Silahkan masukkan username dan password anda!
Login

Lupa password?

Latest topics
» Ada apa di balik serangan terhadap Muslim Burma?
by Dejjakh Sun Mar 29, 2015 9:56 am

» Diduga sekelompok muslim bersenjata menyerang umat kristen
by jaya Wed Nov 27, 2013 12:30 am

» Sekitar 6.000 orang perempuan di Suriah diperkosa
by jaya Wed Nov 27, 2013 12:19 am

» Muhammad mengaku kalau dirinya nabi palsu
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:53 pm

» Hina Islam dan Presiden, Satiris Mesir Ditangkap
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:50 pm

» Ratusan warga Eropa jihad di Suriah
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:48 pm

» Krisis Suriah, 6.000 tewas di bulan Maret
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:46 pm

» Kumpulan Hadis Aneh!!
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:43 pm

» Jihad seksual ala islam!
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:40 pm

Social bookmarking

Social bookmarking Digg  Social bookmarking Delicious  Social bookmarking Reddit  Social bookmarking Stumbleupon  Social bookmarking Google  Social bookmarking Blinklist  Social bookmarking Blogmarks  Social bookmarking Technorati  

Bookmark and share the address of Akal Budi Islam on your social bookmarking website

Bookmark and share the address of on your social bookmarking website

Pencarian
 
 

Display results as :
 


Rechercher Advanced Search

Poll
Statistics
Total 40 user terdaftar
User terdaftar terakhir adalah tutunkasep

Total 1142 kiriman artikel dari user in 639 subjects
Top posting users this month

User Yang Sedang Online
Total 1 user online :: 0 Terdaftar, 0 Tersembunyi dan 1 Tamu

Tidak ada

[ View the whole list ]


User online terbanyak adalah 23 pada Sat Jun 04, 2016 11:25 pm

Bagaimana jika Jibril tiruannya Gabriel ? [II]

 :: Debat Islam :: Aqidah

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Bagaimana jika Jibril tiruannya Gabriel ? [II]

Post  Anonim on Sun May 08, 2011 11:22 pm

Selama ini Muslim hanya mematok label bahwa Alkitab itu wahyu-imitasi, tetapi samasekali tidak siap – bahkan tidak bersedia – untuk meneropong what if Jibril, kalau-kalau dia-lah yang imitasi, misalnya! Sesungguhnya, tanpa curiga apapun juga melainkan secara hipotetis saja, setiap kita seharusnya sejak awal memberikan probabilitas 50 –50 untuk meragukan Jibril itu, sampai dia (dan bukan manusia) membuktikan klaim dirinya Jibril, utusan dari Tuhan yang sejati! Itu saja sudah suatu kemurahan.

Afterall, siapakah didunia ini yang telah membuktikan sosok Jibril tersebut? Tidak ada kecuali asumsi manusia belaka. Lebih jauh lagi, manusia memperluas asumsinya sampai-sampai menetapkan bahwa Jibril-Al-Quran itu sama dengan Gabriel-Alkitab, dan Jibril itu atk lain tak bukan adalah Rohulqudus!?

Spekulasi menjadi makin berani dan liar. Nyatanya tak ada Jibril yang mengklaim apa yang diklaim itu dengan bukti-bukti. SO, What if the medium of transmission is false? Mari kita simak dengan lebih cermat.

Berlainan dengan Alkitab dimana nabi-nabinya boleh bertanya balik kepada Tuhannya, Quran hanyalah monolog satu arah, yang saling mengatas-namakan tiga sumber suara yang tanpa tanda dan saksi mata: suara Muhammad yang mengatas-namakan suara Jibril dan mensumberkannya sebagai suara Allah! Ini otomatis menantang keabsahan klaim Islam bahwa Quran adalah pewahyuan yang langsung, 100% dari mulut Allah tanpa intervensi para makhluk. Justru transmisi berjenjang yang monolog dan tak bersaksi-bukti inilah yang sangat rawan terhadap pemalsuan apa saja atas nama Allahnya yang samasekali tersembunyi.

Sebagai contoh liar, tetapi benar (dalam extensi asumsi yang sedang berjalan), bahwa seorang yang mengklaim dirinya nabi bisa saja mengklaim bahwa ada empat oknum yang terlibat dalam rantai pewahyuan (bukan tiga) bagi dirinya, yaitu Allah, Jibril, Jin Islam, dan nabi. Dalam ketiadaan bukti luar dan para penyaksi, lalu siapa yang sanggup peduli akan 4 mata-rantai ini jikalau tidak ada yang peduli akan suara 3-rantai, seperti yang diklaim oleh Islam sekarang ini?

Untunglah Yesus (dan Taurat) peduli! Ia berkata: “Kalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku itu tidak benar” (John 5:31). Dan dalam ayat 33, Dia menunjuk Nabi Yahya antara lain sebagai penyaksinya, dan ini bahkan dibenarkan oleh Quran pula dalam Qs. 3:39. Yesus juga meneguhkan semua ini dengan sejumlah mujizat adikodrati yang hanya dimilik oleh sosok Allah sendiri, seperti membangkitkan orang mati, mendatangkan makanan dari langit, menaklukkan setan, dan badai-gelombang. Inilah kunci keabsahan suatu wahyu yang tidak dipunyai oleh Muhammad untuk menghadirkan “Allah” yang diatas-namakannya.

Dalam setiap pertarungan roh -- apapun manifestasinya -- selalu terjadi pertarungan diantara dua “Bapa”, yaitu Bapa Sorgawi (Mat.6:9) dan “Bapa segala dusta” (Yoh. 8:44). Bapa Sorgawi memerintahkan kita untuk jangan percaya begitu saja akan setiap roh, karena roh penipu terlalu licin dan mudah sekali memperdaya manusia yang kurang paham akan kasak-kusuk roh jahat. Itu sebabnya Tuhan mengharuskan kita untuk menguji kalau-kalau suatu roh itu benar datang dari Tuhan atau bukan, sebab Alkitab berkata, “Iblispun menyamar sebagai Malaikat Terang” (1 Yoh.4:1, 2 Kor.11:14). Tetapi sebaliknya Al-Quran menutup pengujian ini oleh manusia dengan pendalilan bahwa itu bukan termasuk kawasan urusan mereka: “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (Qs.17:85). Akibatnya Ruh “Jibril” tidak pernah dikenakan ujian apapun oleh Muslim, malahan Ruh ini tampaknya berusaha menutup pintu pengujian ini dengan melabelkan cap kepada si penguji sebagai “musuh dan penghujat Allah” yang harus dibungkam, kalau perlu dengan kekerasan!

Roh kegelapan yang benci akan kebenaran, selalu berusaha keras (kalau mungkin dengan kekerasan) agar manusia tidak mendapat kesempatan untuk menguji dirinya yang roh. Keberadaan kita yang terbatas, apalagi berdosa, turut mengaburkan mata-batin untuk melihat jalan yang lurus. Kita manusia tidak mungkin menandingi (dari kekuatan kita sendiri) roh-jahat yang memang spesialis dalam menyamarkan kebenaran.

Untuk mengikis keraguan terhadap apa yang dikatakannya, Ruh ini menurunkan pula ayat-ayat yang menslogankan kemutlakan Quran, khususnya satu ayat yang di-elu-elukan secara heroik: “kalau sekiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka dapati banyak pertentangan didalamnya.” Tetapi dengan hati yang sedikit jernih saja, kita sudah akan menemukan banyak kekeliruan dan inkonsistensi quraniah secara kasat mata. Dalam pewahyuan yang paling awal saja, Jibril telah mewahyukan penciptaan manusia dalam pelbagai versi yang saling kontradiktif, namun Muslim menelan begitu saja tanpa merasa ada yang tidak beres didalamnya.

Dimulai dengan wahyu pertama kepada Muhammad dalam surat Al-Alaq 1-5, bahwa manusia diciptakan dari “segumpal darah”. Bukankah pernyataan ini sudah tidak didukung secara sains?

*
Maka kelak wahyu ini diperbaiki dengan versi lain, yaitu
*
penciptaan-manusia dari “setetes mani (Qs.80:19 dll).
*
Kemudian diperbaiki lagi: “Dia (manusia) diciptakan dari air yang terpancar, yang keluar dari antara sulbi (tulang punggung) dan taraib (tulang dada)” (Qs.86: 5-7). Adakah air mani terpancar dari sumber-sumber yang absurd demikian.

Tetapi bagian dari sulbi ini masih juga tetap dikonfirmasikan pada Qs.7:172.

*
Baru kemudian (mungkin setelah dengar-dengaran dari kalangan Yahudi/ Nasrani tentang penciptaan Adam/manusia) barulah Muhammad mengadopsi versi kreasi manusia yang dimulai dari “tanah” (Qs.37:11).
*
Dan untuk menutup kesimpang siuran pelbagai versi yang tidak akurat (ngawur) yang terlanjur diwahyukan, maka datanglah wahyu susulan yang mencoba mengharmonisasikan semua versi penciptaan, yaitu dari “tanah, kemudian dari mani, kemudian dari segumpal darah” (Qs.40:67). Inipun masih dicampur-adukkan dengan macam-macam proses lain, yaitu dari sari tanah, kemudian air mani, lalu segumpal darah, yang jadi segumpal daging, yang disusul dengan proses menjadi tulang-tulang, dan selanjutnya pembalutan tulang oleh daging dst. (Qs.23: 12 dst...).

Tahapan-tahapan lepas demikian tentulah hanya ada dikhayalan dan pembelajaran Muhammad yang ummi. Dan Anda akan menyaksikan banyak contoh tahapan-tahapan sejenis untuk isu-isu lainnya, sejalan dengan makin banyaknya -- tidak mesti makin benarnya -- Muhammad dengar-dengaran informasi luar untuk diadopsikannya ke dalam Al-Quran. Sementara Dr. Bucaille, seorang pembela Islam yang gigih, bahkan merasa perlu meralat tafsiran penciptaan tersebut dengan berkata: “Ini adalah suatu kekeliruan yang perlu kita koreksi. Manusia tidak pernah melewati tahap “gumpalan darah” (Bible, Quran dan Sains Modern, p.236, tr.Dr. HM. Rasjidi)

Jadi, siapa Jibril dan siapa pula Rohulqudus yang di Jibril-kan? Siapakah Jibril? Apakah ia benar Gabriel utusan Allah? Apakah ada klaimnya dan disusul dengan buktinya? Adakah ia memperkenalkan namanya kepada Muhammad secara formal, atau sedikitnya dalam kepatutan perkenalan? Tahukah Muslim kapan Jibril memperkenalkan nama dirinya menurut Quran?

Benarkah Jibril itu juga Rohulqudus, padahal Gabriel itu bukan RohKudus? Dan kenapa wahyu Quran kepada Muhammad harus memakai agen-antara Jibril, jikalau dulu Tuhan selalu bersabda langsung dengan nabi-nabiNya?

What if Jibril berwajah ganda yang mengklaim dirinya sebagai Allah -- yang memang tidak pernah dibuktikannya? (Miryam Ash).

Orang umumnya berpendapat bahwa kesulitan untuk memahami sebuah Kitab Suci dimulai dari apa yang tercantum dalam teks Kitab Suci itu sendiri. Tentu saja itu benar secara umum. Tetapi untuk Al-Quran, ada yang lebih sulit dari pada apa-apa yang sekedar tampak tertulis, yaitu siapa-siapa yang terlibat dalam menulisnya! Apakah itu Allah, Tuhan semesta alam, ataukah itu Malaikat (Jibril?), atau Muhammad, dan para sahabatnya? Muslim percaya bahwa itu adalah Kata-kata Allah yang ditransmit-kan murni secara berantai lewat Jibril, dan dimasukkan murni ke dalam hati dan pikiran Muhammad, yang nanti menjadi juru suara murni tersebut, untuk dicatat murni oleh sahabat-sahabatnya. Empat “murni” yang tidak dibuktikan sama sekali! Dengan perkataan lain, Muslim cenderung mengasumsikan kebenaran mutlak dari ke-4 oknum berbeda tadi dan ke-4 sistim transmisinya yang juga berbeda, yang kesemuanya disandarkan pada mulut Muhammad seorang!

Dalam sebuah terbitan Islami di USA dari Memphis Dawah, ada diterbitkan sebuah buku berjudul “Who Wrote The Quran?” Di situ dikatakan bahwa Quran adalah mutlak berasal dari God dan Muhammad adalah utusan God. God dan Muhammad harus diterima dan dipercayai serentak atau tidak samasekali. Sebab orang tidak bisa sepihak memilih menerima pesan-pesan God tetapi menolak utusanNya, atau sebaliknya. Dikatakan lebih lanjut bahwa hanya ada 3 kelompok pendapat terhadap penulis Quran, yaitu:

1.
Mereka yang berkata bahwa Muhammad-lah yang menulis Quran, tetapi pendapat ini harus dicoret dengan alasan utama bahwa Muhammad itu buta huruf.
2.
Seorang lain dari Muhammad yang menulis Quran. Tetapi inipun harus disingkirkan dengan alasan, tidak terdapat pengaruh Kristen dan Yahudi terhadap orang di sekitar Muhammad.
3.
Quran adalah murni firman Allah tanpa campur tangan manusia.

Karena tak mungkin lagi ada kelompok lain, maka inilah satu-satunya yang harus diadopsi, apalagi Allah menyodorkan tantangan menulis “Surat Semisal Quran” yang dipercaya tidak bisa dipenuhi oleh manusia manapun (manusia ditantang Allah untuk membuat satu surat saja sebagus/seistimewa salah satu surat Quran! Bila ada yang sanggup, maka itulah bukti bahwa Quran bukan ditulis oleh Allah, melainkan manusia saja). Ini semua berasal dari satu asumsi naif, bahwa Kalimat dari manusia tidak bisa ditiru sebaik seperti Kalimat Allah! Padahal tak ada pembuktian bahwa itu adalah Kalimat Allah, kecuali dikalim oleh Muhammad...

Dengan demikian Memphis Dawah mengklaim berhasil membuktikan bahwa pendapat (1) dan (2) adalah mustahil, sehingga pendapat ke- (3) lah yang harus benar, sambil menantang orang lain membuktikan sebaliknya.

Ini adalah “apologetika” dangkal yang memilih metode induksi untuk membuktikan Al-Quran sebagai Kalam Allah. Tentu saja kerangka pembuktian semacam ini adalah salah kaprah dan menggelikan. Ibarat Polisi (manusia yang terbatas) membikin list yang terbatas tentang siapa-siapa yang mungkin bisa dianggap sebagai maling, lalu mencoret siapa-siapa yang dirasakan tidak mungkin jadi maling, dan yang tertinggal dari coretan itu pastilah MALING!


Anonim
Tamu


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 :: Debat Islam :: Aqidah

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik