abu Sufyan dan pasukannya berangkat menuju Medina. Mereka berkemah dekat Gunung Uhud, mempersiapkan diri untuk menyerang kota. Muhammad diberitahu mengenai pasukan yang siap menggempur mereka.

Muhammad meyakinkan pengikut-pengikutnya bahwa dengan nama Allah dan malaikat-malaikat, kemenangan akan memihaknya, “Aku akan meminta Allah dan malaikatNya untuk berperang bagi kita.” Ketika perang dimulai, ternyata Muhamad dan pasukannya dikalahkan dan para pengikutnya lari ketakutan. Muhammad mencoba untuk memberikan penjelasan meyakinkan atas Perang Uhud yang memalukan. Rakyat bertanya: Dimanakah tuhan dari Muhammad? Dimanakah 20.000 malaikat yang dijanjikan untuk berkelahi membela mereka? “Dimanakah mereka berada, Muhammad?” Teriak Sa’d Ben, yang terluka parah selama perang. Para pendiri Islam berkumpul mengelilingi pemimpin mereka dan bertanya kepadanya: “Abu Kasem (itulah nama yang digunakan sahabat-sahabatnya untuk memanggilnya), apa yang akan kita lakukan? Sekarang Al-Ansar (sekutu) tidak akan mempercayai kita lagi.”

Muhammad meminta anak buahnya waktu sejenak untuk mendapatkan sebuah jawaban. Dan “jibril” sudah siap. Namun kali ini kaum Al-Ansar tidak akan bisa diyakinkan hanya dengan satu ayat, sehingga enampuluh satu ayat diturunkan dan menjadi bagian dari sebuah Surat!

Karena Al-Ansar bersungut mengenai apa yang dilakukan Muhammad terhadap Al-Nadir, Surat 59 Al-Hashr (Pengusiran) diturunkan untuk menghentikan semua pertikaian. Sepertinya tuhannya menjadi begitu bermurah hati dengannya sehingga dia tidak hanya mengirimnya hanya satu ayat seperti sebelumnya, tetapi sekarang sebuat surat penuh turun untuk membenarkan tindakannya!? Inilah model tuhannya Muhammad!?

Affair

Muhammad berhubungan intim dengan Aisyah, pada saat dia berumur sembilan tahun. Pada umur itu, seorang gadis muda tidak sepenuhnya sadar mengenai apa yang terjadi pada dirinya secara seksual. Disamping itu, dia tidak memiliki perasaan dewasa yang membedakan antara seorang laki-laki dengan yang lainnya, dan ke arah mana perasaannya ditujukan. Namun, ketika Aisyah bertambah umur, perasaannya juga bertambah dewasa.

Lihatlah kejadian di seputar pertumbuhan kedewasaannya.

Pertama, pada saat penyerangan terhadap kaum Al-Miraysi, Muhammad agaknya tidak cukup sabar untuk pulang ke rumah, hingga ia meminta Aisyah untuk menemaninya. Dengan kata lain, ketika anak buahnya sedang menyerang, merampok dan mencuri, sang nabi sedang berada dalam tendanya berhubungan intim dengan Aisyah.

Kedua, ketika sahabat-sahabat Muhammad mengambil wanita suku Al-Mustaliq, mereka mempertontonkan wanita-wanita tahanan. Diantara mereka adalah Juwairiyyah bint Al-Haris, yang sangat cantik dan Muhammad ingin menikahinya. Tetapi karena dia merupakan bagian rampasan perang dari Thabit bin Qais, Muhammad menawarkannya banyak uang, untuk membeli wanita itu bagi dirinya. Transaksi tersebut bahkan terjadi saat Aisyah sedang bersamanya di dalam tendanya.

Apakah reaksi dari Aisyah? Aisyah meninggalkan untanya ketika kelompok tersebut mendekati kota, dan dia masuk ke dalam salah satu rumah yang kosong. Setelah tujuh jam, dia kembali bersama Safwan bin Al-Mu’attal,

Tidak lama kemudian, Ali melihat kejadian tidak senonoh dari Aisyah, sehingga dia mengatakannya kepada nabi: Kali ini, Muhammad memutuskan bahwa Aisyah harus dibunuh. Dia pergi kepadanya dengan Ali, dan dengan pedangnya, siap untuk membunuhnya. Muhammad memasuki rumah dan Ali menunggu di luar, tetapi Muhammad keluar satu jam kemudian, berkeringat dan keletihan. Ali bertanya kepadanya: “Apakah kamu membunuhnya, Sepupu?” Muhammad menjawab, “Tidak Ali. Sebuah ayat turun dari Allah untuk membenarkannya lagi.”

Tetapi kali ini lain, ayat tersebut menuduh Ali yang berbohong, dan mengatakan bahwa gosip tersebut berasal dari “kelompok diantara kamu.”

[84] Sejak hari itu, Ali memusuhi Aisyah dan Aisyah memusuhi Ali, Padahal mengenai Ali, Muhammad mengatakan, “Dia adalah sepupuku dan saudara yang menebus nyawaku. Dia adalah kebenaran, dia adalah Ali bin Abu Talib.” Tetapi tuhannya Muhammad kini berbalik dan menuduhnya berbohong kepada Ali, demi menyelamatkan kisah Aisyah...

Surat Pewarisan

[85] [86] Di sini, saya hanya mempersoalkan sebuah pertanyaan klasik: Apakah itu adalah perilaku dari seorang nabi yang diutus Tuhan? Sangat jelas bahwa Islam berkembang dilandasi dengan banyak darah tertumpah. Dimulai dengan perampasan, pembunuhan, pencurian dan perampokan karavan-karavan kaum Quraishi yang datang dari Damaskus ke Mekah. Kemudian berlanjut dengan menyerang kaum Yahudi, baik itu di Khaybar maupun di Medina, dan kaum Nasrani di Medina dan Taif juga tidak luput dari pembantaian. [87]

Pertikaian keluarga, antara Muhammad dengan Ali menyebabkan dihapusnya Surat Pewarisan, yang seyogyanya menurunkan kekalifahan kepada Ali oleh Muhammad. Harap catat: pendukung Ali (kaum Syiah) tetap mempertahankan keberadaan Surat-Pewarisan dan membacakannya dari dalam Al-Qur’an mereka hingga kini. Ketika Kalifah ‘Utsman mengumpulkan Al-Qur’an, dia menolak untuk memasukkan Surat tersebut dan menuntut untuk menghapuskannya. Tetapi surat itu masuk dalam salinan Ibn Mas’ud dari Al-Qur’an dan terdapat di dalam Al-Quran yang dibaca oleh rakyat Iran dan semua orang Syiah pada umumnya. Mereka berjumlah sekitar 40% dari semua orang Muslim. Sehingga, Al-Quran yang dibaca oleh kaum Syiah berjumlah 115 surat, sedangkan Al-Qur’an yang dibaca oleh kaum Sunni berjumlah 114 surat. Perbedaan ini menimbulkan sebuah pertikaian penting yang terjadi setelah serangan Muraisa, dalam tahun kelima Hijrah.

Akar-akar Terorisme dalam Al-Qur’an

Peristiwa seperti ini adalah mirip dengan perkawinan Muhammad dengan Juwairiyyah bint Al-Haris, yang terjadi ketika nabi membunuh ayah dan suaminya yang ditawan, lalu mengawini sang istri. Aisyah menjawab perilaku Muhammad ini dengan mengkhianatinya sebagaimana dikutip di atas.

Kaum Muslim hingga kini mengikuti langkah-langkah Muhammad, sebagai pendiri Islam. Itu sebabnya, hari ini kita menyaksikan para Islamist di Mesir merampok gereja-gereja dan toko-toko orang Kristen, membunuh mereka tanpa perasaan. Di Aljazair, Muslim fanatik telah membunuh orang-orang tidak berdosa tanpa pertanyaan, Muslim maupun non-Muslim, hanya karena merasa ada pihak-pihak yang menentang agenda politik dan agama Islam. Kenapa mereka harus ragu melakukan hal-hal ini jikalau nabi mereka membiarkan dan memimpin aksi-aksi yang menjijikan ini? Aksi-aksi terorisme dan intimidasi Muhammad telah didokumentasikan dalam biografi-biografi Islamic yang terbaik tentang sepak-terjang Muhammad (sebagai “pahlawan perjuangan”).

Orang-orang harus mengerti bahwa Muhammad telah menjadi contoh bagi umat Muslim di dunia Timur maupun Barat.

Kisah Rihana bint Amro

Ketika tangan dan baju Muhammad masih berlumuran dengan darah orang-orang Bani Quraiza, Muhammad memerintahkan para tahanan wanita dipajang di hadapannya. Seperti biasanya, Muhamamd memilih untuk dirinya wanita yang paling cantik. Kali ini pilihannya jatuh pada seorang wanita yang suaminya dan ketiga saudara laki-lakinya dan seluruh keluarganya telah diperintahkan untuk dipenggal kepalanya di depan matanya. Nama wanita itu adalah Rihana bint Amro. Muhammad berkata kepadanya, “Daripada menjadi budakku, saya akan membebaskan kamu dan menikahimu.” Ia menjawab: “Lebih terhormat bagiku untuk menjadi budakmu daripada menjadi istri seorang penjagal manusia.” Dia kemudian meludahinya dengan harapan agar sang nabi besar itu akan memerintahkan dirinya untuk dibunuh. Tetapi ternyata Muhammad tidak membunuh wanita cantik. Melainkan, dia menyimpannya sebagai seorang budak dan berhubungan intim dengannya sementara kaki dan tangan wanita itu terikat.

Allah seperti apa yang akan mengirim seorang nabi yang bajunya masih berlumuran darah sembilan ratus orang, dan mencari kepuasan seksual dengan seorang wanita yang lebih memilih menjadi budak dan kematian, daripada menjadi “istri dari seorang penjagal manusia.”

Tentu saja kaum Yahudi sejak itu mewarisi kebencian terhadap Muhammad dan para pengikutnya. Dan mereka masih mengingat betapa banyak pembunuhan dan penyiksaan yang dia lakukan terhadap nenek moyang mereka dari Bani Quraiza.

Terorisme hari ini bukan datang tiba-tiba, bukan pula temuan metode baru! Muhammad telah memberi patron terbaik untuk sebuah teror dan intimidasi dengan penutup jubah perjuangan demi agama Allah.

Kisah Fatimah bint Rabi’a

Fatima bint Rabi’a adalah wanita dipakai sebagai contoh karena harkat dan martabatnya. Dia menolak untuk mengakui Muhammad sebagai seorang nabi, malahan mengutuknya. Dan Muhammad, nabi yang dianggap pengampun, ternyata tidak melupakan orang ini. Ketika Muhammad menginvasi suku Bani Fazara, dia membunuh sebagian besar rakyatnya tetapi mengambil Fatimah bint Rabi’a sebagai tawanan bersama dengan anak perempuannya. Muhammad memerintahkan agar Fatimah itu disiksa, sebagaimana yang ditulis oleh Al-Athir dalam buku-nya.

Setelah budak tersebut selesai melakukan perbuatannya yang najis, Muhammad masih memanggil Zayd bin Haritha dan memerintahkannya untuk menuntaskan pembunuhan terhadap Fatimah, walaupun banyak orang meminta pengampunan untuk dirinya. Al-Tabari menulis: “Muhammad memerintahkan Zayd bin Haritha untuk membunuh Fatimah, yang dikenal sebagai Umm Qirfa. Dia membunuhnya dengan sadis yaitu dengan cara mengikat kedua kakinya dengan dua tali yang diikat pada dua unta. Dia memaksa unta tersebut berlari ke arah yang berlawanan sehingga perempuan itu robek menjadi dua bagian.”

Betapa menjijikkan pembunuhan itu! Tuhan manakah yang dapat mengilhami seseorang untuk melakukan hal tersebut, dan tetap harus disebut sebagai Tuhan yang ”Maha Pengasih dan Maha Penyayang?” Bagaimana Muslim bisa mempercayai bukan saja kebohongan dan kepalsuan Muhammad, tetapi juga kekejamannya?! Jangan lupa bahwa kekejaman seperti itu berkali-kali dilakukan dalam setiap kesempatan sehabis perangnya Muhammad.

Betapa jauhnya perbuatan nabi besar itu dari ajaran Yesus dari Nazaret, yang rela mengampuni mereka yang mengolok bahkan menganiaya dan menyalibkan diriNya, dan yang dibalas oleh Yesus dengan meminta pengampunan atas dosa mereka kepada Bapa-Nya.

Tambahan Kisah Safiyah bint Huyay

Kisah yang baru saja Anda baca tidak berbeda dengan kisah Kinana bin Al-Rabi’a, yang menjadi tawanan pada serangan Khaibar. Muhammad bertanya mengenai letak hartanya yang disembunyikannya. Sebagai jawabannya, Kinana sekaligus kehilangan semua kekayaan yang tersimpan.

*[Muslim selalu mendalilkan motif Nabinya disini berperang melawan kafir Yahudi, tetapi lihatlah betapa kasat mata motif sejatinya adalah perampokan.]

Muhammad kemudian memerintahkan untuk membawa Safiyah, istri Kinana, dan menyaksikan bagaimana suaminya diikat, dilepaskan bajunya, dan di capkan dengan besi kepada bagian-bagian tubuh Kinana yang sensitif. Safiyah didudukkan dipangkuan Muhammad, dipaksa untuk menonton suaminya disiksa. Setelah penyiksaannya, Muhammad memerintahkan agar Kinana dipenggal dengan pedang dimuka umum, kemudian menikahi istrinya!

Bila hal seperti itu terjadi pada nabi selain Muhammad, kaum Muslim akan mengutuki: “Nabi binatang!” atau “Setan alas!” Coba periksalah semua perilaku para nabi satu persatu tanpa pembelaan buta: Bisakah perilaku seperti itu bagian dari perilaku nabi Tuhan yang sejati?

Beberapa kaum Muslim mungkin akan mengatakan bahwa tuduhan-tuduhan tersebut adalah palsu terhadap rasul mereka. Saya menjawab: Saya berharap dari lubuk hati saya bahwa itu adalah tuduhan palsu, tetapi kebenaran selalu pahit. Saya mengetahui ini dari pengungkapan fakta-fakta yang diplintirkan, juga dari pengalaman pribadi, karena saya merasakan sendiri kepahitan yang sama dari ajaran dan tindakan-tindakan nabi dan tuhannya Islam, saat saya menemukannya sendiri. Mengerikan, sangat mengerikan, untuk menghubungkan Tuhan yang Suci dan Murni dengan kejahatan dan tipu daya palsu, sementara Tuhan sejati sama sekali tidak bersalah atas ucapan dan tindakan-tindakan Muhammad.

Tipu daya Muhammad berhasil karena kebodohan orang Arab di zaman kebodohan. Bagaimana tipu daya ini bisa diterima oleh orang-orang terpelajar pada abad ke 21, dimana ilmu pengetahuan menyediakan begitu banyak fakta dan pencerahan?

Ikuti Muhammad dalam Perang atau: Mati

Ketika Amr bin al-Aas tiba di Yaman untuk memaksa rajanya membayar upeti jika dia tidak memeluk Islam, sang raja bertanya kepadanya: “Bagaimanakah semua kaum Quraishi menjadi Muslim?” Al-Aas menjawab:

“Kaum Quraishi mengikuti Muhammad karena mereka mempunyai keinginan untuk memeluk Islam atau karena mereka takut sebab mereka dikalahkan dengan pedang. Dan sekarang kamu adalah satu-satunya yang tersisa (yang bukan Muslim). Jika kamu tidak memeluk Islam hari ini, kuda-kuda akan berlari di atasmu dan rakyatmu. Peluklah Islam dan kamu akan hidup dalam kedamaian dan kuda-kuda serta penunggangnya tidak akan menyerangmu.”

Dengan kata lain, pilihannya hanya Islam atau mati. Ikuti Muhammad atau mati – sebuah pilihan perbudakan dan sebuah taktik teroris yang teramat keji, rancangan Muhammad Utusan Allah. Ibn Ishaq menulis:

“Utusan Allah mengirim Khalid bin Al-Walid kepada bin Al-Haris, untuk disampaikan kepada suku Najran, yang beragama Kristen dan berkata kepadanya: Jika kamu memeluk Islam dan membayar zakat, kamu akan diterima; jika kamu bilang tidak, aku akan membunuhmu dengan pedang.”

Suku tersebut mengirim beberapa orang dari Al-Haris kepada Utusan Allah dengan patuh. Apa yang dikatakan Utusan Allah kepada orang-orang tersebut? “Jika kamu tidak memeluk Islam, aku akan memenggal kepalamu di bawah kakimu!”

Teror dan mental terorisme tidak hanya didemonstrasikan dalam tindakan-tindakan Muhammad, tetapi juga dicatat sebagai pewahyuan dari Allahnya dalam Al-Qur’an, yang mendukungnya untuk menteror, membunuh dan menumpahkan darah orang tidak berdosa.

Surah 4:74 mengatakan

Surah Muhammad mengatakan

Surah Al-Anfal 8:60 mengatakan

[94]: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang kamu menggetarkan (teror) musuh Allah, musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya.”

[Surah 33:26 mengatakan, ”...dan Dia memasukkan rasa takut (teror) kedalam hati mereka. Sebagian kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan”

Kasih versus Teror

Teror jelas-jelas diperintahkan Allah, untuk ditanamkan ke dalam hati para musuh Islam. Maka Islam adalah tempat subur untuk menggunakan teror dan terorisme sebagai alat untuk menaklukkan keimanan seseorang.

Saya percaya, kebenaran sejati yang datang dari Surga tidak membawa pedang, ataupun memerintahkan pertumpahan darah orang tidak berdosa. Surga menyatakan: “Kasihilah musuhmu.” Dia tidak mengatakan, “Jagallah musuhmu.” Surga mengatakan: “Berkatilah mereka yang mengutukmu.” Tidak mungkin Surga mengatakan: “Wahai Nabi, kobarkanlah semangat para mu’min itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus diantaramu, mereka dapat mengalahkan seribu daripada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti.”

Surga yang mengampuni berkata

Tetapi Surga tidak akan menghasut dan menyombong

Penyebaran Islam setelah Muhammad juga dicapai dengan ujung pedang, seperti yang digambarkan dalam bendera mereka. Ibn Al-Asam Al-Garhami mengatakan di dalam bukunya Tales of Battles bahwa jumlah orang yang terbunuh dari awal panggilan kenabian Muhammad hingga kematiannya melebihi 30,000 jiwa. Dan mereka yang menemui ajalnya oleh pedang Islam dari awal pendirian Islam hingga 1250 Hijrah (sekitar tahun 1750 Masehi) mencapai sekitar sepuluh juta jiwa. Di Spanyol sendiri, kaum Muslim membunuh lebih dari 1.5 juta jiwa dari abad ke-8 Masehi hingga mereka diusir dari Spanyol pada tahun 1492.


Murtadin
Tamu


Kembali Ke Atas Go down

Re: Al-Masih, Muhammad dan Saya

Post  Murtadin on Fri Jun 24, 2011 10:53 am

Perang antar Muslim: Pembunuhan Utsman bin Affan

*[Muhammad memberlakukan pedang dan menghalalkannya terhadap kafir. Ia mungkin tidak sadar akan firman Yesus yang mengatakan sebaliknya, “Siapa yang menggunakan pedang akan binasa oleh pedang” (Mat.26:52). Pedang disini tentu “pedang” dalam arti luas tentang kebrutalan, pembunuhan, dan pertumpahan darah. Dan benarlah, ternyata pengembangan Islam yang mengandalkan pedang berbalik menjadi korban pedang itu juga di kalangannya. Kenapakah Muslim tidak me-renunginya serta menganalisa dan memastikan sejarah intern Islam itu sendiri?]

Kejadian yang paling tepat menggambarkan “pedang makan tuan” adalah fakta pembunuhan terhadap penerus-penerus Muhammad (yakni para Kalifah) dan pemimpin-pemimpin Muslim oleh kalangan Muslim sendiri. Salah satu diantaranya adalah Utsman bin Affan, Khalifah ketiga yang menyumbangkan 10,000 dinar kepada Muhammad, ketika dia pertama kali mulai menyebar-luaskan panggilan kenabiannya. Al-Halabi menulis tentang dia:

“Utsman bin Affan datang dengan uang sepuluh ribu dinar dan meletakkannya di dalam tangan dan dada Muhammad. Muhammad mulai mengambil uang tersebut, memeriksanya, membalik-balikannya ke setiap arah dengan hati-hati dan gembira sambil berkata, ‘Semoga Allah memberikan pengampunan atas semua dosamu, yang tidak diketahui dan yang diketahui oleh umum, Wahai Utsman. Semoga Allah memberikan kepadamu pengampunan untuk apa yang kamu lakukan di hari kemarin dan apa yang kamu lakukan di hari esok hingga hari pengangkatan. Tidak akan ada sesuatu apapun yang dilakukan Utsman yang akan melukai dirinya mulai hari ini.”

Penulis-penulis Islam sendiri memberikan kita banyak penjelasan mengenai pembunuhan terhadap diri Utsman. Dua orang Muslim yang berpengaruh, Muhammad bin Abu Bakar dan Ammar bin Yasir, datang ke hadapan Utsman ketika dia sedang membaca Al-Qur’annya Muhammad. Mereka menyiksanya kemudian membunuhnya. Mereka juga menginjak jenggotnya dengan sepatu mereka – sebuah tanda penghinaan besar. (Jangan lupa bahwa Utsman adalah salah satu dari 10 pembawa kabar baik yang berkhotbah tentang Surga. Dia juga adalah orang yang telah diberikan kepastian oleh Muhammad bahwa semua dosanya, yang lalu dan yang akan datang, akan diampuni, setelah dia membayar 10.000 dinar.)

Ironisnya, dia dibunuh oleh seorang pembawa kabar baik lainnya, Ammar bin Yasir, yang berasal dari sebuah suku yang disiksa oleh kaum Quraishi karena Muhammad. Dengan demikian, seperti ucapan Muhammad, bukankah yang membunuh dan yang dibunuh sesama Muslim akan masuk ke dalam api neraka? Apakah Utsman benar-benar pergi ke Surga hanya karena sepuluh ribu dinar yang dia sumbangkan kepada Muhammad, karena ia memang dijanjikan Surga? Apakah Ammar bin Yasir, salah satu dari pembawa kabar baik tentang Surga – tetapi yang membunuh sesama orang Muslim – pergi ke Surga? Apakah kaum Muslim memikirkan hal-hal ini? Apakah Utsman dan Ammar pergi ke surga atau ke neraka? Menurut Muhammad, mereka pergi ke surga. Tetapi juga menurut Muhammad mereka pergi ke neraka! Faktanya, Kalifah ketiga ini dibunuh oleh Ammar dan anak dari Khalifah pertama.

*[Muhammad sendiri tidak luput dari hukum “pedang berbalas pedang”. Ia kena racun dari perempuan Yahudi yang ditawannya di Khaibar, dan Allah tidak menghindarkan atau memunahkan racun itu dari padanya, seperti yang diakui oleh Anas bin Malik: ”Saya selalu mengetahui pengaruh racun itu dalam kerongkongan beliau (HS Bukhari 1220). Aisyah menyaksikan betapa Muhammad menderita, bukan hanya karena sakit keracunan makanan tersebut di saat-saat kritisnya, ”Hai Aisyah! Saya senantiasa merasa pedih makanan (racun) yang saya makan di Khaibar. Itulah waktunya saya merasa tali jantung saya putus karena racun itu”; Tetapi harapan dan permohonannya untuk keselamatan dirinya di akhirat juga tidak menentu, karena tidak ada tanda-tanda dijawab lagi oleh Jibril maupun Allah. Muhammad hanya bergumul sendirian dengan maut. Ketika seseorang siap-siap menghembuskan nafas terakhirnya, ia akan melepaskan segala atribut ke-egoannya dan dengan kata-kata terakhir ia mengakui dengan sepenuh kejujuran. Dan itulah yang juga terjadi pada diri Muhammad, yang berkata: “Wahai Tuhan! Ampunilah saya! Kasihanilah saya dan hubungkan saya dengan Teman yang Mahatinggi... Lalu beliau mengangkat tangannya sambil mengucapkan: “Teman Yang Maha Tinggi”. Lalu beliau wafat dan rebahlah tangan beliau.” (HSB.1570, 1573, 1574). Tak bisa lain lagi, Muhammad harus dengan jujur meninggalkan dua kebenaran diujung napas terakhirnya: (1). Bahwa ia adalah orang berdosa yang perlu diampuni. Dan (2) bahwa ada satu sosok baru yang disembunyikannya selama ini, yaitu, ”Teman Yang Maha Tinggi” yang akan mengadilinya di hari pengadilan.]

5. Al-Qur’an Wahyu Allah atau Ciptaan Manusia?

Tuan Qasim, guru agama saya dulu di Mesir tempat saya dilahirkan, – seperti halnya dengan semua para Imam dan Syeik – menyatakan bahwa mujizat yang dilakukan oleh Muhammad adalah penulisan Al-Qur’an. Mereka mengaku bahwa Al-Qur’an adalah tulisan yang paling indah dengan retorika yang paling baik yang pernah ditulis, karena berasal dari surga dan bukan ciptaan manusia. Al-Qur’an sendiri, dalam salah satu ayatnya menantang siapapun untuk menghasilkan sebuah karya mirip Al-Qur’an, atau bahkan yang mirip dengan salah satu suratnya yang mana saja. Dr. Badawi, seorang guru agama mengatakan, “Al-Qur’an adalah buku surgawi terakhir dan Muhammad adalah nabi terakhir dan penutup nabi-nabi sebelumnya.”

Apakah pernyataan-pernyataan manusia ini benar? Saya dulu biasanya memutlakkan Al-Qur’an dan saya adalah penggemar dari Sheikh Abdul Baset

Penjiplakan Quranik

Saya membaca dan merenungi Al-Quran dan juga Alkitab, dan saya menemukan banyak penjiplakan dengan penggeseran. [Tidak seperti para “Ahli Kitab”, banyak Muslim belum tahu bahwa banyak ayat dari Al-Qur’an diambil dari Alkitab, dengan sejumlah penambahan pengurangan, dan perubahan, besar atau kecil.] Contoh, Al-Qur’an menetapkan untuk semua orang Muslim, kewajiban untuk membayar 2.5% zakat.[99] Hal itu menjiplak Perjanjian Lama yang ditetapkan bagi orang Yahudi untuk membayar 10% dari pendapatan tahunan mereka. Berpuasa, kiblat shalat, barang haram dan halal dan lain lain di dalam Al-Qur’an, juga dijiplak dari Alkitab dengan beberapa modifikasi. Semua ini bukan sesuatu yang baru, tapi sudah ada dikalangan Israel!

*[Malahan penjiplakan dengan perubahan arah kiblat, angka zakat, dan bobot haram-halal, jelas-jelas menciptakan pertanyaan kenapa Allahnya Muhammad sesukanya mengubah hukum Tuhan dari para nabi selainnya, setelah ribuan tahun itu diberlakukan dengan baik-baik? Lihat pula kisah kejadian alam semesta, keberadaan 7 surga dan neraka, sosok sejarah seperti ratu Sheba (Balqis), Nimrod, kisah nabi-nabi, kejadian Yahya dan Isa beserta mujizat-mujizatnya, hingga kepada penghakiman akhir zaman, semuanya itu tak lain tak bukan hanyalah “retelling stories” dengan banyak penyimpangan, pengacakan, dan pengaburan fakta sejarah, sambil menyisipkan fiksi-fiksi, sehingga semuanya justru tidak jelas dan tidak masuk akal.]

Mujizat Al-Qur’an?

Tentang “keajaiban” Al-Qur’an. Apakah ini berarti Al-Qur’an tidak mempunyai kesalahan, baik itu secara gramatikal, sejarah ataupun Qur’aniah - dirinya, dan tidak seorangpun yang sanggup menulis sesuatu yang menyerupainya? Saya dulu memang selalu menantang para pengikut agama-agama lain untuk mencari kesalahan di dalam Al-Qur’an yang saya cintai. Tetapi beberapa teman dekat mengatakan kepada saya untuk membacanya dengan lebih seksama dan mendalam agar saya dapat mencari tahu sendiri. Saya melakukannya dan saya terkejut karena menemukan begitu banyak kesalahan gramatikal dan kesalahan sejarah. Kita tidak mau bertele-tele disini, kecuali hanya tampilkan satu-dua gelintir kekonyolan wahyu sebagai contoh.

Laki-laki vs. Perempuan; Bentuk Tunggal vs. Jamak; Subyek vs. Obyek.

Dalam Surat Al-A’raf di bawah ini,

Pada ayat berikutnya, dari Surat At-Tauba,

Muhammad juga terlanjur meletakkan bentuk subyek yang seharusnya berbentuk obyek, begitu juga sebaliknya – sebuah kesalahan yang tidak termaafkan dalam bahasa Arab, seperti yang ditulis dalam Surat Al-Hajj[102]

Dalam Surat Al-A’raf 7:56, kesalahan gramatika yang konyol juga terjadi, dimana bentuk laki-laki (yang derajatnya dalam Islam lebih tinggi) tertukar dengan bentuk perempuan yang berderajat lebih rendah.

Al-Suyuti mengatakan: “Tidaklah dibenarkan, bagi semua orang, untuk membaca Al-Qur’an tanpa membacanya dalam bahasa Arab; sekalipun pembacanya tidak pandai membaca dalam bahasa Arab.”

Dia mengatakan ini karena kebanyakan sarjana Muslim setuju bahwa menerjemahkan Al-Qur’an ke dalam bahasa lain akan "menghilangkan banyak makna asli dan keindahannya serta nilai linguistiknya".

*[Tentu saja itu bukan monopoli Al-Quran, melainkan secara umum gejala seperti itu berlaku untuk semua “bahasa-ibu”, apalagi yang berujud prosa-lirik ala Al-Quran. Namun dalam perkembangan linguistik itu sendiri, entah dalam bahasa apa saja, akan menipiskan kekentalan nuansa aslinya yang selalu bergeser lewat waktu. Namun masalahnya menjadi lain ketika hal yang bersifat relatif itu hendak dimutlakkan dengan dalil bahwa membaca Al-Qur’an atau bershalat dalam bahasa lain>oleh para ulama Islam sebagi tidak sah, atau tidak diridhoi Allah, atau tidak berpahala selain dalam bahasa Arab! Bahkan pelaku-pelakunya dihajar!]

Kita harus bertanya:

“Apakah Allah adalah tuhan bagi orang-orang Arab saja?”

“Apakah dia bukan Tuhan bagi semua orang?”

“Apakah Allah tidak berbicara dalam bahasa lain selain dalam bahasa Arab saja, seperti yang Muhammad katakan beberapa kali dalam Al-Qur’an?”

Walau sejak dunia diciptakan hingga saat ini, keseluruhan manusia yang bisa berbicara dalam bahasa Arab hanya seporsi kecil saja, namun Muhammad berkata: “Cintailah Arab untuk tiga alasan: karena aku adalah orang Arab, karena Al-Qur’an diturunkan kepada kita dalam bahasa Arab,


Namun lucunya, Nabi Arab ini juga mempertentangkan pernyataannya di tempat lain dengan mengatakan: “Tidak ada perbedaan antara Arab dan bukan Arab kecuali dalam kesalehan.”

[105] Jika Al-Qur’an ditujukan bagi seluruh dunia, ia seharusnya datang dalam bahasa yang memang dapat diterjemahkan tanpa harus kehilangan makna dan nilai aslinya. Lebih jauh lagi, jika Al-Qur’an memang berasal dari Tuhan, ia seharusnya dapat diterapkan pada setiap generasi dan setiap tempat, tidak hanya untuk bangsa Arab dan hanya selama masa tertentu! [106]. Seorang Syeikh & ilmuwan Islam, Ibn Taymiyyah,[107] menulis: [108]. Bahwa terdapat banyak kesalahan di dalam Al-Qur’an, telah diketahui dengan baik di antara para Muslim, dan tidak dapat dibantah oleh sarjana-sarjana mereka. Maka saya bertanya, “Tidakkah ‘Jibril’ menyadari pentingnya penekanan-penekanan dan tanda-tanda pada huruf-huruf ketika Al-Qur’an diturunkan?” [109] Dan masih banyak kesalahan lainnya yang tidak usah lagi disertakan disini. [110]

*[Apalagi sampai harus diganti dan dirubah ayatnya Allah dalam nasikh-mansukh.]

Alasan-alasan Lainnya yang Membingungkan

Ketika Al-Qur’an ditulis, ia tidak memiliki tanda-tanda yang diperlukan oleh huruf-huruf yang sangat penting dalam bahasa Arab

“Sahabat-sahabat Muhammad tidak menaruh tanda atau penekanan pada huruf-hurufnya. Dengan demikian, kata tersebut dapat dibaca dengan dua cara yang berbeda, dan bisa memiliki dua arti (atau lebih) yang berbeda!

Bukti ini – penulisan Al-Qur’an yang tanpa tanda-tanda – juga SUDAH ditegaskan oleh Al Suyuti.

*[Bukankah dikatakan bahwa di setiap malam di bulan Ramadhan “Jibril” turun untuk me-review bersama Muhammad apa-apa yang sudah diturunkan kepadanya agar terkonfirmasi segalanya dalam kebenaran? Bahkan dikatakan Jibril telah mengunjungi Muhammad sebanyak 124.000 kali, atau hampir 20 x dalam sehari selama kenabian Muhammad? (lihat Wikipedia, kategori “Malaikat”). Lalu kenapa masih kelolosan banyak kerancuan dalam penandaan Al-Qur’an?] Kalau hal itu dikatakan sebagai keajaiban, kesempurnaan, dan yang terindah dari semua kitab, bukankan seharusnya bebas dari kesalahan yang memalukan?

Lama setelah Al-Qur’an ditulis, Abu Al-Aswad Al-Du’ali dan Saybubia (Khalil Ibn Ahmad) menyelesaikan pekerjaan yang tidak sempat dilakukan oleh ‘jibril’. Ketika peletakkan penekanan-penekanan dan tanda-tanda pada huruf telah diselesaikan oleh mereka, pertentangan pun terjadi di antara umat Islam; dan masih terus terjadi sampai hari ini: Al-Qur’an dapat dibaca dalam dua cara yang berbeda, dan kenyataan ini ditegaskan oleh para sarjana Muslim sendiri! Sebaliknya Muhammad mengakui bahwa Al- Qur’an dapat dibaca dengan tujuh cara berbeda (yang akan memberikan arti yang berbeda terhadap kata-katanya) sebagaimana yang dicatat dalam Hadits Shahih Bukhari dan Muslim.

Ketika saya masih kecil, saya bertanya kepada guru agama saya, mengapa (huruf) alif dihapus dari semua huruf-huruf dimana seharusnya ia ditempatkan. Dan guru saya tidak bisa menjawabnya, dan bahkan para sarjana Islam masih tidak memiliki sebuah jawaban. Apakah Jibril telah “memakan” huruf alif tersebut ketika ia mendiktekan ayat-ayatnya kepada Muhammad? Atau, huruf alif ini tidak terdapat dalam perbendaharaan Jibril? Jadi, apanya Quran yang dikatakan keajaiban yang terbesar?

*[Dan tidak cukup dengan itu, siapakah diantara Muslim yang tahu apa yang diturunkan oleh Jibril kepada umat Islam, dalam huruf atau ayat “Alif laam miim”(ayat awal dari surat 2, 3, 29, 30, 31, 32), atau “Thaa sin mim” (fawatih al-suwar, ayat awal dari surat 26 dan 28 dan lain lain total ada 29 surat?]

Al-Suyuti menulis: “Ayat awal dari semua surat adalah rahasia sehingga tidak seorangpun mengerti maksudnya kecuali bagi Allah” (lihat Al-Itiqan, Al-Suyuti, vol.3, p.29). Inikah ujud dari keajaiban Quran yang tak tertandingi? Dengan kesalahan gramatikal, sejarah, dan kalimat-kalimat tanpa arti? Bukankah itu hanya bualan tersendiri dari Muhammad untuk menantang orang-orang bodoh menciptakan satu surat sebaik semisal Quran?
Wahyu via Inspirasi Para Sahabat Muhammad?

Bukti menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu tak lepas dari ciptaan manusia. Kenyataan memperlihatkan banyak di antara ayat-ayatnya berasal dari para pendamping Muhammad dan istri-istrinya. Dengan demikian, apakah Abu Bakar dan Umar Al-Khattab juga merupakan nabi, atas partisipasinya dalam menulis Al-Qur’an? Mari kita lihat beberapa yang narasinya pendek saja.

Umar Ibn Al-Khattab

Abu Bakar bukanlah satu-satunya, masih ada yang lain yakni Umar ibn Al-Khattab mengatakan sebuah pernyataan bahwa “jibril” dengan segera menerima dan menurunkan kepada Muhammad.

Salah satu peristiwa yang disebutkan Al-Suyuti, menunjukkan bagaimana dan dari siapa wahyu Muhammad itu timbul:

“Seorang Yahudi bertemu dengan Umar Ibn Al-Khattab. Orang Yahudi itu beradu argumentasi dengan Umar dan mencoba untuk meyakinkan dirinya bahwa Muhammad bukanlah seorang nabi dan “jibril” yang berbicara kepadanya hanyalah musuh dari orang Yahudi. Umar menjawabnya, ‘Siapapun yang menjadi musuh Allah, dialah musuh para malaikat, para utusannya, Jibril dan Michael, karena Allah adalah musuh bagi orang-orang yang tidak percaya.’ Dan hanya selang dua hari, ucapan tersebut diturunkan menjadi ayat yang bisa kita temukan dalam Al Qur’an, Surat 2:98.”

Zayd bin Thabit [111]

Sebuah kisah lain diceritakan oleh Zayd, salah seorang dari para penulis wahyu Muhammad (Al Qur’an). Ia mengatakan:

“Muhammad menghampiriku lalu berkata, tulislah apa yang telah diturunkan kepadaku, ‘Mereka yang hanya duduk diam di dalam iman tidak dapat disamakan dengan mereka yang bertempur di jalan Allah.’ Di antara mereka pada saat itu, ketika ia sedang mendiktekannya kepadaku, ada Ibn Umm Kulthum, seorang tuna netra. Ia berkata kepada Utusan Allah, ‘Tetapi aku buta.’

Lalu Muhammad berkata kepada Zayd, ‘Tambahkan pada ayat itu, kecuali mereka yang cacat.’”

Apakah itu merupakan pewahyuan yang turun dari surga atau nasihat spontan dari manusia? Saya serahkan kepada Anda untuk memutuskannya.

*[Masalahnya, hanya Muhammad seorang yang menyaksikan perkataannya sendiri sebagai wahyu! Dan itu dengan mengatas-namakan “Jibril”plus “Allah” yang kedua-duanya hanya diklaim. Sementara pewahyuan nabi-nabi sebelumnya hanya berurusan langsung dengan Tuhan sendiri (tanpa Jibril), kenapa Muhammad hanya berurusan dengan “Jibril” tanpa Allah? Maka dalam contoh diatas, tampak sekali klaim demikian mudah nyasar dari sumber tertingginya.]

Abd Allah bin Sa’d

Seorang penulis lain yang dipakai Muhammad adalah Abd Allah bin Sa’d. Ia kemudian meninggalkan nabi karena ia menemukan kenyataan bahwa tidak ada pewahyuan dan tidak ada “jibril.” Ia bersaksi demikian: “Muhammad sebelumnya selalu berkata kepadaku untuk menulis pada setiap akhir bagian: ‘Allah adalah penyayang dan adil’. Tetapi aku menulisnya dengan ‘pengampun dan penuh belas kasihan.’ Lalu Muhammad menjawab, ‘Itu sama saja.’”

Akibatnya Sa’d telah pun meninggalkan Islam. Ia melarikan diri karena Muhammad mengancam akan membunuhnya setelah ia diberitahukan apa yang dikatakan oleh bin Sa’d: “Jika Allah menurunkan wahyu kepada Muhammad, Ia tentu juga akan menurunkannya kepadaku. Ketika Muhammad berkata, ‘Allah mendengar dan mengetahui segalanya,’ aku menulis, ‘Allah maha mengetahui dan adil.’ Jawabannya seperti biasa adalah, ‘bin Sa’d, tulislah apapun yang kau kehendaki.’ ”

Menanggapi tuduhan Sa’d, ayat berikut ini kemudian diturunkan kepada Muhammad, Al-An’am 6:93: “Dan siapakah yang lebih zalim dari orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata, “Telah diwahyukan kepadaku,” padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata, “Aku akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.”

Seperti biasa, “jibril” selalu siap dengan sebuah ayat untuk membenarkan pemlintiran fakta dari Muhammad, ketika ia menumpahkan darah bin Sa’d yang hendak membuktikan kepalsuan nabi.

*[Tentu para pembaca dapat merasakan bahwa bin Sa’d – sebagai penulis wahyu bagi tuannya – tahu persis resiko apa yang bisa dijatuhkan kepadanya bila ia sesumbar menyaingi tuannya sebagai penerima wahyu pula. Tetapi karena itu bukan sesumbar bualan – melainkan fakta yang sebenarnya – maka ia kehilangan respek terhadap tuannya, tidak tahan menghadapi kepalsuan, dan barakhir nekad melontarkan fakta kebenarannya dengan resiko yang harus ditanggungnya!]

Umm Salamah

Umm Salamah, salah seorang dari istri-istri Muhammad, suatu ketika bertanya: “Wahai Utusan Allah, aku tidak pernah mendengar sosok wanita diucapkan selama masa Hijrah (menyingkirkan diri/ minggat ke Medinah).” Kemudian, ayat di bawah ini dengan mudahnya turun: “Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya dengan berfirman, “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan; karena sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.”

“Wahai Utusan Allah, engkau hanya menyebutkan laki-laki tetapi tidak menyebut perempuan.” Seperti biasa, “jibril” sudah siap memberikan kepalsuan kepada Muhammad. Lihat ayat di bawah ini diturunkan jibril: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang Muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, …. dst.”

Masih banyak lagi surat yang turun dari “jibril” untuk memuaskan istri-istri Muhammad dan teman-temannya.

Aisyah

[117] yang mengijinkan penggunaan pasir (dalam bahasa Arab disebut, Al-Tayammum) sebagai persiapan untuk bersembahyang, sebagai pengganti air.[118] Bagaimana pasir bisa membersihkan orang-orang yang akan bersembahyang, bukankah malahan akan menambah kotor? Bagaimana ucapan manusia (Aisyah sehabis sanggama) bisa bernilai wahyu dalam Qur’an?[119] Pertanyaan yang sama-sama bodohnya: apa Jibril kalah terhadap bangkai anjing, atau kalah akal memilih ruang/ rumah lain (atau tempat lain diluar rumah) untuk menurunkan ayat-ayat Allahnya?[120]

Suatu kali, Aisyah, istri yang dimanjakan oleh Muhammad, berkata: “Aku bersama dengan Utusan Allah ketika sebuah penyerangan sedang berlangsung. Ia seperti biasa melakukan hubungan intim denganku, setiap malam. Tetapi ketika pagi hari tiba, ia tidak menemukan air untuk mencuci untuk sembahyang. Aku berkata kepadanya, ‘Muhammad, bukankah kita terbuat dari pasir?’ Dan ia menjawab, ‘Ya, benar.’ Aku berkata, ‘Kalau begitu, mengapa bingung, engkau dan orang-orangmu membutuhkan air namun tidak menemukannya, sedangkan pasir selalu ada di sana. Gunakan saja pasir.’”

Seperti biasa, “jibril”-nya Muhammad turunkan ayat dengan segera

Wahyu dari Pembantu? Terhenti Karena Bangkai Anjing?

Manipulasi Muhammad dan tuhannya dan Jibrilnya tidak hanya terbatas pada hubungan-hubungan yang penting, tetapi meluas kepada hal-hal yang sepele. Sebagai contoh, ada satu kisah populer yang dipercaya ratusan juta Muslim, bahwa wahyu Muhammad bisa terputus karena bangkai anjing. Suatu hari sang nabi bertanya kepada pembantunya: ‘Mengapa, ya Khawla, “jibril” berhenti menurunkan ayat-ayat kepadaku?’ Khawla tentu tak bisa menjawab dengan kepastian. Tetapi tatkala ia bersih-bersih ruangan dan ketika ia membersihkan di bawah tempat tidur sang nabi, ia menemukan seekor anjing mati. (Dan Muhammad tidak mencium bangkai anjing yang telah mati selama beberapa hari di bawah tempat tidurnya? Dan kenapa seorang nabi bertanya kepada pembantunya tentang ruh “jibril” yang dinyatakan oleh Muhammad sendiri bahwa keberadaannya tidak bisa terjangkau oleh beliau, apalagi manusia lainnya (lihat Surat 17:85), bahkan apalagi ditanyakan apa sebab musabab wahyunya terhenti? Yang benar saja! Tetapi itulah hebatnya sang nabi, sebab setelah kamarnya dibersihkan, tuhannya Muhammad menurunkan Surat Ad-Duha 93:5.

Kontradiksi (Pertentangan) Ayat-ayat dalam Al-Qur’an

Tersinyalir bahwa ada lebih dari 24% ayat-ayat Qur’an yang bertentangan satu sama lainnya. Beberapa contoh akan dibahas disini.

Yang “Menghapus dan Dihapuskan”

Kita akan mendiskusikan kontradiksi yang tak masuk akal didalam Al- Qur’an yang sekaligus merupakan praktek membahayakan dimana satu ayat Allah bisa diganti-gantikan dengan ayat lain dengan entengnya, seolah Allah ingin mengatakan: “Sebentar, Aku telah membuat kekeliruan dan Aku perlu membetulkannya sekarang.” Praktek ini di dalam Al-Qur’an dijadikan doktrin Islam dan dikenal dengan istilah Nasikh dan Mansukh, “Yang Menghapus” dan “ Yang Dihapuskan.”

*[Tetapi bagaimana Tuhan Yang Mahatahu mungkin bisa keliru memberikan wahyuNya, sehingga perlu mendatangkan wahyu yang membatalkan wahyu? Secara teologis, doktrin ini sekaligus telah merupakan pengakuan akan adanya kontradiksi wahyu Allah, namun dihalalkan Islam dengan istilah muluk!]

Berikut ini adalah antara lain kontradiksinya yang mencengangkan!

Tidak Ada Paksaan dalam Agama?

Kami tampilkan 4 ayat sejuk yang memberi kebebasan bagi orang-orang untuk memeluk agama mereka selain Islam:

* “Tidak ada paksaan untuk agama; sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat”

* “Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi kitab dan kepada orang-orang yang ummi, “Apakah kamu mau masuk Islam?” Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk (kepada kebenaran), tetapi jika mereka menolak, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan kepada mereka.”

* “Karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kamilah yang menghisab amalan mereka.”

* “Dan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah, Allah mengawasi (perbuatan) mereka, dan kamu (Muhammad) bukanlah orang yang diserahi mengawasi mereka.”

Tetapi pada kenyataan yang sebenarnya, Al-Qur’an tidak dapat mentolerir kebebasan seseorang untuk memilih keyakinan. Ini terjadi setelah Muhammad merebut kekuasaan dan memiliki banyak kekuasaan, sehingga dialah sendiri yang bebas mengubah wahyu mengenai kebebasan secara berlawanan diametral. Semua yang ”non-Islam” harus diperangi dan ditumpasi, termasuk orang-orang yang Allah berikan KitabNya!:

*.“Dan perangilah mereka sehingga tidak ada lagi perlawanan, dan agama itu semata-mata hanya untuk Allah. Jika mereka berhenti, maka tidak ada lagi permusuhan, kecuali terhadap orang-orang yang zalim.”

*.“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (Agama Allah), (bahkan jika mereka adalah) orang-orang yang diberikan kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah

*.“Hai Nabi! Berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka jahanam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya.”

*. “Mereka ingin kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolongmu, hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorangpun di antara mereka menjadi pelindung dan jangan (pula) menjadi penolong.”

Secara keseluruhan, Al-Qur’an mengandung lebih dari 220 kontradiksi. *[Dan setiap ayat-ayat keras itu dapat dipakai secara absah dan halal sesuai dengan kebutuhan dan situasi Islamnya. Malahan dalam Haditsnya, Muhammad terang-terangan memerintahkan penumpasan orang kafir yang harus dikaitkan dengan penjunjungan dirinya berdampingan dengan Allah]:

”Aku diperintahkan untuk memerangi orang-orang sampai mereka mengatakan, ’Tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah

Kontradiksi: Hari Penghakiman

Ibn Abbas mengatakan bahwa, suatu hari seorang Arab mengatakan kepadanya bahwa Al-Qur’an menulis panjangnya sehari penghakiman adalah sama dengan 1000 tahun, sebagaimana yang ditulis dalam Surat As-Sajdah 32:5. Sebaliknya, dalam Surat Al-Ma’arij 70:4 dan di tempat-tempat lainnya, panjangnya sama dengan 50.000 tahun. Abu Abbas menjawab bahwa kedua ”hari” yang berbeda itu dan masa kehadiran mereka memang disebutkan di dalam Al-Qur’an, tetapi Allah lah yang mengetahui jawaban yang sebenarnya mengenai mereka. *[Lihatlah betapa fasihnya Quran menyajikan jurus-jurus pendalilan yang berkelat-kelit dan yang membodohi, demi menutupi ayat-ayatnya yang kontradiktif. Yang satu, dikatakan Allah melakukan koreksi ayat dengan nasikh-mansukh. Yang lain, dikatakan bahwa hanya Allah yang tahu, tanyalah sama Yang Empunya Ayat! Padahal jawaban yang lurus, sederhana, dan benar adalah persis yang Muslim tuduhkan terhadap Alkitab: Kitabmu palsu! Maling teriak maling? Allah pasti tahu, tetapi manusia pun sesungguhnya mudah tahu!]

Kontradiksi Lainnya:

1. “Apabila sangkakala ditiup maka tidaklah ada lagi pertalian nasib di antara mereka pada hari itu, dan tidak ada pula mereka saling bertanya.” (Surat 23:101)

Ini bertentangan dengan

“Sebagian dari mereka menghadap satu sama lain, kepada sebagian yang lain berbantah-bantahan.” (Surat 37:27).

2. “Allahlah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara ke duanya dalam enam hari.”( Surat 32:4)

Ini bertentangan dengan

“Katakanlah: Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua hari? Dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? Demikian itulah Tuhan semesta alam.” (Surat 41:9).

3. “…maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi, dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja.” (Surat 4:3).

Pada ayat di atas, Al Qur’an mengajarkan bahwa ada kemungkinan untuk bersikap adil kepada beberapa orang perempuan, tetapi hal itu bertentangan dengan surat yang sama: “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian…” (Surat 4:129).

4. Dalam Surat 90:1, Muhammad mengatakan bahwa ia tidak bersumpah dengan menggunakan “kota ini” (Mekah): “Aku tidak bersumpah demi kota ini.”

Tetapi kemudian ia mempertentangkannya dengan ayat Surat 95:1-3

“Demi buah tin dan buah zaitun, dan demi bukit Sinai dan demi kota (Mekah) ini yang aman.”

Mungkinkah seorang Nabi Tuhan bersumpah demi buah tin dan zaitun? [Dimanapun, sumpah itu harus didirikan di atas otoritas yang paling berwenang (lebih tinggi daripada yang bersumpah) yang dianggap turut menyaksikan dan meneguhkan sumpah! Anda manusia tak mungkin bersumpah demi nama anjing misalnya, dan Tuhan mustahil perlu bersumpah demi ciptaanNya! Ia sesungguhnya tidak perlu bersumpah, namun bila itu dilakukan juga, maka Tuhan bersumpah hanya demi diriNya. Sumpah yang selainnya hanya bisa datang dari ”wahyu akal-akalan”. Itu sebabnya banyak sekali teman Muslim yang akhirnya meninggalkan Islam karena Qurannya hanya berisi ”sumpah serapah buatan manusia”. Namun Alkitab berkata: ”Sebab manusia bersumpah demi orang yang lebih tinggi, dan sumpah itu menjadi suatu pengokohan baginya, yang mengakhiri segala bantahan... Sebab ketika Allah memberikan janjiNya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diriNya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari padaNya.” (Ibrani 6: 16, 13)]

Kesalahan Sejara

*[Perlu dicatat bahwa ketika Muhammad merujuk kepada cerita Alkitab, ia bukan mengutipnya dari Alkitab, melainkan berusaha memindahkan setting Israel ketanah Arab (Mekah), seperti yang kita saksikan dalam kisah Ibrahim versi Muhammad. HS Bukhari menuturkan bahwa Ibrahim menghantar Hagar dan putranya yang kala itu masih menyusu, pergi ke Mekah karena keduanya diusir oleh Sara. Tidak seorang manusiapun yang tinggal ditempat itu, dan Ibrahim segera pulang kembali kepada Sara sambil meninggalkan mereka berdua disitu. Hagar dan putranya terancam kehausan, sehingga Hagar seperti orang gila berlari bolak-balik 7x dari Shafa ke Marwah, yang akhirnya secara ajaib menemukan mata air Zamzam. Maka merekapun seterusnya menetap di tempat tersebut dimana Ismail belajar bahasa Arab dan kelak kawin disana (HS.Bukhari no. 1475). Tetapi setelah secara “shahih” menceritakan kisah yang dicangkokkan disini, kapankah Ibrahim punya waktu untuk menemui Ismail guna menceritakan tentang mimpinya untuk menyembelih putranya? Untuk tujuan pencocokan legenda ini, maka para sarjana Islam sibuk menyusun kisah alternatif. Namun semuanya tetap dimentahkan dengan satu pertanyaan, dari mana sumber legenda itu diambil? Dari Nabi-nabi sebelum Masehi atau dongeng manusia dan jin-jin sesudahnya??]

Alkitab/Kitab Suci Injil menyatakan bahwa Hagar dan putranya meninggalkan Hebron (tanpa Abraham) dan pergi ke arah selatan, ke Bersyeba (dengan dibekali sedikit roti dan sekirbat air). Di gurun Palestina selatan ini mereka dengan sendirinya tersesat, namun malaikat Tuhan datang menyelamatkan mereka. Dan beberapa tahun kemudian, Hagar, budak dari Mesir itu, mengatur pernikahan putranya dengan seorang perempuan Mesir pula.

*[Pengisahan Alkitab oleh Nabi Musa ini jelas logis dan otoritatif, tanpa jejak akal-akalan manusia sesudah masa Muhammad. Namun secara tiba-tiba Hadist (200 tahun sesudah Muhammad) memastikan Hagar dan Ismael bisa berjalan sampai ke Mekah dengan persediaan makan-minum sekedarnya. Selain itu, disaat sekitar tahun 2000 SM seperti itu, dimanakah dapat ditemukan bukti sejarah atau arkeologi yang menunjukkan adanya akses migrasi atau jalan karavan kesana? Bukankah Hadist Nabi sendiri mengatakan juga bahwa “pemukiman” Mekah tidak exist dalam sejarah sekuno itu (lihat HSB. No.1475, “...Waktu itu tidak ada seorangpun yang tinggal di Mekah”. Alangkah sembrononya dongeng “bunuh diri” yang ingin memindahkan setting Israel ke Arab!]

Kontradiksi Tentang Kewafatan Sayidina Isa Al-Masih

Pertentangan yang paling kritis dan ketara dalam Qur’an adalah mengenai Kewafatan (kematian) Yesus (Isa). Apakah Dia telah dibunuh atau tidak? Surat An-Nisa 4:157 berkata:

…”Sesungguhnya kami telah membunuh al-Masih, Isa Putra Maryam, Rasul Allah, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak pula disalib-nya, tetapi yang mereka bunuh ialah orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.”

Umat Islam selalu mengutip ayat yang tanpa saksi dan bukti ini – satu-satunya ayat yang dipunyai Quran -- untuk menjawab pernyataan orang Kristen tentang penyaliban Kristus. Untuk menanggapi hal itu, umat Islam terpaksa harus melupakan Surat Al-Imran 3:55:

“Ingatlah, ketika Allah berfirman, “Wahai Isa, sesungguhnya Aku akan menyebabkan kematianmu

Di sini Al-Qur’an tidak hanya menyebutkan tentang kematian Yesus (Isa) yang bertentangan dengan ayat sebelumnya, tetapi juga dinyatakan bahwa siapapun yang menjadi pengikut Yesus akan berada di atas orang-orang lainnya pada hari kiamat! Al-Qur’an juga menyebutkan tentang kematian Isa di dalam Surat Maryam 19:33: “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”

Disini ada dua ayat dalam Qur’an yang mengkonfirmasikan kematian Isa anak Maryam, melawan satu ayat yang menolak kematiannya. Apakah ada dua Tuhan berbeda yang masing-masing menyuarakan ”hidup-mati-nya” Isa yang berbeda? Padahal Muhammad berkata, ”Tiada Tuhan selain Allah?” Bagaimana umat Muslim melihat pertentangan yang gamblang ini?

Contoh Kesalahan Fatal Lainnya

Tidak ada nara sumber manapun yang menyebut bahwa Maria yang melahirkan Yesus mempunyai seorang saudara laki-laki. Tetapi Tuhannya Muhammad mengatakan dalam Al-Qur’an bahwa Maria mempunyai saudara laki-laki, (Maryam 19:28). Masih tentang subyek yang sama, Al- Qur’an mengatakan bahwa Maria adalah saudaranya Harun. Ini juga kesalahan fatal sebab Harun adalah orang dari suku Lewi, sementara Maria berasal dari suku Yehuda. Lebih fatal lagi, Harun hidup 1500 tahun SM (sebelum Isa lahir)! Tentulah akan menyulitkan laki-laki itu menjadi saudara laki-laki Maria!

Al-Qur’an juga berspekulasi bahwa istri Firaun-lah yang menemukan Musa di sungai Nil, padahal yang benar adalah Puteri Firaun.

*[Kebenaran ini dinyatakan oleh Musa sendiri yang menulis Taurat dan yang mencantumkan dirinya diasuh oleh putri Firaun! Akankah Muhammad lebih tahu dari Musa tentang Musa? Sedangkan kemustahilan melaksanakan wajib shalat 50x sehari (yang semula diwajibkan Allah bagi Muhammad), itu saja tidak diketahui Muhammad. Dan itu hanya diketahui oleh Musa, sehingga Muhammad disuruhnya untuk menawar kepada Allah hingga jatuh hukum finalnya menjadi 5x sehari! (lihat HS Bukhari 211). Sungguh seluruh Muslim berutang budi kepada Musa yang mencetuskan ”ide-brilliant” kepada Muhammad untuk bernegosiasi dengan Allahnya Muhammad.]

Kesalahan Al-Qur’an terkait dengan ilmu pengetahuan, juga membuktikan bahwa ia bukanlah buku yang berasal dari Tuhan. Sekiranya itu berasal dari Tuhan, seharusnya “kenyataan mengenai alam semesta” adalah yang sebenarnya. Bahkan seandainyapun Al-Qur’an nguping mengutip dari Alkitab, ia tidak melakukannya secara akurat. Sebagai contoh, Alkitab menyatakan bahwa bumi adalah bulat, sebuah globe. Dan itu dinyatakan secara jelas pada abad ke delapan SM – hampir seribu tahun sebelum Muhammad. Yesaya menulis tentang bulatan bumi: “Dia yang bertahta di atas bulatan bumi….”

“Yang Menghapuskan dan Dihapuskan” (Mansukh wa’al Nasikh)

Doktrin ini ada dalam Al-Qur’an. Ini berarti bahwa Muhammad memiliki hak untuk menghapus dan membatalkan ayat-ayat di dalam Al-Qur’an sesuai
kehendaknya. Beberapa kritik menyatakan bahwa tuhannya Muhammad akan membacakan ayat-ayat, dan kemudian setelah beberapa waktu, Ia akan membatalkan atau menghapuskannya. Beberapa ayat dalam Al-Qur’an dibatalkan atau diubah hanya beberapa jam setelah penurunannya kepada Muhammad. Bagaimana Muhammad menangani masalah ini, dan bagaimana ia membenarkan tindakannya atas hal ini?

Alasan pokok: Allah Menggantikan dengan idea yang Lebih Baik?

Pada satu titik, keseluruhan panggilan dan misi Muhammad hampir merupakan kesalahan total. Rupa-rupanya orang-orang Yahudi di Arab sangat kenal akan gaya dan kebiasaan Muhammad tatkala menyampaikan ajaran kenabiannya. Mereka menyatakan bahwa setelah Muhammad memberikan perintah kepada para pengikutnya, ia biasa akan menariknya tidak lama kemudian. Dan seperti biasanya, Tuhan selalu siap untuk mengirim “jibril” dengan sebuah ayat untuk menolongnya keluar dari dilema, serta meyakinkan orang-orang bahwa Allah-lah, dan bukan Muhammad yang memerintahkannya untuk menghapus ayat tertentu: “Ayat mana saja yang kami cabut atau kami jadikan lupa kepadanya, kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Menurut Al-Suyuti, “Pencabutan berarti penghapusan atau pembatalan.”

Dibatalkan oleh Ayam-Ayam?

Banyak ayat yang ditambahkan di dalam Al-Qur’an secara seketika setelah kematian Muhammad. Banyak lagi ayat lainnya yang dihapuskan oleh Utsman bin Affan, yang memerintahkan agar Al-Qur’an diperbaiki dan menaruh penekanan-penekanan pada huruf-hurufnya. Tetapi kemana perginya semua surat dan ayat-ayat yang dihapuskan itu?

Kita bahkan dapat bertanya: Kemana perginya Al-Qur’annya Muhammad? Menurut Ibn Hazm, Aisyah mengatakan bahwa beberapa ayat, seperti mengenai melemparkan batu dan menyusui anak,

Beberapa sarjana Muslim boleh saja menyatakan bahwa ayat-ayat yang telah dimakan oleh ayam tersebut telah dibatalkan. Tetapi tentu saja, mereka tidak mengetahui dengan pasti karena mereka tidak bersama-sama dengan ayam yang memakan ayat-ayat tersebut. Tetapi bagaimana ayat-ayat tersebut dibatalkan setelah Muhammad meninggal? Dan bagaimana mungkin ayam-ayam membatalkan ayat-ayat tersebut, sedangkan beberapa ayat yang sudah dimakan ayam-ayam masih terdapat di dalam Al-Qur’an?

Selanjutnya, Umar bersikeras menambahkan Al-Qur’an dengan ayat-ayat mengenai menyusui anak setelah ia mendengar Aisha menceritakan hal itu. Ia juga hampir menambahkan ayat-ayat mengenai melemparkan batu, setelah mendengar kisahnya dari Ka’b. Namun anehnya, ke mana perginya dua ratus ayat yang sedianya ada dalam Surat Al-Ahzab?

*[Hadits narasi Aisha mengatakan bahwa surat al-Azhab 33 terdiri atas 200 ayat di masa Muhammad. ”Ketika Utsman menyalin ‘masahif’ (kodex) maka kami tidak tahu lagi apa-apa, kecuali bahwa apa yang kita punyai sekarang ini (maksudnya surat al-Azhab entah bagaimana kini hanya berisi 73 ayat seperti Quran di saat ini. Lihat Al-Suyuthi, Al-Itqan II.p.25)]

Bukankah tuhannya Muhammad berkata: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya dari penyelewengan.”

Lalu bagaimana mungkin tuhannya Muhammad tidak menjaga firmannya dan Al-Qur’annya dari ayam-ayam tersebut? Menjaga ayam-ayam itu untuk tidak melahap ayat-ayat Al-Qur’annya? Atau mencegah Utsman untuk menghapus ratusan ayat dari Al-Qur’an? Dr. Mousa Al-Mousawi, seorang sarjana Iran modern, menyatakan: “ Diantara mereka kelompok-kelompok Islam yang mengatakan bahwa ada perubahan di dalam Al-Qur’an, maka para sarjana Shiah adalah persentase yang terbesar di antara mereka.”

Ayat yang Hilang – Surat yang Hilang

Kita menyaksikan dengan mata sendiri bahwa ayat pertama (basmalah) juga dihapuskan dalam Surat-9, At-Tauba. Al-Suyuti, seorang sarjana Muslim terkemuka menegaskan bahwa lebih dari 100 ayat dihapuskan dari surat tersebut.[142] Ia menyebutkan bahwa Ibn Malik mengatakan banyak ayat yang dihapus dari Surat At-Tauba, termasuk ayat “basmalah” tadi. Dan ditegaskan kembali bahwa jumlah ayat sebelumnya adalah sama dengan jumlah ayat dalam Surat 2 (Al-Baqara

Kemana perginya ke dua surat itu? Bagaimana mereka bisa menghilang dari Al-Qur’an salinan Utsman, yang dibaca oleh kelompok umat Muslim Sunni saat ini, tetapi berbeda bentuknya dengan yang dibaca oleh kelompok Shiah? Al-Qur’an Sunni memiliki 114 surat, sedangkan Al-Qur’an Shiah memiliki 115 surat, dimana Surat Al-Wilaya (Pengganti) ditambahkan di dalam Al-Qur’an tersebut.[145]


Murtadin
Tamu


Kembali Ke Atas Go down

Re: Al-Masih, Muhammad dan Saya

Post  Murtadin on Fri Jun 24, 2011 10:55 am

Cara Al-Qur’an Dihimpun Menjadi Kitab

[Kita sedih membaca di banyak tempat – termasuk di Muqadimah terjemahan Al-Qur’an – yang tetap nekad menyatakan bahwa sebelum Nabi wafat, “semua ayat-ayat Quran sudah terturun dan disusun final, menurut tertib urut yang seharusnya, dan terjaga dan terpelihara baik oleh Allah”. Dan Muslim awam mempercayai pernyataan itu mentah-mentah! Jauh dari kebenaran!]

Padahal Muhammad sendiri semasa hidupnya tidak mengumpulkan ayat-ayat yang tesebar di berbagai tempat (selama lebih dari 20 tahun) menjadi sebuah kitab, yang kemudian disebut Al-Qur’an (artinya bacaan).

[Beliau juga tidak pernah memerintahkan para sahabatnya untuk mengumpulkannya dari ayat-ayatnya yang terserak di atas pelbagai alas-tulis yang

dipakai sekenanya oleh tiap pengikutnya. Mereka ini hanya mencatatkan ayat-ayat favoritnya sendiri-sendiri, itupun kalau mereka kebetulan hadir tatkala Nabi mendapat wahyu, yang tempat dan waktunya tidak pernah menentu. (Bisa di rumah, sendirian atau bersama seseorang, di mesjid, dalam perjalanan, di siang hari, atau malam, bahkan dalam peperangan, di bumi atau di surga) Pencatatan dilakukan pada potongan-potongan kayu, lempeng tanah, batu, daun kurma, tulang, kulit binatang, apa saja, dan menyimpannya sendiri-sendiri pula secara lepasan. Ada pula yang mencatat bagiannya dalam otak, alias dihafal. Alhasil, tak ada yang terkumpul penuh, tak ada yang teratur, tak ada urutan yang dibakukan, melainkan masing-masing adalah seporsi himpunan ayat-ayat favorit yang saling berbeda. Itu sebabnya setelah Nabi wafat, Zaid bin Tsabit pada awalnya tetap menolak ketika kepadanya diminta untuk melakukan pengumpulan Quran: “Bagaimana mungkin aku melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan Rasulullah?” (Suyuti, Itqan, i, p.59, dll.) Jelas sekali bahwa penolakan ini sekaligus mematahkan usaha Muslim saat ini untuk menutup-nutupi kenyataan bahwa Quran belum terkumpul, kecuali berserakan, di saat wafatnya Muhammad.]

Namun, Abu Bakarlah, yang kemudian mengumpulkan setelah kematian Muhammad. Tugas itu berlanjut ke tangan Zaid bin Thabit, yang sebelumnya ia merasa harus menyatakan keberatannya: “Ali Ibn Abu Talib datang kepadaku, memintaku untuk melanjutkan Al-Qur’an dan mengumpulkannya menjadi satu. Demi Allah, jika mereka mendelegasikan tugas kepadaku untuk memindahkan gunung, itu tidak akan lebih sulit bagiku dibandingkan apa yang mereka minta aku kerjakan”

Kesulitan macam apakah yang membuat Zaid menjadi begitu tertekan?

As-Suyuti menegaskan dalam bukunya, Al-Itqan, bahwa Utsman memerintahkan untuk membakar semua salinan Al-Qur’an itu, termasuk salinan Ali dan Ibn Mas’ud.

1. Mengapa Muhammad tidak menyusun sendiri Qur’annya semasa hidupnya?

2. Mengapa tuhannya Muhammad atau “jibril” tidak memerintahkan untuk mengumpulkannya sebelum Nabi meninggal?

3. Apakah Allah tidak menjaga firman-Nya (jika itu benar-benar firman-Nya) dari kemungkinan hilang atau diubah?

4. Apakah Allah tidak bisa mencegah pertumpahan darah Utsman dan ribuan orang Muslim lainnya yang berbeda mengenai ucapan-ucapan Allah?

Muhammad bin Abu Bakar, terang-terangan menuduh Utsman menjelang saat membunuhnya, “Engkau telah mengubah buku Allah!” Seperti bin Abu Bakar, begitulah sejumlah besar umat Islam mengatakan dengan yakin bahwa Al-Qur’an telah diubah.

*[Dikatakan dalam buku Nabhan Husein: Tinjauan Ahlus Sunnah terhadap faham Syi’ah tentang Al-Quran dan Hadits, dan juga Hadits Hisyam bin Salim yang diriwayatkan Abi Abdillah, bahwa “Kaum Syi’ah menyatakan bahwa setidak-tidaknya ada 219 ayat-ayat Quran yang palsu. Mereka bahkan percaya bahwa jumlah ayat Al-Quran yang dibawa oleh Jibril kepada Muhammad adalah 17.000 ayat”. Jadi yang terhilang hampir 2x yang tersisa! Inilah perselisihan yang tidak terselesaikan sebagai warisan dari Muhammad. Intinya terletak pada kenyataan bahwa Islam telah kehilangan sumber-sumber otentik lainnya yang diakui pernah ada – berbeda dari yang ada saat ini – namun yang harus dimusnahkan oleh perintah Utsman secara diktator! Dan Syi’ah yang malang terpaksa menerima Quran sekarang apa adanya!]

Jadi pelajarilah semua bukti yang mengelilingi Al-Qur’an dan sejarah rekonstruksinya, yang tentu saja logis sering disembunyikan bagi umum, karena memalukan dan menyesakkan hati!

6. Yesus Kristus (Isa Al-Masih) vs. Muhammad

Pada bab ini, akan kami buktikan keilahian Kristus dari dalam Al-Qur’an dan pernyataan Muhammad dalam Al-Hadits. Kami juga akan membahas mengenai kelahiran, hidup dan penyaliban Kristus. Dan kami akan membandingkannya dengan kehidupan Muhammad, nabi besar umat Islam.

Kelahiran Yesus (Injil vs. Qur’an)

Injil Yohanes pasal 1:14,15 memberi kesaksian tentang eksistensi dan bagaimana Yesus datang ke dunia ini. Nabi Yahya (Yohanes pembabtis) mengatakan dengan berseru: “Inilah Dia (Yesus) yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian daripadaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” Bagaimana Kristus bisa ada sebelum nabi Yahya padahal Yesus lahir enam bulan kemudian setelah dia? Konsepnya jelas. Nabi Yahya berbicara mengenai kekekalan Kristus, karena Ia telah ada sejak kekal. Baik Injil maupun Al-Quran menyaksikan kelahiran Yesus, tetapi alangkah beda bobot kedua kesaksian tersebut sebagai wahyu.

Kesaksian Injil Lukas:

“Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau." Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepadaNya takhta Daud, bapa leluhurNya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan KerajaanNya tidak akan berkesudahan.”

Gabriel, sang malaikat damai, datang kepada Maria, dan mengatakan, “Damai sejahtera atasmu.”

*[Wahai, teman-teman Muslim, ketahuilah bahwa inilah kesaksian, sekaligus pemenuhan nubuat nabi Yesaya (Ilyas) yang tiada taranya tentang kelahiran Yesus, “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel (artinya: Tuhan beserta kita).”

Kesaksian Qur’an

Berikut kita menyaksikan bagaimana Al-Qur’an, Surat 19 (Maryam), menyimpangkan wahyu sejati seperti yang tertulis dalam Injil dan mengarang rekaannya sendiri yang jelas merupakan sebuah kesalahan yang tak masuk akal.

“Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Qur’an, yaitu ketika menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu kami mengutus roh kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata, “Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.” Ia (Jibril) berkata, “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.” Maryam berkata, “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!” Jibril berkata, “Demikianlah. Tuhanmu berfirman “Hal itu adalah mudah bagiku dan agar dapat kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.” Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata, “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan.” Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah, “Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah, “Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.”

Qur’an menceritakan hal yang berlainan, yaitu bahwa Maryam melarikan diri sendirian dari keluarganya ke tempat yang jauh, di-timur antah-berantah, tapi entah kenapa. Padahal tak ada alasan kenapa ia ketakutan dan harus melarikan diri sendirian, karena ia belum hamil disaat itu.

*[tampaknya ada kesalahan Muhammad yang terlanjur menghadirkan suasana kesalahan/ ketakutan Maria sejak awal kisahnya seolah ia sedang was-was memikul sebuah “kesalahan” yang belum dibuatnya.]

Injil menjelaskan Maria tidak melarikan diri, melainkan dalam keadaan mengandung dari Roh Kudus, berangkat ke kampungnya di Betlehem, kota Daud, bersama Yusuf yang menikahinya. Mereka taat melakukan pendaftaran kependudukan (sensus) di kampung asalnya, sesuai dengan perintah kaisar Agustus yang diberlakukan kepada seluruh bangsanya. Tatkala mereka sampai disana, tiba waktunya bagi Maria untuk bersalin.

*[Dan ini persis tepat menggenapi nubuat nabi Mikha secara ajaib, “Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil diantara kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagiKu seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala’’ (Mikha 5:1). Apakah Muslim bisa melihat betapa kesaksian nabi Yahya saling berkonfirmasi disini, yaitu bahwa Yesus telah ada sebelum Yahya ada, bahkan sebelum segala permulaan yang pernah ada. Dan konfirmasi ini terjadi secara nubuat ilahi 800 tahun sebelum Masehi, sehingga tidak ada cara manusia yang dapat menolak kebenarannya, dan sekaligus menafikan setiap manipulasi “Mesias” dari setting Israel, menjadi setting Arab-Mekah.]

Penyimpangan yang sama konyolnya lagi-lagi terjadi ketika Al-Quran melaporkan bahwa Maryam melahirkan sang anak di pangkal pohon kurma, dan kali ini bukan mau melarikan diri, melainkan mau mati saja! “Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata, “Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan.” (Surat 19:23)

*[Aneh, Muslim diam tanpa bertanya kenapa perempuan yang sekaliber Maryam yang telah dipilih khusus, disucikan, dan dilebihkan Allah diatas segala perempuan yang ada di alam semesta itu (Surat 3:42), ternyata hanyalah perempuan kerdil dan berpikiran kotor yang menginginkan kematiannya disaat kesakitan mau melahirkan anaknya. Kematian yang akan membunuh sang anak SUCI yang Allah titipkan dalam rahimnya? (19:19). Bagaimanapun debat orang, Allah pastilah telah memilih perempuan yang salah, lebih rendah dari ibu rata-rata!]

Dosa Muhammad versus Kesucian Isa Al-Masih (Yesus Kristus)

Muhammad mengakui bahwa ia tidak lebih dari seorang manusia, dan Al-Qur’an jelas menunjukkan buktinya: “Katakanlah, sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu.”

*[Muhammad sangat tahu bahwa ia dan para nabi lainnya semuanya sama adalah manusia berdosa. Al-Quran telah berulang menegaskan keberdosaan dari Adam, Ibrahim, Musa, hingga kepada dia Muhammad sendiri (a.l. Surat 2:36; 7:22. 23; 26:82; 28:15,16; 38:24, 25; 37:142; 40:55; 47:19; 48:1,2) Itu dikatakan oleh Tuhan dengan pengecualian Isa Al-Masih (Surat 19:19, 34, HS Bukhari 1493). Itu sebabnya Muhammad sampai saat kritis terakhirnya masih mencari pengampunan Allah dan minta dihubungkan dengan Yesus, sebagai “TemanYang Maha Tinggi”. Sebaliknya, dimanapun – di Al-Quran atau Alkitab – Yesus tidak pernah minta ampun apapun kepada Tuhan, malah sebaliknya memberi pengampunan bagi orang berdosa: “Hai anakKu, dosamu sudah diampuni” (Mar.2:5). Jadi siapa yang hendak kita agungkan dan andalkan?]

Muhammad Jadi Juru-Syafaat dan Perantara?

Alkitab secara langsung memberitahukan kita bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya perantara dan penengah antara manusia dengan Tuhan: “Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepadamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil.”

Sebaliknya, banyak umat Islam percaya bahwa Muhammad dapat menjadi perantara dan penengah di hadapan Tuhan. Tetapi Al-Qur’an menegaskan bahwa Muhammad tidak dapat, dalam situasi apapun, menjadi perantara atau penengah bagi siapapun, termasuk dirinya: “Kamu (Muhammad) mohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka.”

Ironisnya, umat Islam, dalam doa-doa mereka, tampaknya malahan menjadi perantara untuk Muhammad! Dengan menyebut nama Muhammad, setiap orang Islam berdoa bagi Muhammad, dengan berkata, “Kiranya Allah mendoakannya dan memberikannya damai sejahtera.”

Lihat, dimanapun semua nabi adalah pembela umatnya. Tetapi Muhammad adalah satu-satunya nabi yang meminta para pengikutnya untuk mendoakan dirinya, supaya Allah mendengar doa permohonan ratusan juta orang atas namanya, dan memberikan belas kasihan kepadanya.

Muhammad dan para pengikutnya telah mengabaikan satu kebenaran, bahwa tak ada doa di dunia yang bisa mengubah posisi orang di alam baka, “sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.”

* [Muslim perlu lebih jeli melihat isi Al-Quran dari segi hubungan dan peran Muhammad dalam alam akhirat dan penghakiman, khususnya dalam perkara keselamatan atau hidup yang kekal. Itu adalah bagian dari keputusan kita kepada siapa kita mempertaruhkan iman. Muhammad langsung angkat tangan dan berkata terus terang: ”Aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku dan dirimu” (Qs.46:9). Demikian juga kepada anaknya, ”Fatimah, beramallah sebanyak-banyaknya, karena aku tidak dapat menyelamatkan kamu” (HS Muslim I/ 116).

Sebaliknya Yesus berkata: ”Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan barangsiapa yang dikehendakiNya. Bapa tidak menghakimi siapapun, melainkan telah menyerahkan penghakiman itu seluruhnya kepada Anak, supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa ... barangsiapa mendengar perkataanKu dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup”. Yoh.5:21, 22, 24].

Muhammad Dibawah Kuasa Setan

Adalah Muhammad sendiri yang membedakan Kristus dengan semua manusia. Ia, seperti yang dikutip oleh Al-Bukhari, mengatakan sbb: “Setan menusuk dengan jarinya ke bagian tubuh setiap manusia pada saat ia lahir, kecuali Isa, anak Maryam, ketika menusuknya, ia menusuk kain pelindungnya.”

Mengapa Setan tidak menusuk/ menyentuh Yesus tetapi menusuk Muhammad? Jawabannya terletak pada ucapan baik Yesus maupun Muhammad sendiri. [Muhammad, seperti yang sudah dikatakan, menyatakan bahwa Isa Al-Masih itu sosok yang suci tanpa dosa dan selalu berkata benar (Surat 19:19, 34), sehingga kuasa dosa (setan) tidak menaklukkannya.] Yesus berkata: “...Penguasa dunia ini (setan) datang, dan ia tidak berkuasa sedikit pun atas diriKu.”

Namun setan mempunyai kuasa atas semua manusia yang berdosa. Al- Qur’an memberitahukan bahwa Muhammad sama persis dengan manusia lainnya, semuanya rentan dikuasai oleh setan, sehingga harus minta perlindungan : “Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul.”

Lebih lanjut, Al-Qur’an sendiri malahan membuktikan kuasa setan telah berlaku atas Muhammad:

“Dan jika engkau diganggu oleh setan dengan sesuatu gangguan maka hendaklah engkau berlindung kepada Allah...”

Beberapa sarjana muslim mencoba menyangkal bahwa Muhammad berada di bawah pengaruh mantera jahat, meskipun para sejarawan Muslim mengakui kenyataan yang menggemparkan tersebut. Cukuplah dikutib disini pernyataan seorang sejarawan Muslim yang terbesar, dimana beliau harus setuju bahwa Muhammad pernah dimanterai. Al-Suhaili menulis:

“Lubaid bin Al-A’sam dari suku Zuraiq menaruh mantera kepada Muhammad. Hal ini diberitakan terbuka dan diketahui dengan baik di antara banyak orang, dan ditegaskan oleh seluruh sarjana yang menulis Hadits (ucapan Muhammad). Mo’ammar mengutip Al-Zuheiri yang mengatakan bahwa Sang Nabi berada di bawah mantera jahat selama satu tahun. Sehingga Nabi berkhayal bahwa ia melakukan sesuatu padahal ia tidak melakukan apapun. Jumlah mantera jahat itu ada sebelas macam, dan Zainab orang Yahudi itu membantu Lubaid bin Al-A’sam untuk melengkapinya.[167]

Al-Bukhari menulis,[168] untuk memberikan penjelasan mengenai apa yang terjadi terhadap…

“Muhammad, dan bagaimana ia dimanterai oleh Lubaid dengan pertolongan puteri-putrinya sendiri, yang mengambil beberapa rambut Muhammad dan sisirnya, yang dikubur di sumur Zi Arwan, yang berada di salah satu taman kota.”

Mereka yang belum tahu tetapi ingin yakin akan kebenaran cerita tentang Muhammad yang takluk di bawah kuasa setan dengan mantera, bisa membaca banyak referensi Islam yang menegaskan hal ini.[169]

Sheikh Muhammad Mutawalli Al-Sha’rawi menulis:

“Masalah ini, yaitu Muhammad berada dalam pengaruh mantera, ditulis oleh Sahih Al-Bukhari, dan hal ini jelas diterima sebagai sebuah kenyataan, dimana ia berkhayal (berhalusinasi) melakukan sesuatu padahal ia tidak melakukannya.” [170]

Jadi bagaimana mungkin seorang rasul Tuhan bisa dikuasai oleh mantera jahat [dan kelak – seperti yang telah dikupas di depan – rasul ini juga dikuasai oleh racun makanan, yang turut mempercepat kematiannya], padahal ia seharusnya memiliki kuasa untuk mengusir setan dan mementalkan racun?

Bacalah Al-Qur’an, dan tidak usah yang lain. Apakah Anda menemukan satu dari dua puluh empat nabi yang disebutkan di dalam Al- Qur’an yang terkena mantera, sihir, atau dibelenggu oleh kuasa setan, seperti Muhammad? Tidak ada, selain Muhammad.

Setelah semua itu, teman Muslim kita masih mengatakan, Muhammad adalah “penutup dari semua nabi dan tuan dari semua utusan!” Nabi apa? Dan utusan yang mana? Nabi yang sesungguhnya memiliki standar moral dan kekudusan yang jauh lebih tinggi daripada sekedar Muhammad.

Dalam perbandingan, Al-Masih mengatakan:

“Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.”[171]

Tetapi, Rasul Islam mengatakan:

“Aku diperintahkan untuk memerangi orang-orang sampai mereka mengatakan, Tidak ada Tuhan selain Allah. Jika mereka mengatakan itu, maka darah mereka dan barang milik akan diberikan belas kasihan”[172].

“Hai nabi, berjihadlah (lawanlah) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka.”[173]

[Utusan Terbesar harus ditandai dengan sesuatu transformasi universal yang mudah tampak dan diakui dalam perubahan dan pemulihan ke dunia baru, dimulai dari pembaharuan hati menjadi manusia baru. Dan itulah yang dilakukan oleh Yesus, diakui baik oleh Injil maupun Al-Quran!:

Oleh Injil:

"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." (Luk4:18-19).

Lalu orang-orangpun menyatakan pengakuannya:

“(mereka) takjub dan tercengang dan berkata: "Ia (Yesus) menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.”

Oleh Al-Quran:

“…orang yang paling dekat kasih sayangnya terhadap orang-orang beriman, ...yaitu orang Nashara... disebabkan diantara mereka ada pendeta-pendeta dan rahib-rahib, dan sesungguhnya mereka itu tidak menyombongkan diri.”

“…dan Kami berikan Injil kepadanya, dan Kami jadikan perasaan santun dan kasih sayang dalam hati pengikut-pengikutnya...”

(Surat 5:82, 57:27).

Sebaliknya, tak ada ayat dalam Quran dan Hadits dan Sirat Nabi yang menunjukkan bahwa Muhammad membuat pembaharuan hati, melainkan hanya membuat para pengikutnya keluar memerangi kafir dan menjarahi hartanya, namun ke dalam juga saling mengkafiri dan membunuh sesama Muslim. Persis seperti yang telah dinubuatkan dalam Taurat Musa tentang keturunan Ismael, ”Engkau (Hagar) mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya Ismael, sebab TUHAN telah mendengar tentang penindasan atasmu itu. Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya." (Kej.16:11-12)]


Murtadin
Tamu


Kembali Ke Atas Go down

Re: Al-Masih, Muhammad dan Saya

Post  Murtadin on Fri Jun 24, 2011 10:56 am

7. Al-Masih dalam Al-Qur’an

Keberadaan Isa Al-Masih dikisahkan Al-Qur’an dengan seratusan ayat. Dua puluh lima diantaranya menyebutkan nama Isa.

*[Banyak keistimewaan Isa yang supranatural sudah diungkapkan Quran, namun sebanyak itu pula yang disembunyikan, dikaburkan, dikerdilkan, atau diplintirkan oleh para ulama Islam di sepanjang masa. Diantaranya pengakuan para Malaikat yang maksud aslinya diselewengkan, sehingga seterusnya keseluruhan keberadaan, sifat dan hakekat Isa menjadi oknum lain dari yang dimaksudkan.]

Al-Qur’an menyaksikan kisah kelahiran Yesus, dari seorang perawan yang paling mulia sejagad, dipilih untuk “melahirkan” Kalimat Tuhan kedunia:

“Dan (ingatlah) ketika Malaikat berkata, ‘Wahai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia.”

[175] Tersebar dalam surat-surat utama Al Baqara (2), Al-Imran (3), Maryam (19), Al-Mu’minun (23 dan Al-Hadid (57). [176]. Lihat foote-note.

“Dan (ingatlah) ketika Malaikat berkata, ‘Wahai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, nama-Nya Almasih ‘Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah) dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan ketika sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang saleh.”[177]

*[Semestinya para Malaikat (bukan satu malaikat) memaksudkannya sbb: “... Allah memberikan kepadamu kabar-baik (Injil) dengan satu Kalimat dari Allah yang namaNya Almasih, ‘Isa, putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat, ditempatkan dekat dengan Allah...”. Dengan terjemahan asali ini, maka kita tidak termakan oleh tafsiran plintiran seolah-olah Isa terjadi karena suara-kalimat “Kun” (Jadilah!), melainkan satu sosok Firman Tuhan yang diturunkan menjadi Isa. Karena Ia itu Firman, maka – tanpa usah plintiran – Ia senantiasa lurus berfirman (berwahyu), bahkan sejak bayipun! (Surat 19:29-34). Dengan demikian semua keberadaan (being) dan unsur-unsur supranatural dari Isa Al-Masih dapat dipahami tanpa kontradiksi, tanpa nyeleweng, atau dipaksa- plintirkan.]

Ingatlah: Muhammad menceritakan kisah tentang Kristus, kadang-kadang dengan mengutip apa yang didengarnya dari Alkitab, namun kebanyakan dengan menambahkan atau menghilangkan kebenarannya. Al-Qur’an menyatakan kehidupan dan perbuatan Al-Masih.

“Dan sebagai nabi bagi bani Israel, (yang berkata kepada mereka), ‘Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mujizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung

Pada ayat di atas, Muhammad menegaskan bahwa Al-Masih adalah Tuhan dan bukan seorang nabi biasa, karena sifat menciptakan hanya dimiliki oleh Tuhan, dan Tuhan tidak pernah memberikan kuasa tersebut kepada siapapun. Jika Tuhan mengijinkan manusia untuk memilikinya, maka akan ada persaingan antara Tuhan dan manusia. Akibatnya, bisa terjadi kekacauan.

*[Lebih jauh lagi, seperti yang sudah diutarakan, Isa juga satu-satunya dinyatakan suci tanpa dosa, satu-satunya diperkuat oleh Rohulqudus, berbicara langsung (muka per muka) dengan Allah (3:55; 5:110; 3:48), tahu hal-hal ghaib (3:49), atau dalam istilah Injil: “mengetahui isi hati manusia”, dan ini mutlak diperlukan pada waktu Isa kelak menjadi Hakim yang Agung di hari penghakiman! Ada dua lagi sifat dan otoritas keilahian Isa yang tak bisa disangkal dengan cara apapun. Yaitu Isa mampu mengadakan makanan surgawi (5:112-115), sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh seorang Allah. Menyusul Isa mempunyai otoritas membuat dan menetapkan hukum Allah (3:50). Quran mengatakan ini secara lurus, bukan tafsiran. Dia-lah Hukum, ketika Ia berkata: “Kamu telah mendengar firman: ‘Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu...” (Mat.5:27-28)]

Yesus menentang orang-orang Farisi, yang mengetahui bahwa Yesus adalah Anak Daud, tetapi tidak mengetahui bahwa Dia adalah juga Tuhan. Oleh karena itu Yesus bertanya kepada mereka (dan kini bertanya sama kepada Muslim), “Jika Kristus adalah anak Daud, bagaimanakah Daud oleh pimpinan Roh dapat menyebut Dia Tuannya?”[180] Orang-orang Farisi, yang merupakan pemimpin agama pada saat itu, langsung bungkam karena mereka mengetahui bahwa Raja Daud, yang juga Nabi, dalam rohnya, dapat melihat Yesus sebagai Tuhan yang Maha Kuasa.

Jika Anda mempelajari sifat-sifat Kristus di dalam Al-Qur’an, Anda akan menyadari bahwa Al-Qur’an membenarkan sifat-sifat Yesus yang hanya dimiliki oleh Tuhan. Al-Qur’an menyebutkan 25 nabi, termasuk Muhammad. Pertanyaannya disini, “Mana di antara nabi-nabi tersebut yang dapat melakukan apa yang telah ditunjukkan oleh Yesus?” Dapatkah Muhammad menyembuhkan orang sakit? Ia bahkan tidak dapat menyembuhkan dirinya sendiri! Muhammad tidak dapat menjamin seseorang untuk hidup kekal. Ia tidak bisa menjamin untuk dirinya sendiri. Kenyataan yang terbalik, satu-satunya yang dapat dijamin oleh Muhammad adalah bahwa semua orang Islam akan pergi ke neraka:

“Dan tidak ada seorangpun daripadamu kecuali mendatanginya (neraka). Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan”[181]

Trinitas Al-Qur’an dan Alkitab

Setelah memperlihatkan unsur-unsur keilahian Isa Al-Masih, Al-Qur’an juga memberikan contoh yang sangat indah untuk menggambarkan Trinitas yang Kudus menurut kata-kata aslinya (bukan menurut tafsiran):

“Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan Kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan Roh dari-Nya.”[182]

Dalam ayat ini, Allah sedang berbicara mengenai Firman-Nya (“Anak” yang diutus), dan Roh-Nya. Hal ini memperjelas tentang, keilahian Bapa, keilahian Anak dan keilahian Roh Kudus, dalam kesatuan Tuhan. Bagaimana hal ini mungkin terjadi? Sederhana. Sama seperti ketika Anda mengalikan 1x1x1 dan hasilnya adalah 1. Dalam ayat di atas, penulis Al-Qur’an mengutip dari nara-sumber Nasrani (Alkitab) dengan caranya sendiri dan cara pengungkapannya sendiri. Sayangnya, penulis Al-Qur’an mandek sepenggal-sepenggal dan tidak “mengutipnya” secara berkelanjutan dan bertanggung jawab.

Namun semua penggalan kisah Alkitab yang ditulis dalam Al-Qur’an tetap saja dianggap oleh umat Islam sebagai “cerita dari para nabi.”

Sebagai contoh, Muhammad mengambil puasa dan perpuluhan dari Perjanjian Lama, tetapi karena kurang mengetahui, ia lalu menyelewengkannya. Ketika ia membahas tentang hak laki-laki dan perempuan, perempuan hanya diberikan setengah dari bagian yang dimiliki laki-laki. Mengapa? Dimana keadilan dan kesetaraan Islam yang dislogankan? Tidak seorangpun yang tahu.

Iman pada Satu Tuhan

Ayat-ayat Al-Qur’an yang menarik perhatian saya – dan perhatian setiap umat Islam yang membaca Al Qur’an – adalah: “Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.”

Ayat ini menuduh orang Kristen telah menambahkan partner bagi Tuhan (mempersekutukan Tuhan). Lebih dangkal lagi, umat Muslim berasumsi bahwa umat Kristen mengajarkan bahwa Tuhan berhubungan intim dengan manusia (Maryam), yang kemudian menghasilkan seorang anak. Betapa pemahaman yang kotor dan menjijikan.

Menyesal sekali

Alkitab dengan jelas mengajarkan bahwa hanya ada satu Tuhan. Taurat menyatakan ke-esa-an Tuhan: “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!”

Injil melanjutkan menegaskan ajaran dari Taurat dan Perjanjian Lama tentang doktrin ke-esa-an Tuhan. Rasul Paulus menulis kepada jemaat Efesus bahwa orang-orang Kristen percaya pada “Satu Tuhan, satu iman….”

Dan Yesus Kristus mengajarkan pada pendengar-Nya sebuah pelajaran maha-penting yang entah kenapa justru diabaikan oleh umat Islam: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu…. Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.”

Soal Tritunggal

Umat Muslim menuduh bahwa orang Kristen sesat karena percaya pada tiga Tuhan. Tentu itu salah wahyu, sebab ke-Trinitas-an Tuhan dalam konsep Kristen bukan tiga Tuhan, melainkan satu Tuhan dalam tiga pribadi seperti yang telah dijelaskan. Mereka bertanya, bagaimana engkau bisa mempercayai bahwa satu di dalam tiga dan tiga di dalam satu? Apakah itu masuk akal? Pertanyaan ini mudah saja, mudah sekali. Alam semesta dan segala yang ada di dalamnya diciptakan untuk menunjukkan ke-tritunggal-an dari Tuhan Tritunggal. Yaitu, dari atom yang sangat kecil sampai dengan matahari yang sangat besar, mereka dibuat dalam trinitas. Anda tidak bisa menemukan satu jenispun di alam semesta ini yang tidak satu di dalam tiga dan tiga di dalam satu.

Substansi atom bisa disebut atom kalau ia terdiri dari neutron, proton dan electron: tiga di dalam satu dan satu di dalam tiga. Bagaimana kita dapat menerima ke-tritunggal-an alam semesta dan semua obyek di sekitar kita, namun kita menolak ke-tritunggal-an Tuhan?

Dalam keterbatasan hakekat manusia, konsep tiga adalah satu, juga sesungguhnya tercermin dalam diri manusia yang terdiri dari Tubuh, Roh dan Jiwa. Untuk alasan ini, Kristus dapat berkata, “Aku dan Bapaku adalah satu.”

*[Mereka juga menyerang: Trinitas tidak terdapat dalam Perjanjian Lama (PL), kenapa sifat hakekat Allah jadi berubah dalam Perjanjian Baru (PB)? Mereka salah lagi, karena PL justru banyak menggambarkan keberadaan Tuhan yang tritunggal, yang kelak dideskripsikan lebih jelas dalam PB. Baca antara lain Kitab Kejadian 3:22, Yesaya 48:16, dan 63:8-10.]

Namun demikian, para ulama Islam telah memberikan pemikiran yang berurat-akar kepada umat Islam bahwa umat Kristen menyembah tiga Tuhan. Kekristenan percaya kepada satu Tuhan yang tidak mempunyai (pasangan) isteri, dan tidak dilahirkan dari hubungan keduanya seperti dituduhkan umat Muslim secara buta. Satu-satunya yang secara keji memberikan pasangan kepada Tuhan adalah Islam dan umat Islam sendiri dan bukan orang Kristen!

*[Encyclopedia Britannica (yang diakui sangat otoritatif) secara obyektif mengungkapkan adanya kekeliruan Quran tentang Trinitas, dalam vol.2, p.7008:

“(There are) mistaken concepts of the Trinity in Quran”...

Bukti kedangkalan pemahaman Muhammad (sekaligus kesalahan) disini tercatat dalam pernyataannya atas nama wahyu; “Allah tidak mempunyai anak dan tiada Tuhan bersama-Nya, kalau sekiranya demikian niscaya tiap-tiap tuhan membawa makhluk yang diciptakannya dan sebagian dari tuhan tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain” (Surat 23:91). Dia tidak cukup canggih untuk tahu bahwa 3-Pribadi yang Dzat-KodratiNya Mahakasih itu tidak usah dan tidak mungkin bersaingan dan berperang sesamanya! Muhammad bahkan tidak tahu Mahadewa Tri-Murti yang eksklusif sekalipun tidak harus berperang sesamanya!

Dan apa yang disebut Muhammad dengan “3 Tuhan”, ternyata salah pula pewahyuan akan oknumnya, karena ia menduga Allah kekristenan adalah Bapa Allah, kawin dengan Ibu Allah (Maryam), menghasilkan Anak Allah (Isa), sesuatu yang diharam-jadah-kan oleh setiap orang Kristen (Surat 6:101; 5:116; 9;30; 5:75). Kita prihatin begitu banyak Muslim yang tidak sadar akan kesalahan Muhammad terhadap “Trinitas”, tetapi malahan ikut-ikut menuduh apa yang tidak dipelajarinya dengan baik. Menyembah 3-Tuhan itu syirik, dosa yang tak terampuni menurut Islam. Namun menfitnah Kristen menyembah 3-Tuhan itu lebih syirik. Bagaimana itu harus diampuni Allah secara konsekwen, yang berkata: “Jangan kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.” (Surat 4:171)]

8. Salib dan Yang Tersalib

Yesus Kristus datang ke muka bumi dengan satu tujuan utama: menyelamatkan umat manusia dari ancaman kematian kekal di neraka. Untuk penyelamatan itu Yesus harus mati sebagai kurban-tebusan (mati di atas kayu Salib), menggantikan kematian kekal atas seluruh umat manusia yang berdosa. Dalam Hukum Ilahi, orang berdosa tidak dapat menanggung dosa sesamanya. Sedangkan setiap orang telah berdosa, dan upah dosa ialah maut. Jadi satu-satunya cara untuk memenuhi pengadilan Tuhan bagi orang yang bersalah, adalah orang yang berdosa tersebut harus mati bagi dosanya sendiri, atau “seseorang” yang tidak berdosa bersedia menggantikan tempatnya. Siapakah “seseorang” yang tidak berdosa yang pernah ada di dunia? Ialah Yesus Kristus, sempurna dan tidak bercacat, dimana Hukum Ilahi di atas tidak bisa dikenakan kepada diriNya. Ialah yang menjadi Domba Paskah yang dikurbankan bagi penebusan dosa umat manusia. Inilah arti penebusan dalam konsep keselamatan Tuhan sejak Adam terusir dari Firdaus, dan dilambangkan dengan pencucuran darah (tanda kematian) baik dimasa Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

*[Satu Adam dalam Perjanjian Lama yang jatuh dalam dosa telah menyebabkan dunia dikuasai kutuk dosa yang mematikan, maka satu Yesus – sebagai “Adam Baru” dalam Perjanjian Baru – yang memberikan nyawaNya (darah-Nya) di atas kayu salib, demi menghidupkan semua umat manusia . (Mat.20:28)]

Perjanjian Lama berbicara mengenai lambang anak domba Paskah (darah domba atau lembu tak bercacat yang dikurbankan

Dalam hal ini Yesus telah mendeklarasikan tentang kedatanganNya ke bumi ini: ”Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:45)

*[Muslim tidak banyak yang tahu, tetapi itulah yang dilambangkan Tuhan, ketika Abraham terang-terangan diperintahkan Tuhan untuk mempersembahkan anaknya Ishak sebagai kurban bakaran. (Ini jelas bukan versi Quran yang mendongengkan mimpi Ibrahim untuk menyembelih sang anak, sebuah mimpi yang mustahil bisa dipercayai oleh Anda atau Ibrahim bahwa Allah menginginkan anak Anda/ dia dibunuh oleh Anda/ dia sendiri!). Disini Ishak melambangkan anak manusia yang harus mati karena dosanya, namun anak domba yang tak bercacat telah melambangkan Mesias, Anak Domba Elohim, yang ganti menjadi kurban tebusan bagi dosa anak manusia. Itu sebabnya dalam Quran masih tampak jejak perlambangan Sang-Kurban, namun diselewengkan oleh para ulama Islam menjadi “kurban binatang untuk sedekahan” dihari raya Haji.

Lihat cermat-cermat Surat 37:107, terjemahan Depag, “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”. Ini adalah terjemahan yang menyesatkan. Karena teks-asli tidak berurusan dengan kata-kata “seekor” atau “sembelihan” yang mengarah kepada binatang, melainkan “And We ransomed him with a great sacrifice” (atau a mighty/ noble sacrifice, berturut-turut terjemahan Yusuf Ali, Arberry, dan Dawood), yang mengarah kepada sosok “Kurban Agung” atau “Kurban Mulia” atau “Kurban Dahsyat” sesuai dengan kata aslinya yang dirujukkan kepada salah satu Asma Allah Al-Azhim, Yang Maha Agung). Kurban Agung itulah Yesus, yang disaksikan Nabi Yahya: “Lihatlah, Anak Domba Elohim yang menghapus dosa dunia”! (Yoh.1:29)

Kita ingin mempertanyai Muslim, untuk apakah Isa didatangkan Tuhan Elohim kedunia ini dengan segunung kuasa mujizat, padahal dia sebesar-besar kegagalan dalam pendakwaannya (menurut versi Islam)! Sebab tak ada murid aslinya yang “Islami” tersisa, semuanya ditelan oleh murid Paulus yang sesat, dan tak ada “Injil Asli Islami” yang dapat memberkati dunia, semuanya lenyap seperti hal dirinya Isa yang juga dilenyapkan Allah entah kemana?!

Sesungguhnyalah, Salib dan Penyaliban Yesus adalah tujuan yang paling pokok kenapa Yesus harus datang kedunia sesuai dengan janjiNya, “Sebab inilah darahKu, darah perjanjian, yang ditumpahkan (sebagai kurban) bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.” (Mat.26:28) Salib adalah satu-satunya harapan manusia untuk diselamatkan, namun ia sengaja diselewengkan menjadi batu sandungan bagi Muhammad yang “ummi”, dan pengikutnya yang ummi rohani!]

9. Apakah Alkitab Diubah?

Dalam bab dua, kami telah menunjukkan betapa meragukan dan membingungkan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai Sabda Allah yang sejati. Juga bertambah keraguan setelah mempelajari kehidupan Muhammad sebagai sosok yang katanya diutus oleh Allah. Mudah melihat bahwa seorang Socrates akan tampak jauh lebih mulia daripada Muhammad.

Namun untuk menutup keraguan umat, Islam mencari sasaran musuh bersama, yaitu menuduh Alkitab telah dipalsukan orang-orang yang tidak mempercayai kenabian Muhammad. Umat Islam sudah terpatri berpikir bahwa Alkitab telah diubah untuk setiap issue yang tidak selaras dengan Quran! Namun saya mengajak umat Muslim perlu mengheningkan diri sambil mencairkan kebekuan nalarnya dengan melihat ayat-ayat berikut ini.

Tuhan Yesus telah menyatakan: “Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.”

Kitab Mazmur Daud juga mengkonfirmasikan keabsahan dan kekekalan peraturanNya: “Aku tidak akan melanggar perjanjianKu, dan apa yang keluar dari bibirKu tidak akan Ku ubah.”

Kita bisa meneruskan essensi ini sampai ke langit, seperti yang diucapkan Yesus dalam Injil Matius: “Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.”

Bagaimana dengan pesan Musa kepada umat Israel? Lihat Kitab Ulangan yang mengatakan: “Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya, dengan demikian kamu berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu.”

Dan Tuhan sendiri memberikan sebuah peringatan yang luar biasa pada paragraph terakhir dalam kitab terakhirNya di Alkitab: “Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: "Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.”

Di atas tadi adalah beberapa dari kumpulan ayat-ayat yang meyakinkan kita bahwa firman Tuhan Semesta tidak pernah akan berubah. Juga haram merubah atau mengganti perkataan-Nya sendiri, seperti yang sering terjadi di dalam ayat-ayat Al-Qur’an dimana Allah bahkan mengumumkan untuk mengubah pikiran dan mengganti perkataanNya sendiri (baca: menjilat air ludah sendiri). Kenyataannya Allah yang mengucapkan sesuatu dengan pasti, namun Dia pula oknum yang menyangkalnya dengan kepastian! “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan pesan (wahyu disemua kitab-Nya) dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (Surat Yunus 10:64).

Muslim sering lupa bahwa sebagian orang-orang Arab dizaman Muhammad itu mempelajari Alkitab pada masanya, seperti Pendeta Nawfal dan keponakannya, Khadijah, yang sering meminta nasihat tentang ke- Nasranian. Mereka inilah antara lain yang mengetahui bahwa Alkitab dulu itu tidak pernah dituduh palsu, melainkan justru dirujukkan kebenarannya! Itu sebabnya, Alkitab bahkan sampai dijadikan rujukan resmi oleh Muhammad, ketika ia menyatakan bahwa didalam kitab Injil terdapat Petunjuk dan Cahaya, yang membenarkan kitab Taurat, yang memberi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. (Surat 5:46)

Bagaimana umat Islam bisa menuduh umat Kristen mengubah kitab mereka, padahal Allah di dalam Al-Qur’an selalu mendesak Muhammad melihat kepada Alkitab jika ia membutuhkan pertolongan untuk memahami sesuatu yang sifatnya spiritual? Akankah Muhammad diperintahkan untuk melihat kepada Alkitab jika Alkitab telah diubah? Al-Qur’an mengatakan:

“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka, maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (Kristen dan Yahudi) jika kamu tidak mengetahui.”

[199] [200] [201]

*[Ini tentu saja merupakan suatu tamparan yang telak tanpa usah ditafsir-tafsirkan lagi, yang seharusnya menyadarkan setiap Muslim yang telah terbius dan terus saja berputar-putar menyalah-nyalahi Alkitab!]

10. Betapa Al-Qur’an Memutar-balikkan Al-Kitab

Dalam bab ini, Anda akan melihat bagaimana beberapa kisah penting dalam Alkitab diputar-balikkan di dalam Al-Qur’an.

*[Ringkasan ini cukup membatasi satu saja kisah yang diputar-balikkan, yaitu tentang kisah terkenal dari Abraham dengan setting asli Israel, hendak diubah menjadi setting Arab.]

Abram yang Menjadi Abraham

Kisah tentang Abraham ditulis di dalam Taurat. Dimulai dengan Kitab Kejadian pasal 11, yang membahas tentang keturunan Sem, anak Nuh. Abraham adalah salah satu keturunan Sem. Di pasal 12, Tuhan memerintahkan Abram untuk meninggalkan Haran. Alkitab katakan: “Lalu pergilah Abram (yang kemudian namanya diubah oleh Tuhan menjadi Abraham dan istrinya Sarai menjadi Sara) seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.”

*[Dari Haran mereka masuk ketanah Kanaan, dekat Sikhem, dimana Tuhan berbicara dengan menampakkan diriNya kepada Abram. Maka Abram mendirikan Mezbah disitu. Lalu Abraham berpindah ke dekat Betel dimana ia mendirikan pula mezbah bagi Yahweh, dan kelak di Hebron mendirikan mezbah bagi keluarga dan keturunannya. Jadi tampak jelas bahwa di tempat-tempat tertentu dimana Abraham menetap, ia tidak lupa untuk mendirikan Mezbah untuk menyembah Tuhannya. Mezbah pertama mustahil didirikan puluhan tahun kemudian di Mekah seperti yang didongengkan Islam. Bahkan menurut Islam sendiri, Tuhan Elohim tidak pernah muncul dan menampakkan diriNya di Mekah kepada nabi manapun, termasuk Muhammad!]

Abraham membawa Sarai, isterinya, bersamanya. Kedua laki-laki itu, Abraham dan Lot, adalah orang yang sangat makmur, masing-masing memiliki sejumlah besar binatang ternak gembalaan dan domba. Setelah mereka tiba di tanah Kanaan, kelaparan melanda negeri itu. “Ketika kelaparan timbul di negeri itu, pergilah Abraham ke Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing, sebab hebat kelaparan di negeri itu.”

Abraham lalu kembali ke Palestina, di mana Tuhan berkata kepadanya: “Bersiaplah, jalanilah negeri itu menurut panjang dan lebarnya, sebab kepadamulah akan Kuberikan negeri itu." Sesudah itu Abram memindahkan kemahnya dan menetap di dekat pohon-pohon tarbantin di Mamre, dekat Hebron, lalu didirikannyalah mezbah di situ bagi TUHAN.”

[203]. [204] Agaknya Muhammad ingin mengatakan bahwa Abraham tidak beribadah dengan mezbah selama puluhan tahun menetap di Kanaan? Sungguh penghinaan terhadap Abraham![205]]

Abraham tinggal menetap di Hebron, yang sekarang dikenal dengan Al-Khalil (artinya, sahabat Tuhan, dinamakan menurut nama Abraham), di mana mezbah dan makamnya masih tetap ada.

*[Itulah mezbah utama Nabi Abraham dan keluarganya, dan lucu kalau diklaim tanpa bukti, dialih-paksakan Islam ke Mekah, dimana Ka’bah dianggap sebagai Baitullah pertama yang dibangun di dunia oleh Ibrahim dan Ismail:

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) ialah Baitullah di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”

Ibraham memiliki hubungan yang sangat erat dengan Tuhan, dan mereka berdua kerap mengadakan percakapan yang bersahabat. Suatu ketika, Abram berkata kepada Tuhan: “Ya Tuhan, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu…. Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku."”

Hal ini dikarenakan istrinya, Sara, mandul dan tidak dapat melahirkan anak. Sebagai gantinya, Sara meminta Abraham untuk mengambil Hagar, budak yang diberikan kepada Sara oleh Firaun ketika ia masih di Mesir, supaya Hagar menjadi isteri, agar dapat memberikan Abraham keturunan. “Jadi...Abraham menghampiri Hagar, lalu mengandunglah perempuan itu. Ketika Hagar tahu, bahwa ia mengandung, maka ia memandang rendah akan nyonyanya itu. Lalu berkatalah Sarai kepada Abram: "Penghinaan yang kuderita ini adalah tanggung jawabmu; akulah yang memberikan hambaku ke pangkuanmu, tetapi baru saja ia tahu, bahwa ia mengandung, ia memandang rendah akan aku…. Kata Abram kepada Sarai: "Hambamu itu di bawah kekuasaanmu; perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik."”

Akibatnya, Sarai memperlakukan Hagar dengan sangat buruk, sehingga ia melarikan diri. ”Lalu Malaikat TUHAN menjumpainya dekat suatu mata air di padang gurun, yakni dekat mata air di jalan ke Syur. Katanya: "Hagar, hamba Sarai, dari manakah datangmu dan ke manakah pergimu?" Jawabnya: "Aku lari meninggalkan Sarai, nyonyaku."”

*[Apa yang Anda tampak disini? Baik Sara, maupun Abraham, dan Malaikat TUHAN tetap menyebut Hagar sebagai hamba Sarai, sekalipun Hagar sudah diperistri oleh Abraham! Artinya Hagar dan keturunannya cuma mendapatkan hadiah, tetapi tidak menjadi ahli waris dari kekayaan – apalagi kenabian – Abraham! Ia malahan dipersalahkan lebih jauh karena mudah menjadi sombong dan telah melawan dengan memandang rendah nyonyanya sendiri, sifat yang kelak diturunkan pula kepada Ismael. (Kej.16:12)]

Kurang lebih tiga belas tahun kemudian, ketika Abraham berusia 99 tahun, malaikat Tuhan menampakkan diri kepadanya dan menjanjikan kelahiran anaknya dari Sara yang saat itu berusia 90 tahun. Di samping itu, dalam Kejadian 17 tersebut, Tuhan:

§ Menjanjikan anak laki-laki Abraham akan lahir setahun kemudian.

§ Mengubah nama Abram menjadi Abraham.

§ Mengubah nama istrinya dari Sarai menjadi Sara.

Cerita ini berlanjut:

“Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri. Berkatalah Sara kepada Abraham: "Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.” Hal ini sangat menyebalkan Abraham oleh karena anaknya itu.

Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: "Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak. Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena iapun anakmu."

Abraham menunjukkan kekesalannya atas permintaan Sara mengenai Hagar, namun Tuhan menampakkan diri dan menyuruhnya untuk mendengarkan Sara.

*[Abraham yang teruji itu tentu taat sepenuhnya kepada Tuhan, maka iapun menyuruh (baca: mengusir menuruti Sara) hamba perempuan itu persis seperti apa yang perintahkan Tuhan kepadanya. Namun Muhammad dengan Jibrilnya yang tak teruji itulah yang membelotinya menjadi Abraham yang ikut mengantar Hagar dan Ismael sampai ke Mekah. Suatu penyelewengan kisah yang tak masuk ke akal, mengingat Sara dan Ishak pasti tak mungkin ditinggalkan Abraham demi melayani Hagar yang hamba yang diusir itu, karena sempat berdosa terhadap nyonyanya (sombong dan memandang enteng Sara yang tadinya mandul.)]

“Keesokan harinya pagi-pagi Abraham mengambil roti serta sekirbat air dan memberikannya kepada Hagar. Ia meletakkan itu beserta anaknya di atas bahu Hagar, kemudian disuruhnyalah perempuan itu pergi. Maka pergilah Hagar dan mengembara di padang gurun Bersyeba. Ketika air yang di kirbat itu habis, dibuangnyalah anak itu ke bawah semak-semak, dan ia duduk agak jauh, kira-kira sepemanah jauhnya, sebab katanya: "Tidak tahan aku melihat anak itu mati." Sedang ia duduk di situ, menangislah ia dengan suara nyaring. Allah mendengar suara anak itu, lalu Malaikat Allah berseru dari langit kepada Hagar, kata-Nya kepadanya: "Apakah yang engkau susahkan, Hagar? Janganlah takut, sebab Allah telah mendengar suara anak itu dari tempat ia terbaring. Bangunlah, angkatlah anak itu, dan bimbinglah dia, sebab Aku akan membuat dia menjadi bangsa yang besar." Lalu Allah membuka mata Hagar, sehingga ia melihat sebuah sumur; ia pergi mengisi kirbatnya dengan air, kemudian diberinya anak itu minum. Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah. Maka tinggallah ia di padang gurun Paran, dan ibunya mengambil seorang isteri baginya dari tanah Mesir (seorang wanita dari tanah kelahiran Hagar).”

*[Abraham tak bisa lain kecuali menyiapkan bekal berupa roti dengan sekirbat air kepada Hagar dan Ismael. Itu berarti bahwa bekal ini hanya mampu bertahan sebatas perjalanan yang sangat pendek (hingga Bersyeba), tidak mungkin sampai berbulan-bulan atau bertahun-tahun hingga ke Mekah. Sebagai makhluk yang dihargai dan dikasihi, Tuhan menciptakan bagi mereka sebuah sumur disitu – tentu bukan sumur ZamZam di Mekah seperti yang didongengkan sesukanya – sehingga kehidupannya dapat berkelanjutan sebagai bangsa yang besar seperti yang dijanjikan Tuhan. Ismael bersama ibunya yang orang Mesir itu menetap seterusnya di padang gurun Paran sebagai orang Mesir dan menikah dengan wanita Mesir.]

Ketika Ishak berusia kurang lebih empat belas tahun, Tuhan memerintahkan Abraham untuk membawa Ishak ke Gunung Moria, di mana ia harus mempersembahkan anaknya yang tercinta sebagai korban kepada Tuhan. Abraham mematuhinya, karena itu adalah perintah langsung dari Tuhan dengan berfirman, jelas dan spesifik, yaitu ISHAK (bukan mimpi atau tafsiran mimpi seperti yang didongengkan Quran, yang tidak berani menyebutkan nama si anak yang diminta oleh Tuhan untuk dikurbankan bagiNya!).

*[Ternyata perintah Tuhan untuk pembunuhan sang anak yang tadinya terasa sangat aneh dan kejam itu bukanlah sekedar ujian Tuhan semata untuk iman Abraham, (Allah sudah lebih tahu) melainkan justru untuk mengilustrasikan betapa Ishak (yang menyimbolkan anak manusia yang harus dihukum mati karena dosa-dosa yang dibuat manusia) ditebus oleh Anak-Domba (yang melambangkan kurban penebusan Yesus di atas kayu salib kelak, seperti yang sudah diterangkan di depan.)]

Alkitab berkata: “Abraham mengambil domba itu, lalu mengorbankannya sebagai kurban bakaran pengganti anaknya. Dan Abraham menamai tempat itu: "TUHAN menyediakan"; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: "Di atas gunung TUHAN, akan disediakan.”

Ketika Abraham meninggal, ia berusia 175 tahun. “Dan anak-anaknya, Ishak dan Ismael, menguburkan dia dalam gua Makhpela, di padang Efron bin Zohar, orang Het itu, padang yang letaknya di sebelah timur Mamre.”

§ Abraham meninggalkan seluruh kehidupannya di Palestina setelah meninggalkan Haran, kecuali sebuah kunjungan singkat di Mesir.

§ Ia tidak pernah mengunjungi Semenanjung Arab. Ismael juga tidak pernah tinggal di Mekah di Semenanjung Arab, tetapi tinggal di dekat ayahnya, yang memungkinkan dia bisa hadir pada saat pemakaman ayahnya.

Jadi, mari kita cari tahu kebenarannya: Apakah Al-Qur’an menceritakan kisah ulang yang asli tentang Abraham sebagaimana yang telah ditulis dalam Alkitab, ataukah ia membajak ceritanya dengan sensoran, imbuhan, dan plintiran yang menjadikannya malah kabur dan tak masuk nalar??

Perhatikan dua jenis perintah aneh dalam Al-Quran seperti dibawah ini.

Yang satu perintah Allah kepada Abraham dan Ismael untuk membersihkan Ka’abah: “Dan ingatlah ketika kami menjadikan rumah itu tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebagian makam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang itikaf, yang rukuk dan yang sujud (berdoa).”

Yang ke dua, perintah dari Abraham kepada anak-anaknya yang hidup lebih dari dua ribu tahun sebelum Islam itu sendiri muncul (¡): “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub, “Wahai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.”

Bagaimana mungkin pernyataan sedemikian konyol, dapat dipercaya sebagai wahyu, sebab Yakub (yang dinamai Israel) dan seluruh keturunannya adalah orang-orang Yahudi totok, dan mereka hidup ribuan tahun sebagai bangsa Israel sebelum Islam datang dan memusuhi mereka? Setting Israel hendak ditelan oleh dongeng apaan dari Qur’an ini?!

Mengenai kisah Zamzam, Al-Qur’an mengatakan Allah memerintahkan agar As-Shafa dan Marwah

Maka Muhammad pun membuat tujuh perjalanan Hagar mencari air sebagai bagian dari ritual umat Islam yang naik haji, seperti yang dikatakan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar (ritual) Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke baitullah (Ka’abah di Mekah) atau berumrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan Sai antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.”

Memindahkan setting Israel ke Arab tentu kurang memuaskan bila tidak menafikan “keyahudian” Abraham itu sendiri. Maka dikatakanlah bahwa Abraham itu bukan seorang Yahudi bukan pula seorang Nasrani, tetapi seorang Muslim yang sangat taat (Surat 3:67). Kita layak bertanya, apakah “Islam” yang disebutkan di dalam Al-Qur’an ini memakai retorika pidato ataukah berdasarkan arti yang sebenarnya sebagai wahyu, bahwa ia adalah seorang Muslim, ribuan tahun sebelum Islam itu sendiri muncul?

*[Bagaimana mungkin Muslim mempraktekkan standar ganda mengatakan Abraham – bapak Ishak dan Yakub (Israel) dari keturunan Yahudi – bukan sebagai kepala suku bangsa Yahudi, sementara Ismael yang berdarah Mesir dan kawin dengan istri Mesir, itu disebut sebagai kepala suku bangsa Arab? Kitab Taurat dan seluruh Alkitab menyebutkan Tuhan Elohim itu sebagai Tuhannya Abraham, Ishak, dan Yakub. Tak ada disangkutkan dalam kesejajaran dengan Ismael.

Kisah keseluruhan Abraham ini tersebar di dalam Al-Qur’an, dalam lebih dari delapan puluh ayat, yang kemudian dikumpulkan dan dirangkaikan oleh Al-Hamid Al-Sahhar menjadi sebuah kisah yang sebagiannya disangkutkan kepada “fakta” yang seharusnya dibuktikan (namun sudah dianggap fakta), dan sebagian lainnya diusahakan untuk dicocok-cocokkan ke akal. Namun menyisakan begitu banyak antagonisme dan pendongengan yang tidak satupun tercarikan jejaknya dimasa silam. Misalnya Hagar dikisahkan sebagai seorang yang berpendidikan, ex-istri dari Raja Mesir Selatan. Raja ini ditaklukkan oleh Firaun, lalu mengambil Hagar sebagai tawanan budak, yang nantinya dihadiahkan kepada Sara.]

Lebih jauh lagi, Al-Qur’an mengatakan bahwa Al-Qur’an hanya mendongengkan bahwa Abraham bermimpi, lalu merasa harus mempersembahkan seorang anak sebagai kurban. (tanpa disebut namanya, padahal itu hendak dijadikan dasar untuk mengkoreksi Alkitab). Tetapi Alkitab, sebagai sumber cerita yang sebenarnya, meyakinkan kita semua bahwa Tuhan berbicara dengan Abraham dan meminta Ishak secara spesifik untuk dipersembahkan, di atas bukit Moria, sebelah utara Hebron, bukan jauh di padang gurun Arab entah dimana.

Akhir kata, sebagai seorang Muslim, mereka telah diajarkan oleh Al- Qur’an bahwa Alkitab adalah firman Tuhan yang sempurna, sekalipun para Ahli Kitabnya banyak yang korup. Oleh karena itu, selayaknyalah kita harus mempercayai apa yang dikatakan Alkitab. Jika kita katakan Alkitab telah diubah ke-aslian-nya, pertanyaannya adalah, “Mengapa?” dan “Untuk kepentingan siapa?” [Dan bagaimana hal itu dapat dilakukan mengingat begitu sakral-nya setiap ayat itu dipelihara, baik oleh kubu Yahudi, maupun oleh Nasrani, yang saling bersaing dikala itu.] Semua bukti justru menunjukkan hal yang sebaliknya, yaitu bahwa Alkitab tidak pernah berubah, melainkan dibenarkan. Bahkan, cukuplah bagi kita untuk memperoleh kesaksian dari Al-Qur’an yang meyakinkan bahwa Alkitab adalah sempurna, dengan menyatakan Tuhan telah menurunkan Peringatan (Alkitab) dan bahwa Allah memeliharanya.

Jika kita menerima bahwa Alkitab adalah benar, maka kebanyakan cerita dalam Al-Qur’an telah merubahnya. Jika kita percaya bahwa Alkitab adalah benar dan Al-Qur’an juga benar, maka kita akan memiliki dua “Tuhan”, satu Tuhan di dalam Alkitab dan satu lagi Tuhan yang menurunkan cerita yang berbeda di dalam Al-Qur’an. Tetapi tidak mungkin, Alkitab dan Al-Qur’an memiliki kesamaan dalam hal ini, karena hanya ada satu Tuhan, bukan dua. Jadi sudah jelas, kitab mana yang benar dan berotoritas

Kesimpulan

Saya menulis buku ini agar teman-teman dan kerabat-kerabat Muslim saya, secara khusus keluargaku yang tinggal di Mesir, negara-negara Arab dan kepada umat Islam di seluruh dunia dapat membedakan yang batil dan kebenaran yang lurus. Bahwa kebenaran itu ada dalam diri Yesus Kristus dari Nasaret. Umat Islam berdoa beberapa kali sehari agar Allah dapat menuntun mereka kepada jalan yang lurus.

Yesus berkata: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

Inilah JALAN LURUS yang dicari umat Muslim sedunia!

Yesus Kristuslah Jalan Lurus itu, jalan yang akan membawa Anda ke surga. Jika Anda ingin mencapai surga, tidak ada jalan lain selain percaya kepada Sang Jalan, yaitu Yesus Kristus yang telah mati untuk menebus dosa-dosa Anda. Terimalah Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat Anda. Damai sejahtera akan menjadi milik Anda saat disini, dan surga disaat nanti. Anda tidak akan menjadi kecewa. Amin.

[1] Pembaca yang hendak melihat lebih jauh Empat terjemahan utama Al-Qur’an terdapat di:

[2] Berbagai tulisan Hadits dan Sunah dapat ditemukan di:

[3] Mu’ammar al-Qadhafi, presiden Lybia, terkenal anti Barat dan Israel.

[4] Lihat bagan di akhir dari Pendahuluan ini.

[5] Surat ini dalam Al-Qur’an dengan jelas mengatakan bahwa Allah me-nyesatkan orang yang ia kehendaki: 4:88; 6:39; 13:27; 14:4; 16:93 dan 74:31.

[6] Juga dikenal dengan nama ‘Amr bin Hisham. Lihat juga Bab 3.

[7] Orang-orang yang disebut sebagai “Kristen” dalam buku ini, biasanya merujuk kepada agama yang berakar dari agama Roma Katolik.

[8] Dari Al-Sira Al-Halabia oleh Burhan El-Deen Al-Halabi.

[9] Al-Sira Al-Halabia oleh Al-Halabi, hal. 380. Lihat juga Hadith of Sahih Muslim & The Life of Muhammad oleh Dr. Muhammad Hussein Haikal (1982), hal. 148-149.

[10] Imam Abu al-Fadl ‘Abd al-Rahman ibn Abi Bakr Jalal al-Din al-Suyuti (1445-1505) adalah seorang guru Mesir, mengarang hampir 500 karya tulis; salah satu penulis Muslim yang produktif. Dia biasa dikenal dengan sebutan “Al-Suyuti.”

[11] The Jurisprudence of the Life of Muhammad oleh Al-Suyuti, hal. 68-69.

[12] The Life of the Prophet by Ibn Hisham, hal. 174.

[13] Lihat The Beginning and the End oleh Simail Ibn Kathir, Vol. III, hal. 15; Sirat Al-Maghzai, oleh Ibn Ishaq, hal. 133; Rawd Al-Unuf oleh Ibn Hisham, hal. 271-272; The Life of Muhammad oleh Dr. Haikal (1982), hal 152; dan Al-Isaba fi tamyiz al-Sahaba (Finding the Truth in Judging the [Muhammad’s] Companions) oleh Ibn Hajar Asqalani (1372-1449), Vol IV, hal. 273.

Liat The Life of the Prophet’s Wives oleh Dr. Sa’id ‘Ashur, hal. 37 dan 49; Assad Al Galba (The Lion of the Forest) oleh Ibn Al-Athir, hal. 189; Al-Isaba fi tamyiz al-Sahaba, Part IV, hal. 330; dan The Wives of the Prophet oleh Al-Shati’, hal. 59-60.

[25] Dalam cerita yang serupa lihat Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources oleh Martin Lings (1983), hal. 106.

[30] Untuk informasi selanjutnya, baca “Yurisprudensi dari Kehidupan Muhammad (Faqh Al-Sirah) oleh Sa’id ‘Ashur, hal. 126; dan Al-Isaba fi tamyiz al-Sahaba oleh Ibn Hajar Asqaliani, Vol. IV, hal. 307.

[35] Sahabat dekat dari Muhammad, dikenal dengan sebutan “Orator dari Rasul Allah.” Lihat Hadits Sahih Bukhari, Vol. 5, Book 590, #659 & 662; dan Hadits Sahih Muslim, Book 1, #215 & Book 29, #5650.

[36] Lihat The Life of the Prophet (Sirat Al-Nabi) oleh Ibn Ishaq & The Wives of the Prophet oleh bint Al-Shati’, hal. 173-176, “The Beautiful Captive.” Hal ini ditermukan dalam bentuk lain di Sunan Abu-Dawud, Book 29, #3920 dan Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources by Martin Lings (1983), hal. 241-242.

[37] The Wives of the Prophet, hal. 137.

[38] Al-Isaba fi tamyiz al-Sahaba oleh Ibn Hajar, Vol. IV, hal 284.

[41] Lihat Al-Isaba fi tamyiz al-Sahaha oleh Ibn Hajar Asqalani, Bagian VII. Hal. 291 dan The Wives of the Prophet, hal. 217.

[43] Lihat Hadith dari Sahih Bukhari, Vol. 3, Buku 43, #648 dan Sura Al-Ahzab (Golongan Yang Bersekutu)

[44] Surat Al-Tahrim (Pengharaman), 66:1

[45] Lebih dari 20 sarjana Muslim mencatat cerita ini, termasuk: Al-Istiab, Vol. IV, hal. 1812; Oun Al-Ithr, Vol. II, hal. 402; Al-Samt Al-Thamin, hal. 85; Al-Zamkhashri, hal. 562-63; The Causes of Descendancy oleh Al-Suyuti, hal. 280; Al-Ittiqan oleh Al-Suyuti, Vol. IV, hal. 92; Fuqaha’ Al-Sahaha oleh Abd. Al-Aziz Al-Shanwi, hal. 38; dan The Life of Muhammad by Dr. Haikal, hal. 450, entitled, “The Revolution of the Wives of Muhammad.”

[46] Lihat, sebagai contoh, Surat An-Nisa’ (Wanita) 4:89

46a Lihat surat al-Baqara 2:197

[47] Surat Al-Abzab (Golongan Yang Bersekutu) 33:50

[49] Lihat Surat Al-Baqara (Sapi) 2:222

[51] Dalam salah satu versi dari kejadian ini, lihat Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources oleh Martin Lings (1983), hal. 117.

[52] Lihat Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources, hal. 58. Abu-Jahl (‘Amr bin Hismam) disebutkan terus dalam Hadits Sahih Bukhari dan Sahi Muslim, demikian pula dalam Sunan Abu-Dawud.

[53] Yaitu, anak perempuan dari Abu Jahl (Abu Al-Hakam).

[54] Variasi dari kalimat terakhir dapat ditemukan pada Hadits Sahih Bu-khari, Vol. 5, Book 57, #61 & 111; Hadits Sahih Muslim, Buku 31, #6000. Cerita lengkapnya bisa ditemukan dalam Hadits Sahih Bukhari, Vol. 4, Book 53, #342; Vol. 5, Book 57, #76 dan Hadits Sahih Muslim, Buku 31, #5999, 6001 & 6002.

[55] Surat An-Nisaa’ (Wanita)

[56] Cerita ini dikonfirmasikan dalam The Causes of Descendancy oleh Al-Suyuti, hal. 73; dalam Al-Zamkhashri, Vol. I, hal. 131; dalam The Sahih oleh Musnid, hal. 47 dan dalam sebagian besar referensi Islam.

57 The Beginning and the End oleh Ibn Kathir, Vol. IV, hal. 339.

[58] Lihat Hadits Sahih Bukhari, Vol. 4, Book 53, #370; demikian pula Hadits Sahih Muslim, Kitab 19, Bab 13 “Mengenai hak para pembunuh untuk memiliki seluruh harta dari orang yang mereka bunuh dalam pertempuran,” #4340-433. Lihat juga Jawami’ Al-Sira oleh Ibn Hazm, hal. 191 dan The Jurisprudence of the Life of Muhammad (Faqh Al-Sira) oleh Al-Bouti, hal. 299.

[59] Perang Badar terjadi pada tanggal 17 Maret, 624.

[60] Hudhayfah Ibn al-Yaman (meninggal tahun 656).

[61] Hadits mengatakan bahwa hanya mereka yang pada Perang Badar yang menjadi Muslim yang akan diselamatkan. Inilah mengapa Hudhayfah marah! Lihat Hadits Sahih Bukhari, Vol. 5, Book 59, #354; Vol. 9, Book 83, #5; dan Hadits Sahih Muslim, Boku 1, #173-175.

[62] Lihat Hadits Sahih Bukhari, Vol. 4, Buku 56, #704-705; Vol. 9,

Bab 1”The People Are Subservient to the Quraish and the Caliphate is the Right of the Quraish,” # 44... .

[63] The History of the Caliph oleh Al-Suyuti, hal. 10.

[64]Hadits Sahih Bukhari, Vol. 4, Book 56, #705 dan Vol. 9, Book 89, #254.

[65] Hal ini bersumber dari apa yang dinamakan Farewell Adresss dari Muhammad: “Hai orang-orang! Sesungguhnya Tuhanmu itu hanya satu dan Bapamu juga satu. Kamu semua berasal dari keturunan Adam dan Adam diciptakan dari tanah liat. Tidak ada keistimewaan orang Arab di atas orang non Arab dan orang non Arab di atas orang Arab ... kecuali dalam hal kesalehan.”

[66] The Beginning and the End oleh Ismail Ibn Kathir, hal. 171.

[69] The Light of Certainty (Nur Al-Yaqin), 24th edition, p. 235-237.

[70] Kehidupan Muhammad, Dr. Haikal, p. 441-442; The Beginning and the End, IBn Kathir, Vol. IV, p. 353; Jawami’ Al-Sira, Ibn Hazm, p.159; Rawd Al-Unuf , As-Suhaili, Vol. IV, p. 156-157; Al-Sira Al-Halabia, Al-Halabi, Vol. III, p.85-97; dan History of Nations and Kings oleh Al-Tabari, Vool. III, p. 175-76.

[72] Lihat The Life of the Messenger oleh Imam Muhammad bin Abd Al-Whab, hal. 85.

[73] Surat Al-Baqara (Sapi) 2:217.

[75] Surat Al-Anfat (Rampasan Perang) 8:12.

[76] Surat Al-Anfat (Rampasan Perang) 8:1.

[78] Surat Nuh (Nabi Nuh) 71:26

[79] Perang Uhud terjadi pada tanggal 23 Maret, 625.

[80] Surat Al-Imran (Keluarga Imran) 3:121-181.

[81] Tahun ke-empat Hijrah. Yaitu tahun 626 (empat tahun setelah Hijrah, perginya Muhammad dari Medinah ke Mekah).

[83] Kisah ini, dari sudut pandang Aisha diberitahu dalam Hadits Sahih Bukhari, Vol 3 Book 48, #805, 829; Vol. 5, Book 59, #462-464; dan Vol. 6, Book 60, #274-278.

[84] Untuk “pencerahan” lengkapnya, lihat Surat Al-Nur (Cahaya) 24:1-26.

[85] Surat Pewarisan (dikecualikan dari semua Al-Qur’an Sunni) terdapat dalam semua Al-Quran Syiah, terdiri dari lima ayat: “Demi Allah yang maha pengampun lagi maha penyayang. 1. Wahai orang beriman! Berimanlah pada nabi dan Pelindung. 2. Yang berasal dari yang lain. 3. Dan aku yang mendengar dan mengetahui. 4. Yang beriman dan berbudi baik akan mendapatkan surga. 5. Terpujilah Tuhanmu, dan Ali adalah salah satu saksi.”

[87] Lihat juga The Life of the Prophet oleh Ibn Hisham, Vol. III, hal. 118-143 (yang juga menulis kejadian-kejadian lain yang tidak dimuat di sini); The Life of Muhammad oleh Haikal, hal. 347-351 (yang menambahkan lebih banyak perjelasan mengenai kekejaman Muhammad); dan Al-Sira Al-Halabia oleh Al-Halabi, Vol. II, hal. 675-677. Cerita ini juga ditemukan dalam Rawd Al-Unuf oleh Imam As-Suhaili, Vol. III, hal. 267-271 dan dalam buku-buku oleh Al-Tabari, Ibn Kathir, Ibn Khaldoon, Al-Booti, Al-Khudri dan Al-Adid. Semua pengarang menulis mengenai cerita mengerikan ini.

[88] Lihat The Perfect in Histroy oleh Al-Athir, Vol. II, hal. 142.

>The history of Nations and Kings oleh Al-Tabari, Vol. II, hal. 127.

[90] Kehidupan Nabi, Vol. IV, hal. 134.

[91] Lihat The Beginning and the End oleh Ibn Kathir, Vol. V, hal. 989; dan The Life of Muhammad oleh Dr. Haikal, hal. 488.

[92] Ayat-ayat Al-Qur’an yang memprovokasi kaum Muslim untuk berpe-rang dan mendorong mereka untuk membunuh termasuk Surat An-Nisaa’ (Wanita) 4:76, 77, 89, 91, 95 & 104.

[94] Surat Al-Anfal 8:65. terjemahan Yusuf Ali.

[95] Matius 5:39.

[96] Surat Muhammad 47:35, terjemahan Yusuf Ali.

[98] Dia seorang pengkhotbah Al-Qur’an yang terkenal di Mesir.

[99] 2.5% - yaitu, Al-Zakat. Lihat Bab 4, Catatan kaki #54.

[100] Lihat Surat Al-A’raf (Tempat Tertinggi) 7:160.

[101] Lihat Surat At-Tauba (Pengampunan) 9:69.

[102] Lihat Surat Al-Hajj (Haji) 22:69.

[103] Lebih jelas lagi, Al Qur’an “diwahyukan” dalam dialek suku Quraish. Lihat Hadits Sahih Bukhari, Vol. 6, Buku 61, #507.

[104] Lihat Hadits #5751 (Mishkat, Vol. 3). Bukan dalam Ahadits Bukhari atau Muslim, tetapi dari ucapan asli Muhammad, menurut Kamus Hadits Al-Qari (Al-Asrar Al Marfu’a), diterjemahkan dan ditulis oleh GF Haddad. Bahasa Arab juga ditekankan dalam Al Qur’an. Lihat Surat Ash-Shu’ara’ (Para Penyair) 26:195; Az-Zumar (Rombongan-rombongan) 39:28; Ha Mim Sajdah (Yang Dijelaskan) 41:3, 44; Ash-Shura (Musyawarah) 42:7; Az-Zukhruf (Perhiasan) 43:3; Ad-Dukhan (Kabut) 44:58; Al-Ahqaf (Bukit-bukit Pasir) 46:12; dan An-Nahl (Lebah) 16:103.

[105] Lihat Bab 3, catatan kaki #18 untuk lebih jelasnya.

[106] Disebut sebagai “tanda diacritical”, yang diletakkan di atas atau di bawah sebuah huruf yang dapat mengubah arti atau kala (tenses) sebuah kata, pengucapan atau suasana; atau untuk membedakan antara satu kata lain dengan kata yang benar-benar berbeda.

[107] Majmoo’ Al-Fatawa (Kompilasi Fatwa), Vol. XVII, hal 101.

[108] Lihat Al-Ittiqan oleh Al Suyuti, Vol. I, hal 160. Lihat juga Behind the Veil: Unmasking Islam oleh Abd El Schafi (1996), hal 189-194.

[109] Lihat Hadits Sahih Bukhari, Vol. 3, Buku 41, #601; Vol. 4, Buku 54, #442; Vol. 6, Buku 61, #513-514; Vol. 9, Buku 93, #640; dan Hadits Sahih Muslim, Buku 4, Bab 139: “Al Qur’an telah Diwahyukan dalam Tujuh Cara Baca dan Artinya,” #1782-1790.

[110] Al-Ittiqan oleh Al-Suyuti, Vol. I, hal 100.

[111] Lihat Al-Baydawi, hal 123; Al-Kashaf oleh Al-Zamkhasri, Vol. I, hal 53; Al-Ittiqan oleh Al-Suyuti, hal 98; Sahih Al-Mustanad, hal 53; dan The Causes of the Revelation oleh Al-Wahidi, hal 98.

[112] Lihat The Causes of Descendancy oleh Al-Suyuti, hal 12 &121.

[113] Surat Al-An’am (Binatang Ternak) 6:93.

[114] Surat Al-Imran (Keluarga Imran) 3:195

Murtadin
Tamu


Kembali Ke Atas Go down

Re: Al-Masih, Muhammad dan Saya

Post  Sponsored content


Sponsored content


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 :: Kesaksian :: Protestan

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik