Silahkan masukkan username dan password anda!
Login

Lupa password?

Latest topics
» Ada apa di balik serangan terhadap Muslim Burma?
by Dejjakh Sun Mar 29, 2015 9:56 am

» Diduga sekelompok muslim bersenjata menyerang umat kristen
by jaya Wed Nov 27, 2013 12:30 am

» Sekitar 6.000 orang perempuan di Suriah diperkosa
by jaya Wed Nov 27, 2013 12:19 am

» Muhammad mengaku kalau dirinya nabi palsu
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:53 pm

» Hina Islam dan Presiden, Satiris Mesir Ditangkap
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:50 pm

» Ratusan warga Eropa jihad di Suriah
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:48 pm

» Krisis Suriah, 6.000 tewas di bulan Maret
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:46 pm

» Kumpulan Hadis Aneh!!
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:43 pm

» Jihad seksual ala islam!
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:40 pm

Social bookmarking

Social bookmarking Digg  Social bookmarking Delicious  Social bookmarking Reddit  Social bookmarking Stumbleupon  Social bookmarking Google  Social bookmarking Blinklist  Social bookmarking Blogmarks  Social bookmarking Technorati  

Bookmark and share the address of Akal Budi Islam on your social bookmarking website

Bookmark and share the address of on your social bookmarking website

Pencarian
 
 

Display results as :
 


Rechercher Advanced Search

Poll
Statistics
Total 40 user terdaftar
User terdaftar terakhir adalah tutunkasep

Total 1142 kiriman artikel dari user in 639 subjects
Top posting users this month

User Yang Sedang Online
Total 3 uses online :: 0 Terdaftar, 0 Tersembunyi dan 3 Tamu

Tidak ada

[ View the whole list ]


User online terbanyak adalah 23 pada Sat Jun 04, 2016 11:25 pm

Allah Islam adalah Tuhan Yahwe?

 :: Debat Islam :: Aqidah

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Allah Islam adalah Tuhan Yahwe?

Post  Saksi on Sun May 08, 2011 10:52 pm


Muhammad berkata, “Allahmu dan Allahku satu”. Namun kita mulai disadarkan bahwa sekalipun Allah Sang Pencipta hanya satu diseluruh jagad raya, dan walau disebut dengan sebutan nama yang sama bunyinya, namun Dia bukan Tuhan atau Dewa yang sama substansinya untuk setiap agama atau penyembah. Pepatah juga ikut berkata, “banyak jalan menuju ke Roma, namun Roma-nya selalu satu”. Tetapi, sekalipun Tuhan yang sejati hanya satu, tidaklah benar mengatakan bahwa “aneka” agama-agama sedunia berurusan dengan satu Tuhan yang sama. Sebab segala allah bangsa-bangsa adalah berhala, tetapi YAHWEH lah yang menjadikan langit (1 Tawarikh 16:26). Kenapa Yahweh? Karena Dia-lah satu-satunya Tuhan yang memperkenalkan diriNya sendiri sebagai Yahweh, bukan di buat, diolah, dianggap, disampaikan oleh atau digulirkan manusia menjadi “Yahweh”. Jadi, tidak menjadi soal bila disebutkan dalam klaim dan syahadah Islam, “Tiada Tuhan selain Allah”; tetapi adalah prinsip bilamana kredo tersebut tidak membuktikan bahwa Allah itu adalah Tuhan yang mencipta, tetapi dicipta, dengan tahta Arasy 8.000 pilar sejauh 24 miliar mil, yang mempunyai 99 nama termulia! Kini kita sorot hakekatNya.

Pertama-tama, ada pertanyaan mendasar, dari mana munculnya nama “Allah”? Pembacaan dalam keseluruhan Al-Qur’an menunjukkan kelainan bahwa nama “Allah” tidaklah diperkenalkan Muhammad kepada umatNya, melainkan digulirkan begitu saja masuk kedalam ayat-ayat AlQur’an. Ini tidak mengherankan karena kepada Muhammad Allah memang tidak memperkenalkan namaNya sendiri. Bukankah diatas telah dikatakan bahwa Allah-lah yang harus menyatakan diri (termasuk nama tentunya) dan kehendakNya sendiri agar dikenal oleh umatNya? Dan Allah sangat tahu akan hal ini, ketika Ia menjanjikan untuk mengajarkan hal-hal yang belum diketahui oleh manusia, dan itu dilakukanNya dalam pewahyuanNya yang paling awal kepada Muhammad digua Hira (Qs.96): “Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Jadi, kenapa dimasa awal Muhammad diutus sebagai NabiNya, dan juga diseluruh Quran, Dia tidak memperkenalkan nama pribadiNya sebagai “Allah”? Kenapa Allah sendiripun belum berani memunculkan namaNya dalam surat & wahyu-wahyu awalnya, sehingga Muhammad walau telah dinyatakan sebagai Rasul Allah -- selalu masih menyebut “Rabb” bagi Tuhannya? Lihat ada hampir 30 Surat diantara 50 surat-surat yang paling awal diturunkan kepada Muhammad itu tidak menyebut “Allah”, melainkan “Rabb” atau “Ar-Rahman”, atau tidak menyebut nama apapun bagi Tuhannya (a.l. Surat 54, 55, 56, 68, 75, 78, 83, 89, 92, 93, 94, 99, 100, 105, 106, 108, 113, 114 dst.) Nama “Allah” justru paling awal dimunculkan oleh Siti Khadijah, istri pertama Muhammad, ketika mana ia mencoba menenangkan suaminya yang bingung dan kacau menghadapi Ruh yang di gua Hira itu. Ini tentu tidak masuk keakal sehat, sebab ketika itu Muhammadpun belum mengumumkan siapa nama pribadi Tuhannya. Tetapi begitulah tradisi mengisahkan “kebenarannya” bahwa ketika itu Khadijah berseru demi meneguhkan hati suaminya, “Tidak! Demi Allah, Allah tidak akan memperhinakan engkau”. Bandingkan dengan apa yang Tuhan Yahweh lakukan kepada Musa pada awal kenabiannya:

Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu." Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: YAHWEH, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun.” (Keluaran 3:14-15, terjemahan Alkitab Indonesia memakai TUHAN untuk nama Yahweh).

Tuhan Yahweh menyingkapkan diriNya dan sekaligus relasi diriNya dengan umat Israel. Ia memperkenalkan nama dan posisi diriNya sebagai “AKU ADALAH AKU” (I AM THAT I AM) yang menunjukkan suatu keabsolutan yang kekal dan permanen (tidak berubah-ubah). Ketika Tuhan telah memperkenalkan namaNya yang kekal sebagai Yahweh, dan itu telah berjalan selama 23 abad sebelum Muhammad, maka darimana datangnya otoritas Muhammad (dan Jibril) yang tiba-tiba merasa perlu merubahi dan menggantikannya menjadi “Allah”? Nama baru yang ia sendiri tidak mengintroduksikannya kepada Muslim dalam seluruh pewahyuan, kecuali digulirkan begitu saja kedalam Al-Qur’an? Yaitu dengan mengikuti nama al-Ilah (disingkat menjadi “Allah”) seperti yang sudah dikenal oleh kaum pagan Arab sebagai dewa mereka? Penggantian ini sungguh mustahil datang dari Tuhan sejati yang sama! Kedua, Ada dua macam Tuhan: Tuhan yang exist, dan yang di tuhankan dari yang belum terbukti exist. Ada banyak sekali karakter dan esensi yang unik berbeda diantara Tuhan orang Kristiani dibandingkan dengan Allah selebihnya. Salah satunya yang paling khas ialah bahwa Tuhan Alkitab itu HADIR, exist. Allah lain-lain belum pernah terbukti tampak kehadiranNya ditengah-tengah umatNya, ditengah-tengah sejarah manusia. Tentu saja pernyataan ini seolah mengundang perdebatan.

Namun faktanya adalah Tuhan Kristiani memang satu-satunya Tuhan yang berbicara langsung dengan manusia (disamping yang tidak langsung, lewat malaikat atau mimpi). Allah Alkitab berbicara langsung dengan Adam dan Hawa. Dia berbicara langsung dengan Nuh, dengan Abraham, dengan Ishak, Yakub, dll nabi Alkitab. Bahkan Allah berbicara langsung dengan Musa yang disaksikan seluruh bani Israel (Ulangan 4:33). Begitu pula Allah berbicara dengan Yesus, didengar dan disaksikan khalayak (Matius 3:17, Lukas 9:35). Sebaliknya, kenapa Allah Islami tidak pernah berbicara langsung dengan Muhammad, melainkan lewat perantara malaikat saja? Bahkan siapa pula yang pernah menyaksikan suara malaikat itu kepada sang Nabi? Kenapa bukti dan saksi pewahyuan kepada Muhammad – Nabi utusan terakhir -- diperlemah dan dikaburkan begitu rupa? Mendatangkan persoalan krusial, kapan Muhammad sejatinya tahu bahwa Allahnya adalah Tuhan yang exist, yang hidup, yang mencipta?

Ketiga, sekalipun ada Tuhan diatas segala Tuhan, namun Ia tidak Mahakasih (atau bertali kasih khusus dengan makhlukNya), apa gunanya Tuhan demikian bagiku pribadi? Tidak seperti pada agama-agama lain, ketika Alkitab mengatakan bahwa Allah itu Kasih, itu tidak sekedar mengatakan bahwa Allah melakukan perbuatan-perbuatan kasih. Melainkan mengatakan keseluruhan hakekatNya/ ZatNya adalah kasih, begitu konsisten luar dan dalam, begitu dalam menyatu, begitu transendental sampai-sampai segala sikap, wujud, ucapan, perbuatan, rancangan dan ungkapan-ungkapan seluruhnya yang mengalir daripadaNya, tak bisa lain kecuali dinyatakan dalam kasih yang tidak terukur. Itu berarti bahwa kasih adalah esensi dan relevansi yang paling absah bagi seorang Tuhan terhadap mahkluk-Nya. Allah yang Mahakasih adalah Allah yang relational, berhubungan sangat intim dan peduli dengan setiap mahkluk-Nya. Mahakasih ini adalah sifat Allah yang paling penting bagi umat manusia, bukan MahakuasaNya, yang sesungguhnya sudah otomatis tercakup kedalam diri Allah, jikalau Dia Allah Pencipta Semesta (Al-Kholiq). “Tidak ada secuilpun gunanya bagi saya, seorang allah yang super mahakuasa, bilamana dia tidak ber-relasi dalam tali kasih dengan saya! Dia tetap menjadi seorang asing yang tak berguna bagi saya”. “Tidak juga dia berguna untuk saya ketika allah ini mengklaim bahwa dia maha-pengasih dan penyayang, tetapi tidak membuktikannya”.

Jadi apakah Allah SWT sungguh Maha kasih? Dan apakah Dia sudah membuktikannya dengan saksi-saksi? Mengklaim kasih tidak sulit sama sekali. Malahan klaim itu bisa “dibuktikan” dengan “berpura-pura” kasih, dan itu tentunya lebih jahat. Yang sulit justru membuktikan ujud kasih-Nya yang hakiki dan tak terbantahkan, yang bisa ditampakkan kepada mahluk ciptaanNya. Agamaagama lain merujukkan (lagi-lagi klaim) kasih Allah hanya sampai sebatas pemberianNya kepada manusia, yaitu sejumlah unsur-unsur pendukung kehidupan seperti udara, air, embun, sinar matahari dll. Namun alasan ini jauh dari memadai! Itu bukan khas wujud MahaKasih Allah, melainkan khas wujud tanggung-jawab Allah (yang baik) atas apa yang sudah diciptakanNya, yang memang harus dipeliharaNya. Maha kasih harus dibuktikan dengan wujud pengorbanan Allah yang tidak seharusnya berkorban, dan bukan sekedar tanggung-jawab. Maka itulah yang perlu Anda jadikan kriteria kebenaran Allah, yaitu: “Allah manakah yang sudah membuktikan diriNya sebagai Tuhan yang berkorban?” Anda hanya mendapatinya pada Tuhan Alkitab yang sudah meng-kurbankan “AnakNya” (Firman yang “nuzul”/ diinkarnasikan menjadi Anak Manusia) Yesus Almasih diatas kayu salib, demi menebus umatNya dari perhambaan dosa? Semuanya disaksikan secara mutawatir oleh para saksi mata. Ya ibu Maryam dan pengikut-pengikut Yesus, maupun segenap musuhmusuh, orang-orang awam, serta para serdadu Roma yang mengeksekusinya!

Ketiga pribadi dalam ke-esaan Allah ini dirujukkan dalam banyak ayatayat Alkitab, tetapi disini kami cuma mau menampilkan ayat-ayat yang hanya terdapat dalam Injil Yohanes, yang mana memperlihatkan penyataan DIRI Allah dalam DIRI Yesus dan Roh Kudus; atau dalam Islam disebut “Kalimat Allah yang disampaikan Allah kepada Maryam, dan Ruh Allah” (surat 4:171).Yaitu dalam Segala Perkataan-Nya ( Simak betul2 ayat 3:34; 7:16; 8:26,38,40; 14:10,24; 18:80), dan dalam Segala Perbuatan-Nya (Simak rincian 4:34; 5:17,19-27,30,36; 8:28; 14:10; 17:4,12)!!!

Keempat, Allah dengan wahyu yang menuduh-nuduh tetapi ternyata salah tuduh, hanyalah menunjukkan bahwa Ia tidak MahaTahu seperti yang seharusnya bagi seorang Allah. Ini bisa menyangkut aspek dan dimensi apa saja. Tetapi disini baiklah kita soroti konsep doktinal yang dalam, yaitu tentang konsep ke-esaan Tuhan, yang sering ditanggapi dengan pemahaman yang sangat dangkal dan salah oleh pihak Islam. Sekalipun orang-orang Kristiani berkata berulang-ulang bahwa mereka percaya kepada satu Tuhan, namun sekian kali pula berulang-ulang mereka dituduh sebagai penyembah politeisme, menyembah tiga Tuhan Trinitas. Alkitab tidak memuat satu ayat pun yang menyebutkan bahwa ada tiga Allah berpartner. Tidak juga ada ayat yang mengatakan bahwa Allah memakai tiga topeng yang berbeda untuk bekerja kedalam drama sejarah. Apa yang Alkitab katakan adalah satu Allah yang mengungkap-an diriNya dalam tiga pribadi yang berbeda --Bapa, Anak, dan Roh Kudus, dan bukan tiga entitas Bapa Allah, Ibu Allah (Maryam), yang menghasilkan Anak Allah (Isa Al-Masih), seperti yang dituduhkan Islam secara keliru. Keliru oknumnya, keliru Zat-nya, dan keliru kejadiannya (dipahami secara biologis).

Dimanapun, Alkitab tidak pernah mengajarkan lain dari pada satu Tuhan dalam satu-satunya Zat keilahian (lihat Kitab Bilangan 6:4, I Timotius 2:5, Yesaya 44:6 dll). Sedangkan istilah “Anak Allah” bukanlah anak-biologis, anak hasil kawin-mawin (walad) seperti yang dipahami dalam kedangkalan persepsi Arabia abad ke-7, melainkan “nuzul”nya Kalimat Allah menjadi “Sang Anak” (Sonship in Word incarnated). Dalam kekeliruan wahyu, Muhammad, maaf, Allah sampai bertanya: “Bagaimana Dia (Allah) mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai istri?”… “Mahasuci Allah dari mempunyai anak” (surat 6:101, 4:171). Bahwa Allah itu satu dalam sifat esensiNya dan kesenyawaanNya, namun juga adalah tiga pribadi, ini bukan rekayasa/ bikinan misionaris dan maunya antek-antek Kristen, melainkan memang itulah yang dinyatakan Allah lewat AlkitabNya berkali-kali; Alkitab yang telah di benarkan dan yang harus diimani oleh Muhammad dan Muslim berpuluh kali (a.l. Qs.10:94,73; 2:41,91; 3:3; 5:44, 46, 48, 68; 6:92; 29:46; 32:23; 5:31; 43:4; 46:30 dll ). Jadi inilah nasihat kita yang terbaik bagi orang-orang Kristiani, yaitu tatkala Anda berhadapan dengan tuduhan “Allahmu itu kok tiga Tuhan dalam Trinitas yang tak ada istilahnya dalam Alkitab?”, maka tolong sampaikan kepadanya tiga kemungkinan dibawah ini, serta mempertanyakan balik masalah Tauhid dan Shahadat mereka:

(1) Bila itu merupakan tuduhan pribadi, maka sipenuduh pasti telah disesatkan oleh informasi yang dangkal dan keliru; dan (2) Bila itu dianggap merupakan tuduhan dari Kitab Suci agamanya, maka pasti Allah-nyalah yang telah keliru berwahyu! Bila dipersoalkan istilah Trinitas itu tak dikenal oleh Yesus sendiri dan tak ada istilahnya di Alkitab, maka kita jawab dengan sederhana bahwa istilah ini hanyalah istilah teologis demi memudahkan rujukan awam kepada konsep keberadaan Allah yang unik agar tidak disesatkan oleh slogan pukul-rata: “Allahmu dan Allahku satu”. Trinitas adalah ke-Esa-an Allah dalam tiga pribadiNya. Konsepnya (dan bukan istilahnya) bertaburan dalam seluruh Alkitab! Dan tidakkah Muslim juga mengadopsi suatu doktrin Islam yang tertinggi, TAUHID, tetapi istilahnya justru tidak muncul dalam Al-Quran sendiri? Dan apakah Muslim juga sadar, bahwa Kalimat SHAHADAT yang dianggap begitu sakral itu, ternyata malah tidak terdapat dalam Quran dalam bentuk dua kalimat yang disatukan (artinya, aslinya tidak diturunkan oleh Allah untuk menjadi shahadat Islam seperti sekarang), melainkan dipilih dan dirangkaikan oleh Manusiapintar dari dua atau tiga surat yang berbeda, surat 37 dan 47 terhadap 48! Dengan perkataan lain, Quran surgawi yang tersimpan dalam Lauhul Mahfudz, tidak bisa ditemukan kalimat Shahadat seperti yang diikrarkan dalam dunia Islam sepanjang zaman. Itu bukan aslinya dari Sana, sebab ia kental berbau syrik! Kenapa? Karena Allah SWT tidak pernah berkenan membiarkan diriNya dipartner-kan dengan siapapun juga, tetapi umat Islam malah menggabungkan Kalimat shahadat pertama tentang diri Allah (“Tiada Tuhan selain Allah”) dengan gandengan “wa” (dan) untuk dijejerkan kepada diri RasulNya (dan “Muhammad adalah Rasul Allah”), sehingga menyodorkan sebuah bentuk persekutuan Allah dan Muhammad yang menyalahi azaz Tauhid.

Bentuk persekutuan ini banyak dijumpai dalam tradisi yang diriwayatkan manusia. Namun Hudhayfa menyampaikan apa yang dikatakan Muhammad, “Jangan seorangpun diantara kamu yang berkata, ‘Apa yang dikehendaki Allah dan (wa) si Anu kehendaki.’ Katakanlah, ‘Apa yang dikehendaki Allah.’ Lalu berhenti dan lanjutkan dengan berkata, ‘Si Anu kehendaki.’” Al-Khattabi juga berkata, “Nabi telah menuntun engkau memperbaiki perilaku dalam menempatkan kehendak Allah sebelum kehendak orang lain. Beliau memilih “lalu/maka” (thumma) yang menunjukkan urutan dan perbedaan ketimbang “dan” (wa) yang merujuk kepada persekutuan dengan Allah.” Kelima, Akankah kita percaya kepada Allah yang kurang lurus, melainkan berbelit-belit menipu-daya umatNya? Tentu kita menjawab “Tidak”. Hukum Taurat berkata: “Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan bersaksi dusta, jangan mengingini istri sesamamu...”, dan ini dibenarkan oleh Al-Qur’an secara umum. Tetapi nanti dulu, Allah lewat Al-Qur’an dan Hadis juga menyisipkan kondisi-kondisi dimana semuanya itu halal bahkan perlu dilakukan. Dan inkonsistensi inilah yang paling merisaukan kemanusiaan kita.

Di atas telah dikatakan bahwa salah satu nama Allah yang “dikeluarkan” dari Asmaaul Husna adalah “Khairul Maakiriin”: “Dan mereka itu membuat tipu daya, Allah membalas tipu daya mereka, dan Allah sebaik-baik tipu daya” (khairul maakiriin, surat 3:54). Ayat ini merujuk kepada penipuan sukses yang Allah lakukan dalam kasus penyaliban Isa Al-Masih, dimana Allah dengan tipuan-nya yang tersembunyi menggantikan Isa dengan seorang “Isa-isa-an” palsu: “ ... tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan Isa bagi mereka” ...“tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat angkat Isa kepada Nya” Dua “tetapi” disini menyatakan bahwa bukan Isa yang (mau atau meminta) diriNya dipalsukan dan diangkat dari salib secara ghaib. Bukan Isa yang mau menyesatkan atau “menipu-daya” para pengikutNya (termasuk ibunya, Maryam) melainkan Allah sendiri, karena Isa sendiri bahkan tidak pernah “menipu” atau berdosa, melainkan suci dan selalu mengatakan perkataan yang benar (Lihat surat Maryam). Mengingat hal ini, timbul pertanyaan, apakah Isa Almasih yang tidak pernah menipu daya itu bisa 100% menyetujui dan menghormati Allah yang ketahuan menipu daya ibunya, saudara-saudaranya dan murid-muridnya, apalagi dengan mengatas-namakan wajah Isa-isaan? Sekalipun pembunuhan Isa itu (katakanlah) harus digagalkan oleh Allah SWT, tetapi kenapakah Allah harus memilih jalur Menipu Daya UmatNya sedangkan Allah dapat menyelamatkan Isa dengan terang-terangan mengangkatnya ke Surga, bahkan bisa sekaligus menghajar tua-tua Yahudi dan serdadu-serdadu Roma dengan sekali sapu? Bukankah Allah yang Maha Kuasa dahulu kala pernah sekaligus menaklukkan musuh-musuhNya dengan menjadikan mereka monyet-monyet, yaitu hukuman Allah bagi bani Israel yang tidak memelihara hari Sabtu (surat 7: 163-166), atau mengancam mengangkat gunung Thursina untuk ditimpakan ke atas kepala orang durhaka yang menolak Taurat (surat 7: 171)? Menipu daya hanyalah dilakukan oleh mahkluk yang licik dalam kekurangan sumber daya selainnya, dan mereka adalah antek-antek Setan, karena Setan sejak semula sudah digelar sebagai “bapak segala dusta” (Yohanes 8:44).

Apa Allah kekurangan sumber daya dan mau menjadi BAPAKnya dari bapak segala dusta? Tentu tidak. Maka sarjana Islam buru-buru menafsirkan bahwa “maakir” (makara) disamping berarti melakukan tipu-daya (yang negatif), juga bisa berarti “mengatur siasat yang cerdik” yang positif. Tentu saja penipuan adalah bagian dari siasat, tetapi unsur penipuan tidak terlepas dari konteksnya yang sejati, yaitu seperti yang dikatakan oleh Al-Tabari (salah satu historian Islam paling terkenal yang paling awal) bahwa Allah menempatkan rupa wajah Isa (diam-diam) pada seseorang lain untuk disalibkan sebagai pengganti Isa. Ini dimaksudkan agar orang lain disesatkan dari fakta dan kebenaran aslinya! Dan itulah persaksian dan perbuatan dusta yang dilarang dalam Taurat Yahweh. Eh, kok, Allah SWT melakukannya sendiri? Dengan mengorbankan semua orang Israel dan dunia, termasuk Isa dan Maryam dan semua pengikutnya hingga Muhammad tiba? Kenapa para ulama mencoba memlintirkan istilah “makara” seolah Allah SWT tidak menipu daya? Mereka lupa bahwa Allah sendiri mengakui menipu bahkan menipu Muhammad dan umatNya sebelumnya. Ini tercermin dalam peristiwa perang Badar. Disitu, dalam usaha Allah untuk menaikkan moral perang para pejuang Muslim, lalu Allah memperlihatkan kepada Muhammad lewat mimpi bahwa musuh yang akan dihadapinya hanyalah sejumlah kecil, padahal jumlah yang sebenarnya 3x jauh lebih besar yang kalau dikatakan terus terang oleh Allah SWT, akan menciutkan nyali para pejuang (surat 8: 42). Disini penipu-dayaan Allah telah ditujukan 100% kepada orang-orang beriman. Ayat-ayat dalam Al-Qur’an maupun Hadis menegaskan izin untuk berdusta secara kondisional, bahkan mendorong Muslim untuk berbuat demikian. Itu yang disebut sebagai prinsip taqiyyah (pendustaan yang dikuduskan). Dasar dari taqiyyah terambil dari Quran sendiri,

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka ...” (surat 3:28).

Sumpah demi Allah yang sengaja dilanggar – sumpah dusta -- juga dinyatakan Al-Quran sebagai bukan perbuatan dosa serius karena dapat ditebus (kaffarat) dengan pelbagai opsi material yang mudah, atau cukup berpuasa selama 3 hari:

“…maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu...” (surat 5:89)

Namun dalam Hadis, Muhammad sendiri memperluasnya lebih jauh lagi ke ranah penggantian sumpah dan ranah perang.

“Demi Allah, dan insya Allah, apabila saya mengangkat sumpah dan belakangan hari ternyata ada sesuatu yang lebih baik, maka saya laksanakan apa yang lebih baik itu dan menebus sumpahku” (Bukhari 7, vol. 67, no.427). “Nabi berkata, "Peperangan adalah penipuan." (Bukhari vol 4: 269).

Semua pendustaan ini begitu simpang siur dan kehilangan essensi dan kesakralannya bagi perkataan maupun perbuatan Allah SWT, sampaisampai bertabrakan dengan apa yang sudah digariskanNya sebagai sumpah, yaitu “jangan melanggarnya” dan “jangan dijadikannya sebagai tipuan” (surat 16: 91, 94).

Syukurlah bahwa Tuhan Yahweh menurunkan hukum-hukumNya kebumi menurut moral Tuhan yang sakral, tidak main-main dengan kata-kata dan sumpah. Sekalipun Yahweh mempunyai segala kedaulatan, namun ia juga mempunyai Moral tertinggi, dimana KedaulatanNya tidaklah mengingkari MoralNya. Dengan perkataan populer, sekalipun Tuhan mempunyai segala wewenang, namun tidak menjadikanNya sewenang-wenang (arbitrary). Meminjam kata-kata dari Thomas Aquinas: “Sebuah akibat harus mewakili sebabnya, karena Anda tidak bisa memberi sesuatu yang tidak Anda punyai”. Maha Kuasa Tuhan selalu menyatu dengan Maha Benarnya diriNya, dan tidak menempatkannya sebagai alat teror bagi kekuasaanNya. “Dia tidak dapat menyangkal diriNya” (2 Tim.2:13).

Kita was-was akan satu bahaya yang serius, bahwa sekali Allah bermain lempar batu-sembunyi tangan dan menipu-dayakan murid-murid Isa (yang disebut sebagai penolong-penolong Allah) dan juga Maryam dan Isa sendiri (yang disebut Ayatollah) persis di depan mata, maka Allah yang sama juga mungkin menipu daya siapa saja yang dikehendakiNya, termasuk Muhammad dan sahabat-sahabatnya yang sudah ditipuNya. Kita prihatin ada Allah yang suka-suka menyesatkan makhlukNya, menurut MoralNya sendiri yang tidak dielaborasi lagi: “Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki” (surat 14:4). Tetapi syukurlah semua prinsip, moral-etika, ucapan dan karya Tuhan Yahweh adalah sejalan. Tidak ada kesewenang-wenangan, plintir plintiran dan tipu-daya! Karena “Tuhan Yahweh tidak berdusta” (Titus 1-2) Dan “Yahweh tidak mungkin berdusta” (Ibrani 6:18) ______ Sungguh masih banyak sifat, kriteria dan tanda-tanda dimana Allah SWT tidak mungkin dipersandingkan, apalagi dianggap sama, satu dengan lainnya dengan Yahweh. Anda bisa menyimaknya lebih rinci lewat pandangan kedua. Selama ini kita terlalu sibuk, sehingga menerima begitu saja apa yang sudah dikenal, atau “apa kata mayoritas/ mainstream”. Namun demi hidup atau mati, beranilah seperti Musa yang meragu dan bertanya kepada Tuhan Yahweh-nya, WHAT IF?

Sahut Musa: "Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan … Firman YAHWEH: "Lemparkanlah (tongkat) itu ke tanah." Dan ketika dilemparkannya ke tanah, maka tongkat itu menjadi ular… (Keluaran 4:1,3).

Setidaknya beranilah berkritis dan bertanya apakah Dia yang kita sembah selama ini betul-betul membuktikan kwalifikasi diriNya, dan bahwa: *Allah eksis dan hidup? Tanyalah, siapa yang membuktikannya? *Apakah Allah memperkenalkan diriNya dan namaNya secara pantas dan berotoritas, atau hanya sebatas slogan-slogan teoritis yang disusun manusia tanpa bukti dan substansi? *Apakah rangkuman hakekatNya berpusatkan pada Kasih yang nyata dan berguna bagi Anda dan saya? *Apakah Allah perlu membenarkan diriNya dengan pewahyuan yang malah kacau dan keliru? Khususnya menuduh dangkal atas Trinitas yang tidak dipahamiNya? *Dan apakah Dia Allah yang lurus, terpercaya yang tidak menyesatkan umatNya, melainkan sungguh telah berkurban dalam kasihNya untuk menyelamatkan mereka? Itulah keberadaan sekaligus testing yang paling sederhana untuk mengenal Khalik kita yang Ada, MahaKasih, dan Benar. Selamatlah dalam taufik dan hidayatNya.

Saksi
Tamu


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 :: Debat Islam :: Aqidah

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik