Silahkan masukkan username dan password anda!
Login

Lupa password?

Latest topics
» Ada apa di balik serangan terhadap Muslim Burma?
by Dejjakh Sun Mar 29, 2015 9:56 am

» Diduga sekelompok muslim bersenjata menyerang umat kristen
by jaya Wed Nov 27, 2013 12:30 am

» Sekitar 6.000 orang perempuan di Suriah diperkosa
by jaya Wed Nov 27, 2013 12:19 am

» Muhammad mengaku kalau dirinya nabi palsu
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:53 pm

» Hina Islam dan Presiden, Satiris Mesir Ditangkap
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:50 pm

» Ratusan warga Eropa jihad di Suriah
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:48 pm

» Krisis Suriah, 6.000 tewas di bulan Maret
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:46 pm

» Kumpulan Hadis Aneh!!
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:43 pm

» Jihad seksual ala islam!
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:40 pm

Social bookmarking

Social bookmarking digg  Social bookmarking delicious  Social bookmarking reddit  Social bookmarking stumbleupon  Social bookmarking slashdot  Social bookmarking yahoo  Social bookmarking live      

Bookmark and share the address of Akal Budi Islam on your social bookmarking website

Bookmark and share the address of on your social bookmarking website

Pencarian
 
 

Display results as :
 


Rechercher Advanced Search

Poll
Statistics
Total 40 user terdaftar
User terdaftar terakhir adalah tutunkasep

Total 1142 kiriman artikel dari user in 639 subjects
Top posting users this month

User Yang Sedang Online
Total 1 user online :: 0 Terdaftar, 0 Tersembunyi dan 1 Tamu

Tidak ada

[ View the whole list ]


User online terbanyak adalah 23 pada Sat Jun 04, 2016 11:25 pm

Bagaimana jika Jibril tiruannya Gabriel ? [III]

 :: Debat Islam :: Aqidah

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Bagaimana jika Jibril tiruannya Gabriel ? [III]

Post  Anonim on Sun May 08, 2011 11:25 pm

Para ilmuan, khususnya para pendidik dan psikolog akan mematahkan kerangka pembuktian semacam ini dengan sekali pukul, tanpa usah diperdebatkan lagi. Mereka akan mempertanyakan kepada Memphis Dawah apakah tulisan ajaib dari seorang kanak-kanak penyandang otis misalnya, juga akan otomatis dianggap sebagai murni firman Allah tanpa campur tangan manusia? Sebab mereka terlalu sering menjumpai anak-anak autis yang “buta-huruf” ternyata malah bisa menulis sebuah surat atau sanjak dalam bahasa asing yang orang tuanya sendiri tidak kuasai dan tidak ajarkan kepada sang anak! Jelas bahwa suara (atau kelak jadi tulisan) yang dianggap tidak mungkin berasal-mula dari manusia itu tidaklah otomatis suaranya Tuhan! Suara Tuhan harus dibuktikan oleh suaraNya sendiri, yang ditampilkan dengan otoritas adikodrati yang menyertaiNya – dan bukan oleh anggapan anggapan tentang suaraNya, atau klaim yang mengatas-namakan “suara transmisi” dari agen-antara tanpa tanda adikuasa.

Menguji Ruh yang Mengatas-namakan Allah

Ayat per ayat, kata per kata telah diturunkan oleh Jibril atau yang disebut Ruhulqudus (Roh Kudus) selama 23 tahun kepada Muhammad. Terhimpunlah selama itu sekitar 6240 ayat Quran. Tetapi seperti dikatakan diatas, semuanya taken for granted tanpa diuji, seolah-olah Jibril yang ruh ini memang mutlak harus datangnya dari Tuhan Semesta Alam! Tetapi Imam al-Syafi’i cukup bijak memperingati umat Islam hal yang mungkin sebaliknya, “Pendapat kita benar tetapi masih ada kemungkinan salah; pendapat mereka salah tetapi masih ada kemungkinan benar”. Menggunakan metode terbalik untuk pengujian ruh adalah satu-satunya pendekatan, mengingat lihainya setiap ruh bermanifestasi dalam “rupa dan suara Allah”.

Irshad Manji tidak merasa bersalah menguji seseorang atau sesuatu yang dianggap sakral dengan What if? Makin dia sakral dan benar, makin dia ingin memperlihatkan dirinya sebagai sang benar, dan tidakmenghancurkan orang yang mencari kebenaran!

Ya, What if Jibril itu bukan utusan Tuhan, mengingat Jibril memang tidak membuktikan, kecuali hanya mengaku-ngaku dirinya lewat Muhammad. Dan tentu saja Muhammad tidak tahu apa-apa tentang dia, karena tidak mempunyai sumber lainnya yang bisa memberi penerangan balik (baca: check and balance) atas mahkluk ini! Jibril telah memblokir penyidikan atas dirinya dengan menyodorkan Qs.17:85. Namun, fakta dilapangan memunculkan banyak misteri yang mustahil yang harus dipertanggungjawabkan oleh Jibril.

*Misteri mustahil pertama, ajaib tetapi benar bahwa Muhammad tidak mengenal siapa dan apa nama malaikat pewahyunya selama ia berada di Mekah. Itu baru diketahui Muhammad setelah ia hijrah ke Medina! Banyak Muslim tidak tahu bahwa seluruh 85 surat yang teridentifikasi diturunkan di Mekah (surat-surat Makkiyah) tidak satupun ayatnya menyebut roh pewahyu dengan nama “Jibril”! Jadi selama belasan tahun, sosok yang diklaim begitu intim dengan Nabi justru namanya tersembunyi dari pengetahuan Muhammad.

Dalam kegamangan akan namanya, Muhammad selalu menyebut roh tersebut berganti-ganti dengan belasan istilah yang berbeda-beda diantara 29 kali penyebutannya diseluruh Quran. Semua sebutan yang berubah-ubah ini amat jelas menunjukkan ketidak-pastian Muhammad akan oknum agen-pewahyunya! Misalnya ada sebutan terjemahan dengan

ruh / ruh-Ku / ruh-Nya / ruh Kami

ruh dari Kami

Ruhul-qudus

Ruhul Amin

Malaikat dengan wahyu atas perintahNya / (Ruh PerintahNya)

‘ruh dengan perintah Kami’, atau

rasul karim,

syadid al-quwa,

dzu mirrah,

“para malaikat” (dalam bentuk jamak) sebagai agen pewahyu.

Baru belakangan hari di Medina, 17 tahun (!) setelah Muhammad pertama kali mengenalnya di Gua Hira, barulah Jibril “berkesempatan” memasukkan sebutan ruh-ruh itu dengan nama “Jibril” sebanyak 3 kali, yaitu pada ayat Qs.2: 97, 98 dan 66:4 (awas, di luar ini nama Jibril hanyalah tambahan penterjemah yang tidak terdapat di bahasa aslinya).

Tentu hal ini sekaligus membelalakkan mata dan membuntukan akal yang paling sehat! Tetapi Muhammad sendiri jelas-jelas tidak mengenal dan tidak pernah menguji siapakah ruh yang mencekiknya di gua Hira. Dia bingung sendiri apakah ruh itu berasal dari Tuhan atau setan. Ruh tidak memperkenalkan namanya sendiri, juga tidak menyapa Muhammad dengan nama. Ini sangat berlainan dengan apa yang selalu dilakukan Tuhan Yahweh ketika menyapa pertama kali kepada Musa, Zakharia dan Maria, semua disapa namanya masing-masing bukti bahwa Tuhan Mahatahu.

Bahkan dalam kasus Zakharia, 4 bahkan 5 nama disebut sekaligus (termasuk nama Elia): "Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. ...Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk...” (ayat 19).

Sebaliknya ruh di gua Hira ini hanya mencekik dan memaksa Muhammad dengan seruan “Iqra” (bacalah!), lalu “Iqra” lagi, dan kemudian, “Iqra dengan nama Tuhanmu yang menjadikan. Yang menjadikan manusia dari segumpal darah. Iqra! Wa rabbukal akram”. Tak ada nama siapapun yang disebut, Muhammad atau Jibril bahkan Allah! Apakah dengan perkataan ini ruh tersebut telah memastikan dirinya Jibril utusan Allah? Bukankah ruh jahat juga bisa berbuat hal yang persis sama –-mencekik dan menteror targetnya,bahkan lebih?

Teolog Islam saling bersilang pendapat, tidak tahu persis kapan Muhammad pribadi mulai memastikan bahwa Ruh tersebut adalah utusan Allah, dan terlebih-lebih kapan ia mulai disebut sebagai “Jibril”. Memang ada hadis (muncul hampir 200 tahun setelah Al-Quran) yang menyebutkan nama Jibril di awal kenabian Muhammad, tetapi jelas itu hanyalah rekayasa, ditulis belakangan setelah ada fakta, karena Jibril sendiri baru memperkenalkan nama dirinya setelah di Medina. Dan kembali hal itu hanya memberi kemungkinan tunggal bahwa Ruh tersebut memang tidak ingin memperkenalkan nama dan identitas dan sumber-sumbernya, kecuali membiarkan dirinya diasumsikan orang saja sebagai utusan Allah, entah dinamai Rohulqudus atau Jibril, atau Ruhul Amin, apa saja.

Hanya lewat pandangan pribadi dari sepupu Khadijah, yaitu Waraqah bin Naufal yang Nasrani, maka ruh tersebut ditafsirkan sebagai “Namus”, yang berarti “rahasia atau “hukum” (HSB no.3). Tetapi, seandainya Waraqah bin Naufal cukup paham akan Injil, seharusnya ia akan menguji ruh tersebut sebelum menjawabnya secara spontan, karena itulah yang dipesankan Alkitab dalam 1Yoh.4:1, “Janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Tuhan”. Dan jikalau Waraqah memang paham Injil maka seharusnya ia sudah tahu bahwa sosok malaikat Tuhan yang datang kepada nabi Zakharia dan Maryam adalah bernama Gabriel, dan bukan “Namus” yang tidak diketahui sosok atau identitasnya! Ketika ia berspekulasi bahwa itu adalah Namus dan bukan Gabriel (sosok historis yang definitif dalam Injil), maka kita mempunyai alasan kuat untuk berkata bahwa roh tersebut memang bukan Gabriel, melainkan “Namus” versi Waraqah sendiri! Sebaliknya Muhammad tetap gamang dan tidak punya konklusi, karena ruh yang misterius tersebut tetap membungkamkan namanya, sampai akhirnya Muhammad mendapatinya juga kelak dari sumber lain (bukan dari yang empunya nama), yaitu tatkala beliau berada di Medinah dan berhubungan dengan banyak orang-orang Yahudi !

*Misteri mustahil kedua, Muhammad mengakui dirinya sebagai Rasul Allah, namun dibalik itu ternyata beliau sering gamang tentang ruh. Itu diketahui dari seringnya beliau di olok-olok dan di-test oleh orang-orang Yahudi tentang hal tersebut. Untuk menutup-nutupi ketidak pastian, maka atas nama wahyu Allah, Muhammad menjawab mereka: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah, ‘Ruh itu adalah urusan Tuhanku dan kamu tidak diberi ilmu melainkan sedikit.” (Qs. 17:85).

Tetapi ayat defensif ini jelas tidak membela Nabi, karena mengimpresikan pengakuan akan kekerdilan diri beliau yang disamakan dengan orang-orang awam yang memang tidak diberi ilmu tentang ruh kecuali sedikit. Padahal justru seorang Nabi mendapat hak istimewa untuk menyedot rahasia-rahasia tentang ruh. Konten ayat ini “menentang” Muhammad yang mengklaim dirinya sangat dekat dan sering bercakap-cakap dan mereview ayat-ayat bersama dengan ruh pewahyu setiap Ramadhan, sehingga Muhammad tidak punya alasan untuk sama awam tentang ruh!

Para kritisi menyimpulkan bahwa pengetahuan Muhammad yang mendadak akan nama Jibril (setelah gamang belasan tahun) berasal dari hasil interaksi Muhammad dengan orang-orang Yahudi di Medinah.

Sejarah kenabian Yahudi sudah mengenal nama malaikat Gabriel seribuan tahun sebelum Muhammad, di- zamannya Daniel, dan digaungkan lebih jauh di era Zakharia dan Maria. Disitu Gabriel memperkenal-kan nama dan jati dirinya sebagaimana yang layak, tanpa bermisteri: “Akulah Gabriel yang melayani Tuhan dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau...” (Lukas 1:19). Gabriel yang sejati bukan hanya mengklaim, tetapi sekaligus juga menunjukkan otoritas dan berita kebenaran yang dibawanya dari Tuhannya, sehingga tak ada kerancuan apakah ini ruh jahat atau utusan Tuhan.

Pertama, seperti yang telah disebut dimuka, Gabriel datang dan tahu dan memanggil nama Zakharis. Ia menyampaikan nubuat ilahi tentang kehamilan isteri Zakharia yang mandul. Dan ketika Zakharia tidak percaya, maka Gabriel-pun meneguhkan nubuat-nya itu dengan kuasa mujizat langsung yang membisukan Zakharia hingga kegenapan nubuat tersebut terjadi, yaitu pada hari kelahiran anaknya!

Beberapa ilmuwan sependapat bahwa Muhammad yang tadinya dibingungkan oleh ruh tersebut mungkin saja memberikan nama tersendiri kepada Ruh, seperti halnya yang ia lakukan pada nama “Yesus” yang diganti jadi “Isa” yang tanpa makna dan otorisasi. Namun akal sehatnya berasumsi bahwa kedatangan seorang nabi besar berikutnya - yaitu Muhammad sendiri – hanyalah pantas bila datang dengan melalui jalur panggilan yang sama dengan Yahya dan Isa, yaitu Jibril. Alhasil nama “Jibril” inilah yang kelak diklaim dan disandarkan Muhammad kepada Gabriel sebagai agen pewahyu yang sama untuk abad ke-1 dan ke-7, tanpa bukti apapun. Jenis sandaran aspal (asli tapi palsu) yang tanpa modal seperti itu -- baik kuasa mujizat maupun nubuat -- banyak bertebaran di Quran, dan mudah sekali diperlihatkan sepanjang kita tidak mati-rasa terhadap kemutlakan.

Beberapa periwayatan dalam Hadis telah mendongengkan seolah Jibril sudah mengintroduksi jati-dirinya kepada Muhammad, yaitu di saat Muhammad mau membunuh diri ketika beliau sedang kebingungan mencernakan wahyu paling awal yang diterimanya. Diriwayatkan, Jibril berkata: “Wahai Muhammad, akulah Jibril, dan engkaulah utusan Allah”(Ibn.Hisham, The Life of Muhammad, vol.I/ 69). Periwayatan yang datang ratusan tahun setelah Quran selesai dikanonisasi ini tentu bisa menyisipkan nama “Jibril” dalam narasinya sebagai bagian dari pencocokan kemudian. Seruan Jibril demikian (untuk memperkenalkan diri) seharusnya datang pada saat pertama kali mereka bertemu, dan pasti bukan belakangan setelah Muhammad terteror dahsyat dan terus kebingungan hingga mau bunuh diri berkali-kali! (Sirât Rasûl Allâh, p.106/153, tr. A. Guillaume). Selain itu, jikalau hadis tersebut benar, tentulah nama Jibril sudah harus banyak bermunculan dalam surat-surat Makkiyah (wahyu yang diturunkan di Mekah) dan bukan memakai sebutan “ruh” ini dan itu sepanjang belasan tahun.

*Misteri mustahil ketiga, apakah benar Jibril itu adalah identik dengan Roh Kudus? Bila Muhammad tidak dikaruniai ilmu tentang ruh, tentu para pengikutnya akan sama halnya. Maka dalam kegamangan akan ruh, para ahli Islam nekad melakukan penafsiran “potong kompas” yang over- simplistis dengan menyamakan kedua oknum ini. Tetapi apakah Quran memang pernah menyamakan keduanya ? Tidak ada! Kita bisa ditipu oleh retorika. Sedikitnya ada 3 bukti keras bahwa Jibril itu bukan sosoknya Roh Kudus.

(I).Tak ada konfirmasi dari Allah, sementara pakar Islam yang menafsirkannya sama semata-mata mendalilkan salah satu fungsi yang dikerjakan oleh kedua ruh itu terkesan sama! Tetapi dimanapun, Jibril tidak pernah mengatakan dirinya adalah Roh Kudus, dan Roh Kudus tidak pernah mengklaim dirinya Jibril! Seluruh Quran hanya memuat 3 ayat tentang “Jibril”, dan 4 ayat tentang “Rulhul-qudus”. Maka kita mudah menghadapkan kedua kelompok ayat itu sesamanya untuk men-check kebenarannya, yaitu Qs.2: 97, 98, 66:4 versus 2:87, 253; 5:110; 16:102. Dan ternyata dalam 7 ayat ini Allah samasekali tidak mengidentikkan sosok Jibril dengan Rohulqudus. Muslim menyamakan Rohulqudus dengan Jibril semata-mata karena keduanya dapat “menurunkan wahyu” Allah (sebagai agen pewahyu). Tetapi mereka lupa, bahwa aktivitas tersebut hanyalah salah satu fungsi ad-hoc saja dari pelbagai peran ruh. Bila tidak demikian pastilah Jibril tidak punya kerja apa-apa lagi alias menganggur, ketika dunia kosong dari pewahyuan. Bahkan aktifitas itupun termasuk peran Tuhan dan setan, dimana Tuhan bisa langsung berwahyu, sementara setan bisa menyelinapkan ayat-ayat setannya! (Qs22:52-53). Toh keduanya tidak disebut “Jibril”.

(II). Roh Kudus tidak pernah membahasakan dirinya Jibril, dan Jibril tidak pernah membahasakan dirinya Rohulqudus Dalam Quran, sosok Ruhulqudus hanya disangkutkan kepada Isa Al-Masih untuk memperkuat dirinya melakukan kuasa mujizat, dan ini tidak pernah disangkutkan kepada sosok lainnya manapun termasuk Muhammad. Isa juga tidak pernah dikaitkan dengan “Jibril” yang satu ini baik dalam pewahyuan maupun dalam pemujizatan. Padahal dalam tradisi Islami, Jibril senantiasa disangkutkan kepada Muhammad untuk setiap urusan pewahyuan, namun tak pernah ada transmisi kuasa mujizat! Jadi, dapatkah akal sehat kita memaksakan kedua sosok itu adalah identik?

Sebenarnya, untuk mencari tahu kaitan urusan dengan Ruh, Muhammad telah diberi 2 rumusan yang sudah diayatkan dalam Quran, yaitu bahwa Ruh itu urusan Tuhan, dan jikalau ada keraguan akan wahyu agar perlu dirujukkan kepada Alkitab (QS. 17:85, dan 10:94). Jadi andaikata pakar-pakar ini mau sedikit rendah hati untuk menerima rumusan/ peringatan demikian, mereka tidak akan simpang-siur menafsirkan ruh yang bukan dirinya.

Melainkan akan mendapati dalam Alkitab bahwa Gabriel sudah menyatakan dirinya secara implikatif bahwa is bukan sosoknya Roh Kudus. Lihat bagaimana Gabriel menyampaikan maklumat kehamilan kepada perawan Maria muka per muka:

“Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Tuhan Yang Mahatinggi akan menaungi engkau ...”.

Ia samasekali tidak berkata dalam tata kata benda pertama:

“Aku, (Roh Kudus) akan turun atasmu...”

Alkitab memberitakan secara lurus bahwa Roh Kudus bukan mahluk ciptaan. Ia adalah oknum integral keilahian Tuhan yang ada sejak semula bersatu dan bersama Tuhan (lihat Kej. 1:1-2). Ia tri-senyawa yang keluar dari Bapa, sama seperti Firman yang berasal dari atas, juga keluar dari Bapa, nuzul ke dunia menjadi “Kalimatullah” dalam sosok Yesus (Yoh.15:26, 8:42, 1:1,14). Roh Kudus itulah Penolong yang menyertai umatNya sampai kekal dengan sifat kemaha-hadiran yang tidak dipunyai oleh Gabriel sebagai mahluk. Daud berkata dalam kitab Zabur/ Mazmur:

“Ke mana aku dapat pergi menjauhi Roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau” (Mzm.139:7-Cool.

Dan awas, Roh Kudus ini memiliki satu hak yang paling eksklusif melekat kepada diriNya, yaitu “Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni.

Apabila seorang mengucapkan sesuatu menentang Anak Manusia (Yesus), ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Roh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak, dan di dunia yang akan datangpun tidak (Yoh.12:31-32). Jelas dan pasti bahwa hak dahsyat atas penghujatan ini tidak mungkin diberikan kepada seorang mahluk, sekalipun Gabriel, apalagi Jibril yang belum pernah diberi kuasa adikodrati apapun oleh Allah!

(III). Yang satu Maha-Ada, yang lain hanya ada disatu tempat pada satu waktu

Secara sederhana saja tanpa usah berdebat -- artinya menuruti saja versi Islam-- kita tahu bahwa dizaman Isa Al-Masih terdapat banyak nabi/ nabiah yang masing-masing juga dikunjungi atau diberi wahyu oleh “Jibril”, termasuk Zakharia, Yahya, Maryam dan Isa. Jikalau Rohulqudus itu benar seorang Jibril ciptaan Allah, maka pastilah ia tidak bisa berada sekaligus mendampingi ketiga atau empat nabi/ nabiah itu karena ia tidak bersifat Maha-Ada yang hanya dipunyai oleh Allah. Namun “Jibril” Islam yang satu ini, yang mengambil jati-diri Rohulqudus bagi dirinya, ternyata berdiri diatas ruang dan waktu.

1. Isa yang dikandung dari Kalimat dan Roh Allah dan senantiasa diperkuat oleh Rohulqudus/ Jibril (Qs 4:171; 5:110).
2. Yahya yang sedang menyampaikan wahyu dakwah bersamaan dengan Isa, tentu diwahyui serentak oleh Roh Jibril.
3. Maryam ketika sedang mengandung Isa dalam rahimnya (keduanya disertai Roh Allah/ Rohulqudus/ Jibril), ia masih dikunjungi oleh seorang “Jibril lain” yang berseru kepadanya dari luar rahimnya, yaitu “dari tempat yang rendah” (QS.19:24).

Jadi Jibril mana lagikah yang ada didalam dan diluar rahim Maryam, dan sekaligus ada dalam Isa dan juga Yahya? Dapatkah mahluk roh yang satu ini maha-ada diberbagai tempat pada waktu yang sama? Itu bisa-bisa menghujat Allah dengan mempertukarkan RohNya Allah yang ilahiah menjadi mahluk Jibril!.

*Misteri mustahil keempat, apakah Jibril Quranic itu sama dengan Gabriel Alkitab?

Samasekali tidak! Kalau Gabriel diabad kuno bisa berkata jelas-jelas kepada Zakharia, "Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu”, kenapa Jibril (yang dianggap Gabriel yang lebih modern diabad ke-7) tidak melakukan hal yang lebih jelas/ baik kepada “Nabi Agung Terakhir” yang dikunjunginya di gua Hira?

Sudah diperlihatkan bahwa ruh yang mengunjungi Zakharia dan Maryam itu tidak pernah disebut “Jibril” dalam Quran. Sama halnya bahwa nama tersebut juga tidak dimunculkan kepada Muhammad ketika diturunkan wahyu-wahyu awal 6 abad kemudian. Ini keanehan besar, bahwa sebuah sosok ternama tidak memperkenalkan dan diperkenalkan. Tetapi tatkala nama tersebut dimunculkan setelah melewati belasan tahun kemudian.Allah bukannya menampilkan “Jibril” itu dalam tatacara perkenalan atau penyapaan, melainkan justru dalam suasana memberi peringatan keras kepada kedua isteri Muhammad (Aisyah dan Hafsah) yang “berkomplot” melawan suaminya:

“Jika kamu berdua bertaubat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu-membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula” (Qs.66:4).

Yang paling kacau dan fatal dari kisah Jibril ini adalah bahwa ruh ini (Jibril) kepergok merubah “wahyunya” tentang sosok dirinya! Tadinya dia mengatakan dirinya sebagai ruh tunggal yang menampakkan diri sebagai seorang laki-laki sempurna dihadapan Maryam (Qs.19:17). Tetapi di Medinah, dia mengubahkannya menjadi para malaikat jamak! (angels, lihat Qs.3:45). Gabriel Alkitab tidak kekacauan menyatakan siapa dirinya. Tak akan merubah-rubah dirinya kepada Maria. Jelas Jibril hanyalah asumsi yang sangat tak bertanggung jawab (yang dimutlakkan oleh para- pakar Islam) yang harus disamakan dengan Gabriel Alkitab. Dimanapun, Anda tidak akan menjumpai kesamaan keduanya dalam sifat-sifat dasar, gaya, dan karakter hakikinya, dan isi “wahyunya”!

*Misteri mustahil kelima, Perhatikan bagaimana Allah telah membatasi Muhammad untuk mengenal affair dari ruh – “Ruh itu adalah urusan Tuhanku dan kamu tidak diberi ilmu kecuali sedikit”. Ini dinyatakan Allah dalam Al-Quran via Jibril, sehingga pembatasan demikian mustahil dimentahkan oleh kisah-kisah didalam Hadis yang ternyata begitu banyak mendongengkan pengetahuan Muhammad tentang ruh Jibril. Jikalau ada pembatasan demikian, seharusnya Muslim sadar bahwa hanya Al-Quran yang berotoritas untuk berbicara mengenai alam ruh, dan bukan Hadis.

Sebenarnya Muhammad telah mendapat firasat bahwa kelak Hadis akan tercampur baur dengan Al-Quran dalam “persaingan” sesamanya melontarkan pesan pesan atas nama Allah. Itu sebabnya ia memerintahkan para sahabatnya untuk tidak menuliskan apapun darinya kecuali Al-Quran (yaitu pewahyuan via Jibril), dan apabila ada sejumlah hal yang sudah terlanjur ditulis, maka catatan itu harus dihapuskan! (Hadis Sa’id al-Khudri).

Namun dalam kenyataannya justru Hadis yang bukan pewahyuan itulah yang mendominasi pesan-pesan tambahan atas nama Allah, sampai-sampai kepada hal yang telah jelas-jelas dibatasi oleh Allah, seperti halnya kisah tentang ruh ini. Maka tersebarlah di Hadis (dan bukan di Al-Quran) berita tentang Jibril yang mempunyai 600 sayap (HSBukhari VI/ 380), atau bahwa Aisyah sempat diistimewakan oleh Jibril dengan mendapat salam super aneh dari padanya, “Hai Aisyah! Inilah malaikat Jibril mengucapkan salam kepadamu” (HSBukhari.1431). Untuk mana Asyiah membalas salamnya, lagi lagi via Muhammad. Aneh, karena salam demikian sungguh terkesan main-main dengan otoritas Allah yang Mahatinggi, karena Dia dimanapun tidak mengutus malaikatNya untuk sekedar salam-salaman – apalagi via pihak ketiga -- melainkan hanya menyampaikan berita penting atau solusi khusus secara langsung yang berdampak bagi insiden yang sedang berlangsung! Perlukah salam pribadi yang tak berbukti itu dilakukan Jibril lewat Muhammad, padahal dalam kisahnya, Jibril tinggal selangkah lagi sudah bisa bertemu dengan Aisyah sendiri! Suatu salam pribadi picisan yang lebih banyak fiktifnya ketimbang memperlihatkan kepentingan dan keagungan Tuhan tatkala seorang malaikat sampai diutusNya untuk pertalian pribadi dengan Aisyah!



JIBRIL VS. GABRIEL

Bila Quran berasal dari wahyu, dan Injil adalah buatan manusia yang ingin dikoreksinya, maka seyogyanya perbandingan kedua maklumat diatas (Jibril vs. Gabriel) akan memperlihatkan secara gamblang superioritas dan kesempurnaan Quran diatas Injil. Tantangan Muhammad berlaku, bahwa tak ada suratan manusia yang mengungguli suratan Allah SWT (disebut Surat Semisal Quran, 17:88, 2:23). Itu mungkin benar, sekalipun Tuhan yang benar akan sangat dikerdilkan bila menantang manusia hanya sebatas cara adu-puisi, padahal Tuhan mempunyai segudang cara adikodrati untuk menantang siapa saja, yang langsung akan membungkam mulut musuh-musuhNya! Dengan adu pena, para pembaca Muslim atau non- Muslim justru tidak mendapatkan kesan kemenangan Jibril Quran diatas Gabriel Alkitab, kecuali malah sebaliknya! Mari saksikan sendiri.

Surat Maryam 19:16-22 (diturunkan sekaligus, Surat Makkiyah awal abad ke-7, underlined dari penulis)

16. Dan ingatlah berita Maryam dalam Kitab (Al Quran). Ketika dia mengasingkan diri dari keluarganya pada suatu tempat di sebelah timur,

17. maka dia mengadakan pembatas (tabir) dari keluarganya, lalu Kami mengutus Ruh Kami kepadanya, lalu dia menyerupakan dirinya di hadapannya sebagai manusia sempurna.

18. Maryam berkata, “Sesungguhnya aku berlindung kepada Yang Maha Pemurah dari engkau jika betul engkau orang yang taqwa”.

19. (Ruh) berkata, “Aku hanyalah utusan Tuhanmu untuk memberikan kepadamu seorang anak laki- laki yang suci”.

20. Maryam berkata, “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak, sedang aku belum pernah disentuh seorang laki-laki pun (suami) dan tiadalah aku perempuan jahat”.

21. (Ruh) berkata, “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “Hal itu mudah bagi-Ku”. Kami hendak menjadikannya sebagai tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami, dan adalah urusan itu telah ditetapkan.

22. Lalu Maryam mengandung, maka dia mengasingkan diri dengan kandungannya ke suatu tempat yang jauh.

Injil Kesaksian Lukas 1: 26- 40 (ditulis pada pertengahan abad kesatu)

26. Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret,

27. kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.

28. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."

29. Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu.

30. Kata malaikat itu kepadanya: "Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Tuhan.

31. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.

32. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Tuhan Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Elohim akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,

33 dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan."

34 Kata Maria kepada malaikat itu: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?"

35 Jawab malaikat itu kepadanya: "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Tuhan Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Tuhan.

36 Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.

37 Sebab bagi Tuhan tidak ada yang mustahil."

38 Kata Maria: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

39 Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda.

40 Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.



KOMENTAR KRITIS TERHADAP PENDEKATAN “JIBRIL”

Mari kita kaji dengan kritis bagaimana perbandingan mutu, kelayakan, kredibilitas, kesempurnaan dan otoritas periwayatan dari kedua agen pewahyuan (Jibril vs. Gabriel) yang dimaklumatkan kepada pihak si penerima wahyu (Maryam Quranik vs. Maria Injili). Kita mulai dengan pendekatan Jibril.

(1) Muhammad tidak paham tentang geografi, dan Jibril tidak menuntunnya keluar dari kekaburan-lokasi dan kekeliruan anakronisme. Banyak risalah Quran disodorkan secara kabur, hanya sepenggalan, tidak nyambung, bahkan sampai menggeser setting kejadian tanpa dukungan.

Keanehan segera terlihat, misalnya mulai pada awal ayat 16 (terj. berturut-turut dari Disbintalad dan Depag):

“Dan ingatlah berita Maryam dalam Kitab (Al Quran). Ketika dia mengasingkan diri dari keluarganya pada suatu tempat di sebelah timur”. “Dan ceritakanlah (kisah) Maryam didalam Al Quran, yaitu ketika ia....(dst).”

Disini tampak para penterjemah berupaya menggeserkan berita ini dengan memasukkan kata “Al-Quran” sehingga diarahkan artinya menjadi kisah Maryam didalam Al-Quran, padahal kisah/ berita tersebut jelas terambil dari Alkitab (the Scripture, the Book Mary, the Book the story of Mary) atau “Kitab Maryam” menurut teks aslinya. Istilah wahyunya sendiri sudah membingungkan, dan tafsirannya sengaja diplintir waktunya, digeser dari petikan kisah di abad kesatu menjadi wahyu baru dalam Quran abad ke-7. Bagaimana mungkin mereka memunculkan kata “Al Quran” yang tidak ada pada aslinya, lalu memaksakan pelarian maknanya kesitu? Rupa-rupanya para penterjemah ini khawatir bilamana wahyu “Jibril” itu dihadapkan vis-a vis dengan Injil, karena perbandingan demikian sungguh tidak menguntungkan! Lihat serentetan kekaburan yang tidak masuk akal: *Kemanakah misalnya Maryam pergi (tempat disebelah timur, tanpa nama), dan untuk tujuan apa maka keputusan sebesar itu diambilnya? *Kenapa ia minggat mengasingkan diri dari keluarganya, dan mengadakan pembatas dari keluarganya. Agaknya ada masalah cekcok dengan keluarga? Atau dengan Zakharia?

Tentu nabi Zakharia dan isterinya tidak bermasalah dengan Maryam sehingga dia perlu mengasingkan dan mengenakan pembatas keluarga, bukan? *Sebagai anak dara yang saleh, kenapa ia boleh minggat sendirian tanpa muhrimnya. Apakah itu dibolehkan keluarga besarnya dan Zakharia, padahal dikatakan bahwa Allah menjadikan Zakaria sebagai pemelihara Maryam dalam mihrab?! (Qs.3: 37). Karena kosong dari pewahyuan, muncullah pertentangan yang sia-sia diantara ulama Islam. Ada yang mendongeng bahwa Maryam mau retreat rohani keluar kota, dan ada yang memastikan Maryam mau mencuci dirinya kesebuah mata-air disebelah timur, karena risih mendapati dirinya dikotori darah menstruasi yang pertama kali. Semuanya tidak berguna sebagai wahyu mulia yang mencerahkan. Sebaliknya Injil (yang dianggap harus dikoreksi itu) malah menjelaskan dengan sempurna bahwa Maria bukan pergi keluar kota kearah timur antah berantah, melainkan tinggal dirumahnya

(!) dikota (!) yaitu Nazaret (!), ditanah Galilea!

Pengaburan lokasi dengan dalil “tempat disebelah timur” (yang diulangi lagi pada ayat 22 dengan istilah mirip “tempat yang jauh”), hanya menunjukkan bahwa wahyunya tidak kredibel, dan Muhammad tidak paham geografi, dan Allah yang Mahatahu membiarkan umatNya mencari dalam kegelapan. Selain itu, dengan “mewahyukan” bahwa Zakharia dijadikan Allah sebagai pemelihara Maryam dalam mihrab, maka teman Muslim menangkap seolah Zakharia dan Maryam itu tinggal sekota di Yerusalem, selalu bertemu di mihrab Baitul Magdis. Tidak! Maryam anak desa, tidak tinggal dikota besar, melainkan di Nazaret bersama dengan keluarganya dimana ia sedang bertunangan dengan Yusuf dikota yang sama. Sedangkan Zakharia dan isterinya Elisabet tinggal dikota lain didaerah pegunungan Yudea, dan Maria yang justru segera melakukan kunjungan kesana (Luk.1:39 dll). Bagaimana mungkin Zakharia menjadi pemelihara atau penafkah bagi Maria?

(2) Siapa “Ruh” Allah yang satu ini? Kenapa ia harus tampil dengan cara meresahkan dan menakutkan orang kudus yang dilawatinya? Berkenaan dengan hakekat Ruh pewahyu ini, rupa-rupanya pewahyuan awal kepada Muhammad sempat kacau. Sebab ketika berbicara dengan Maryam, maka Jibril-lah yang diutus Allah sebagai komunikator-antara (ayat 17), namun ketika berbicara dengan Zakharia maka Allah sendirilah yang berbicara langsung! (lihat ayat 1s/d 15). Ini kesalahan yang tak terperbaiki, mengingat Maryam dimata Allah adalah nabiah dan Ayatollah suci, mendapat panggilan dan posisi tertinggi diantara semua wanita (Qs.3:42), ketimbang Zakharia yang hanya imam/ nabi biasa. Kelak setelah hampir satu dekade berlalu, kesalahan ini agaknya baru disadari Muhammad sehingga oknum yang berdialog dengan Zakhariapun diamdiam diubahnya, dari Allah menjadi ruh malaikat pula, lihat surat Ali Imran 39: “Maka malaikat (Jibril) menyeru Zakharia...”. Kredibilitas wahyu tidak sama dengan bunglon-wahyu yang selalu mengubah dirinya atas alasan wahyu-susulan. Agar tidak melebar persoalannya, kita teruskan saja dulu apa adanya: “Ruh”Allah itu dikatakan merubah dirinya menjadi laki-laki seutuhnya, dan ini sempat membuat Maryam was-was dan takut kalau-kalau lelaki ini bisa menjahatinya dikala ia sendirian diperjalanan. Ketakutan ini tentu wajar bagi perawan Maryam yang sendirian ditempat asing, namun hal ini terlambat diantisipasi oleh ruh yang melawatinya, karena laki-laki yang muncul secara mendadak itu tidak terlebih dahulu membuka salamperjumpaan menurut tatakrama Yahudi, juga tidak menyampaikan salamsurgawi. Ruh itu bahkan tidak memanggil nama Maryam untuk suatu komunikasi yang seharusnya wajar dan penuh kedekatan bagi orang yang memang didekatkan Allah. Ruh juga tidak berpesan agar Maryam jangan takut. Akibatnya Maryam jadi sungguh ketakutan, lalu segera (mendahului antisipasi ruh) mencari perlindungan Allah yang Maha Pemurah (ay.18).

Sebaliknya Gabriel di Alkitab langsung memberikan salam damai kepada Maria menurut adat Yahudi. Bahkan Gabriel menyampaikan salam perlindungan dan berkat sorgawi dalam kalimat “Tuhan menyertai engkau”, dan bukan membiarkan Maria sendiri yang mencari perlindungan dalam ketakutannya. Sekalipun Maria tegang dan kaget, itu sama sekali bukan karena ancaman dari keberadaan sosok Gabriel yang mungkin bakal menjahatinya, melainkan ia was-was terhadap isi salam yang terlalu dahsyat dan ajaib, yang tak sanggup dicernakannya sendiri (resapkan ayat 29). Tetapi tanpa menunggu lebih jauh, Gabriel segera menyusulkan sapaan peneduh dengan memanggil namanya secara tepat tanda ia tahu akan yang ghaib: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh...”. Ini meneduhkan dan meyakinkan Maria bahwa ia beroleh kasih karunia Tuhan. Perhatikan bahwa sapaan peneduh yang sama juga dilakukan oleh Gabriel kepada Zakharia, yaitu: “Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan... “. Dan kedua hamba Tuhan inipun memperoleh suatu berkat ajaib dari Tuhannya yang melawat mereka!

Namun sebaliknya, tiga perangkat kata keramat yang menandai kuasa dan otoritas ilahiah ini justru terhilang dari mulut ruh “Jibril”: Jangan takut—hai Maria/Zakharia —sebab engkau beroleh/ dikabulkan ... Padahal salam peneduh yang kuat dan baku ini sungguh perlu dihadirkan karena Tuhan tidak ingin menempatkan utusanNya yang dari sorga untuk dikelirukan dengan roh pen-teror yang menakutkan. Bandingkan dengan pendekatan Jibril yang kembali men-teror Muhammad dalam perjumpaannya digua Hira, yang juga dilakukan tanpa sapaan perkenalan. Gabriel bukan hanya menyampaikan kabar tentang Yesus, tetapi juga sekaligus memberi insentif dan pujian langsung untuk Maria pribadi, yaitu: “engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau", dan disusul, “engkau beroleh kasih karunia di hadapan Tuhan”. Ini adalah pujian dan hormat ilahi yang sekaligus memperlihatkan betapa harkat wanita tidak bisa direndahkan oleh manusia. Sebaliknya, Jibril samasekali tidak membawa dari Allahnya insentif reward dan hormat apapun kepada Maryam, kecuali menjalankan tugas masinal. Kekurangan yang bersifat kesalahan ini terpaksa kelak diperbaiki oleh Jibril dalam wahyunya di Medinah (Qs.3:42)!

(3) Maryam praktis tidak diberitahu siapa dan apa peran khusus dari Sang Anak tersebut, sehingga perlu-perlu kelahirannya harus melalui keperawanan yang meng-aib-kan dirinya. Wajar Maryam tidak yakin itu rahmat Allah. Atas nama Allah, Ruh telah menetapkan bahwa rahim Maryam yang perawan belia itu akan mengandung seorang anak laki-laki yang suci. Tetapi tidak diterangkan siapa sosok dia sesungguhnya, apa nama dan peran dahsyatnya sehingga ia harus dilahirkan dari rahim perawan dan tidak cukup dari rahim normal seorang ibu!! Keseluruhannya, mahkluk alien apakah yang akan Allah turunkan kedalam rahimnya, dan untuk kepentingan besar atau rahmat apakah maka itu harus terjadi, agar Maria tidak melihat kehamilannya sebagai bagian dari keaiban, melainkan kehormatan yang harus disyukuri? Jibril samasekali tidak meng-entertain kerisauan Maryam yang maha-pokok ini. Padahal Maryam pasti akan dihina, dikutuki atau diusir, bahkan menurut hukum yang berlaku, Maryam bisa dirajam karena mengandung anak haram! Sungguh ruh/ “Jibril” ini tidak sensitif terhadap isu pokok kenapa Maryam harus dikorbankan begitu besar!

(4) Kepada Maryam juga tidak dijelaskan bagaimana kehamilan virgin itu akan terjadi, padahal itu justru dipertanyakan secara spesifik oleh Maryam. Dalam Injil: "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" Dalam Quran: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak, sedang aku belum pernah disentuh seorang laki-laki pun dan tiadalah aku perempuan jahat”. Gabriel menjawabnya sambil meluruskan kekeliruan Maria akan konsep “anak” yang bukan berdasarkan biologis/ kedagingan, "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Tuhan Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Tuhan”. Sebaliknya, Jibril tidak mampu mengkoreksi atau menjelaskan apa-apa kecuali meneruskan kata-kata Tuhan, “Hal itu mudah bagiku”, dan bahwa kehamilan itu sudah ditetapkan Tuhan sebagai tanda dan rahmatNya!

(5) Maryam tidak diyakinkan, juga tidak diberi peluang menampik “todongan” Ruh. Urusannya telah ditetapkan Allah dan itulah final, sebagai tanda bagi manusia dan rahmatNya. Kekurangan terbesar dari komunikasi Allah disini terlihat dari situasi akhir Maryam yang tidak dalam posisi siap menerima, dan tidak menyatakan rasa syukurnya atas ketetapan Allah. Para kritikus berkata:

“Bila Anda sebagai Zakharia atau Elisabet tua yang merindukan seorang anak, Anda tentu setuju bahwa kehamilan Elisabet (yang mandul itu) adalah suatu rahmat Tuhan kepada hambanya (ayat 2). Namun bila Anda sebagai anak dara Maryam, apakah kehamilan itu bisa dianggap ’rahmat Tuhan’ hanya karena hal itu didalilkan sebagai ketetapan Tuhan, tanpa kejelasan-kejelasan, tanpa peyakinan akan wujud kasih Tuhan? Itu lebih dekat kepada AIB dan KUTUK.”

Kelak setelah bertahun-tahun berlalu, informasi maha-penting yang masih ketinggalan untuk diwahyukan itu -- yaitu tentang nama dan proses kehamilan perawan -- baru dirasakan sebagai sesuatu yang perlu disusulkan oleh Muhammad di Medinah dalam surat yang lain lagi (Qs.3:45). Cicilan aneh yang sangat terlambat ini menguatkan dugaan bahwa Nabi butuh waktu untuk familiarisasi “kristologi” dan mencari informasi dengar-dengaran lebih jauh sebelum mengisi wahyu susulan. Seluruh pembicaraan Ruh Allah ini tidak tampak menghasilkan keyakinan bagi Maryam.. Tidak tampak Maryam bersyukur atas pilihan Tuhan keatas dirinya untuk melahirkan sang Anak. Anda bayangkan bila Anda sendiri yang jadi Maryam disaat itu!

KOMENTAR KRITIS TERHADAP PENDEKATAN GABRIEL

(6) Siapakah Anak yang harus dilahirkan dari seorang bunda perawan? Untuk apa kandungan/ kelahiran Anak Ajaib ini harus terjadi dalam rahimnya seorang dara-perawan, dan tidak cukup dari hubungan suami isteri yang saleh saja? Kalau hanya untuk melahirkan laki-laki yang saleh dan tanda bagi manusia (seperti yang dimaksudkan Quran), kalau hanya itu saja -- tentu bayi Isa tidak usah khusus dilahirkan sebagai tambahan terhadap kelahiran Yahya yang memang sudah saleh dan bertanda ajaib dengan menerobos kemandulan si ibu tua. Bukankah itu sudah cukup untuk menjalani peran dan fungsi-fungsi kenabian pada masa itu? Namun ternyata peran Yesus tidak bisa diwakilkan kepada Yahya, atau Muhammad, atau siapapun manusia lainnya. Sebab ternyata Gabriel menyebut status sang Anak ini jauh melebihi anak manusia manapun.

Sebab Dialah yang disebutnya: Yesus yang berarti Yahweh Penyelamat -berasal dari kata Aramik “Yeshua”, dalam lafal Arab menjadi Yesu/ Yasu, dalam lafal Greeka jadi “Iesous” dan Indonesia Yesus. Orang Kristen Arab menyebutnya Yasu’ al-Masih, dan itulah Anak Tuhan Yang Maha Tinggi, Kandungan dari Roh Kudus, Mesias diatas tahta Daud, Raja atas kaum keturunan Yakub, dan Kerajaan Sang Anak yang tak berkesudahan! Anak semacam itulah yang disebutkan oleh Gabriel sampai dua kali berturutturut sebagai Anak Elohim (ayat 32 dan 35) yang telah ada sejak awal mula, datang dan keluar dari Elohim (Yoh 8:42) untuk “dilahirkan” kebumi ini. Itu adalah konfirmasi yang paling jelas akan identitas dan peran keilahian sang Anak sebagai “Putera Pewaris”, yang sekaligus menafikan tuduhan islamik: “Allah beranak” hasil kedagingan biologis! Kita tahu, bahwa sekali Tuhan sendiri yang memberi nama bagi seseorang, maka Tuhan tidak bermain-main dengan nama itu. Itu bukan nama sekedar sambil lalu atau semacam harapan-harapan yang diseyogyakan Tuhan mudah-mudahan akan terjadi bagi sang anak, melainkan itulah hakekat, keberadaan dan fungsi sang anak untuk apa dia dinamakan! Ya, Yesus adalah Yahweh yang menyelamatkan! Itu adalah nama ilahi untuk sosok Ilahi.

Kelak Yesus mengkonfirmasikan nama Ilahi ini sampai dua kali pula ketika Ia berkata kepada Bapa sorgawi: “... yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku” (Yoh.17 ayat 11 dan 12). Jadi bukan saja sekedar nama yang Tuhan berikan kepada Yesus, melainkan itu juga adalah nama keilahian! Tetapi sungguh memprihatinkan bahwa Nama dengan makna dahsyat “Yahweh menyelamatkan”, itu dihilangkan dan diganti menjadi ISA yang kosong makna. Jibril dan Muhammad jelas bukan pemilik atau penguasa yang berotoritas atas nama tersebut, jadi darimana beliau bisa berhak “me-nasakh-kan” (menghapus dan menggantikannya, Qs.2:106) nama keilahian Yesus yang begitu dahsyat itu?! Imam Al-Gazali berkata bahwa, “nama adalah sebuah kata yang menunjukkan .... kalau sesuatu yang dinamai tidak dipahami dari namanya, maka hal itu tentu bukan namanya” (Al-Asma’ Al-husna, p.27).

Maka Muhammad dan semua pengikutnya, termasuk Al-Gazali, seharusnya mempunyai kewajiban moral untuk menjelaskan kepada dunia, kenapa nama YESUS – nama diatas segala nama -- dihapus dan digantikan dengan nama ISA yang samasekali tidak menunjukkan kemuliaan, tidak ada kebesaran, tidak dipahami, dan tidak menunjukkan apapun itu? Maka dalam kaidah Al-Gazali berarti itu bukan nama bagi Yesus! Bagaimanapun, keadilan Muslim yang konsekwen (gigi ganti gigi – nama ganti nama) harus menerima respon balik secara “tukar guling”, seandainya nama Muhammad juga dihapuskan dan diganti dengan nama lain seenaknya oleh orang kafir! Tidakkah itu menyakitkan hati Muslim melebihi gambar karikatur Muhammad dari Denmark yang dianggap pelecehan terhadap Islam? Namun kita tahu bahwa nama inilah yang sangat ditakuti oleh ruh-ruh yang tidak jelas (Mrk.3:11) dan karenanya harus disembunyikan atau dinasakh-kan oleh ruh, jin, dan malaikat gadungan, karena tahu bahwa mereka dapat diusir demi nama dahsyat ini (Mrk.9:38), dan “...setan-setan takluk kepada kami demi namaMu”(Luk.10:17).

(7) Dapatkah Tuhan mengutus Gabriel untuk menegaskan kepada Maria tentang “Anak Elohim” (sampai 2 x ulang), lalu 6 abad kemudian mengutus Jibril untuk mengkoreksinya bahwa “Allah tidak beranak”? Pada awalnya, baik Injil maupun Quran sama mencatat bahwa Maria masih berpandangan cara dunia dalam memahami konsep anak yang akan dikandungnya. Maka ia berkata kepada malaikat : "Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" (dalam Quran: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak, sedang aku belum pernah disentuh seorang laki-laki pun dan tiadalah aku perempuan jahat”). Namun Gabriel segera meluruskan kekeliruan Maria bahwa “konsepkeanakan” itu bukan bersifat kedagingan (walad), tetapi suatu konsep inkarnatif ilahiah, dimana "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Tuhan Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Elohim”. Jelas ini adalah sebutan sebagai Anak Tuhan yang rohaniah, bukan anak dalam pengertian badaniah! Bila tidak demikian, bukankah sang Anak ini cukup dilahirkan dari hubungan biologis Maria dengan tunangannya Yusuf yang memang sebentar lagi akan saling menikah? Kenapa Tuhan tidak menikahkan mereka saja dengan resmi dan memberi tanda kelahiran mujizat yang lain bagi Isa, misalnya demi menghemat waktu, sang Anak langsung menjadi besar sesaat setelah dilahirkan!? Pernahkah teman Muslim merenungkan hal yang sesederhana ini? Tidak ada alasan Tuhan untuk berpetak-umpet meng-aibkan Maria sambil menyesatkan miliaran jiwa orang Nasrani karena kelahiran virgin ini, bila kehamilannya sendiri hanya bersifat fisikal biologis dan bukan karena inkarnasi rohani!

Justru karena Gen DNA sang Anak adalah pula gen BapaNya, maka kelahiran dengan meminjam rahim perawan ini harus terjadi, dan istilah “Anak Elohim” kembali ditegaskan ulang: “...engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Elohim Yang Mahatinggi”. Istilah atau sebutan “Anak” adalah sangat tepat dan harus digunakan karena Ia yang Kalimatullah itu “di-nuzulkan”, “diturunkan”, “dilahirkan”, “diperanakkan” secara inkarnatif kedalam dunia seperti yang diwahyukan dalam Injil! Gabriel diabad kesatu, dan Jibril diabad ke 7 telah sama meng-koreksikan pikiran awal Maria yang salah, yang berakibat mustahil ada orang Nasrani maupun Muslim yang ngotot menganut Yesus itu hasil kawin-mawin Tuhan dengan seorang isteri.

Namun sungguh aneh bahwa “Jibril” kemudian kembali membalikkan pemahaman konsep kedagingan keAnak-an (Yesus Anak) sebagai tuduhan yang seolah dikenakan kepada orang Nasrani, “Dia tidak beristeri dan tidak beranak” “Bagaimana Dia (Allah) mempunyai anak padahal Dia tidak beristeri?” “Maha Suci Allah dari mempunyai anak” “Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan” (Qs. 72:3; 6:101; 4:171; 112:3 dll). Namun apabila ini dituduhkan kepada orang-orang Nasrani, maka wahyunya dipastikan salah sasaran, karena semua orang Nasrani yang justru sudah diingatkan oleh Gabriel sampai 2x, mustahil menyembahi Allah yang kawin-mawin dan beranak-pinak! Yesus menyanggah doktrin kawin-mawin yang sesat ketika berkata, ”Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh” (Yoh.3:6). Mahasuci Allah dari mempunyai anak. Bejadlah Allah demikian, bersama dengan orang-orang yang menuduhNya! Itu sebabnya Umar Tariqas menghimbau kejernihan pengertian Muslim lewat satu pertanyaannya yang sejuk: “Ya, kami orang Kristen memang mengatakan ‘Yesus itu Anak Tuhan’. Dan kami tahu itu disanggah oleh Muslim. Namun kami tidak tahu apa dugaan kalian ketika mendengar kami berkata ‘Yesus itu Anak Tuhan’? Menurut Anda ANAK TUHAN yang macam apakah yang kami percayai itu?” (Ismael Saudaraku, p.27).

(Cool Kudusnya sang Anak bukan seperti kudusnya para nabi Tidak dikosongkan Quran, tetapi ketika Jibril berkata tentang “seorang anak laki-laki yang suci”, maka teman Muslim tampaknya hanya terbawa mengartikannya secara umum. Sebaliknya Gabriel memaknainya teramat dalam sebagai KUDUS yang bukan kudus dalam istilah etika umum, semacam saleh, bersih, takut akan Tuhan, dekat dengan Tuhan dll. Melainkan kudusnya Tuhan sendiri yang Sang Kudus, suatu unsur dan sifat penuh misteri, asing dan tidak dikenal bagi dunia yang tidak kudus lagi. Yaitu unsur tanpa hakekat dosa dan tanpa berbuat dosa, yang hanya berasal dari Zatnya Tuhan sendiri. Gelar dengan hakekat ini tidak pernah bisa disandangkan kepada manusia. Hanya Tuhanlah yang kudus dari diriNya, dan tak satupun manusia itu kudus. Kekudusan manusia hanyalah perolehan, dalam batas-batas tertentu, yang dianggap “kudus”. Itu sebabnya seluruh nabi-nabi, termasuk Muhammad, adalah orangorang yang walau disebut saleh, namun tetap berbuat dosa dan minta ampun kepada Allah (QS.40:55; 48:1,2). Tidak demikian Yesus Al Masih yang bukan saja tanpa dosa, tetapi bahkan berkuasa mengampuni dosa (Mat.9:2,6).

(9) Maria tidak ditodong melainkan diminta dengan ikhlas, dalam memahami wujud kasih-anugerah Tuhan, yang berakhir dengan pemberian diri secara sukacita Ruh (Jibril?) tidak memberi peluang bagi Maryam untuk menolak kehendak Allah, kecuali harus tunduk dan taat atas urusan yang sudah ditetapkan Allah (ayat 21). Ini sebenarnya berlawanan dengan design Allah bagi manusia sejak Adam diberi pilihan bebas untuk mengharamkan atau menghalalkan buah pengetahuan di Firdaus dalam kehidupannya. Jibril mengosongkan berita sukacita tentang kehamilan isteri Zakharia dalam masanya yang mandul, yang mestinya bisa meneguhkan Maria karena kehadiran dua kehamilan ajaib bersama dirinya. Sebaliknya, Gabriel tidak memberlakukan “ketetapan-besi” kepada Maria, melainkan memberi pemahaman dan peneguhan langkah demi langkah bahwa sang Anak yang akan dikandungnya adalah Mesias, Anak Elohim yang dihasilkan dari Roh Kudus.

Dan itu adalah kasih karunia yang Tuhan nyatakan khusus kepada Maria, dan juga kepada Elizabet yang tadinya mandul, namun kini mendapatkan kehamilannya secara ajaib. Perhatikan bahwa keterangan Gabriel itu adalah nubuat-ganda, tentang 2 kelahiran ajaib pada diri Maria (yang akan terjadi) dan Elisabet (yang sedang terjadi yang Maria belum tahu tadinya)! Ini sekaligus membuktikan bahwa Gabriel membawa kuasa-nubuat ilahiah yang membedakannya dengan ruh-ruh halus lain yang tidak mampu bernubuat – kecuali menjiplak. Alhasil, semuanya berakhir dengan penerimaan Maria, yang kini percaya, dan setuju untuk memberikan seluruh dirinya kepada Tuhan sesuai dengan kehendakNya, dengan ucapan penuh syukur: “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu”. Maria ditinggalkan dalam suasana hati yang selesai, plong tanpa ganjalan. Istilah dewasa ini, win-win solution! Dalam sukacitanya, Maria segera melawat Elizabet, sanaknya, dipegunungan Yehuda.

Dan Injil mengisahkan bahwa kelak ia bersama tunangannya Yusuf pergi ke Betlehem, dan disanalah Maria melahirkan Yesus dalam sebuah kandang domba! Sebaliknya Quran sangat kentara tidak tahu apa-apa akan lokasi dan geografi yang dibicarakan. Dikatakan, “dia (Maryam) mengasingkan diri (seorang diri) dengan kandungannya ke suatu tempat yang jauh”. Bagaimana mungkin Maryam yang bukan perempuan binal itu pergi seorang diri untuk kedua kalinya berturut-turut? Pelarian pertama dikatakan kearah timur tanpa sebab, dan pelarian kedua kearah mana lagi? Quran mendongengkan akhir kehamilannya dengan kelahiran Isa dibawah pohon korma dengan didahului keinginan untuk mati sendirian dan dilupakan. Suatu keinginan yang dimurkai Allah karena mencerminkan ketiadaan iman, padahal ia dipilih karena wanita yang paling beriman! Jibril tak mampu lagi meneruskan kesudahan kisahnya secara logis, kecuali makin kacau.

Anonim
Tamu


Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 :: Debat Islam :: Aqidah

 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik