Silahkan masukkan username dan password anda!
Login

Lupa password?

Latest topics
» Ada apa di balik serangan terhadap Muslim Burma?
by Dejjakh Sun Mar 29, 2015 9:56 am

» Diduga sekelompok muslim bersenjata menyerang umat kristen
by jaya Wed Nov 27, 2013 12:30 am

» Sekitar 6.000 orang perempuan di Suriah diperkosa
by jaya Wed Nov 27, 2013 12:19 am

» Muhammad mengaku kalau dirinya nabi palsu
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:53 pm

» Hina Islam dan Presiden, Satiris Mesir Ditangkap
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:50 pm

» Ratusan warga Eropa jihad di Suriah
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:48 pm

» Krisis Suriah, 6.000 tewas di bulan Maret
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:46 pm

» Kumpulan Hadis Aneh!!
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:43 pm

» Jihad seksual ala islam!
by jaya Tue Nov 26, 2013 11:40 pm

Social bookmarking

Social bookmarking Digg  Social bookmarking Delicious  Social bookmarking Reddit  Social bookmarking Stumbleupon  Social bookmarking Google  Social bookmarking Blinklist  Social bookmarking Blogmarks  Social bookmarking Technorati  

Bookmark and share the address of Akal Budi Islam on your social bookmarking website

Bookmark and share the address of on your social bookmarking website

Pencarian
 
 

Display results as :
 


Rechercher Advanced Search

Poll
Statistics
Total 40 user terdaftar
User terdaftar terakhir adalah tutunkasep

Total 1142 kiriman artikel dari user in 639 subjects
Top posting users this month

User Yang Sedang Online
Total 1 user online :: 0 Terdaftar, 0 Tersembunyi dan 1 Tamu :: 1 Bot

Tidak ada

[ View the whole list ]


User online terbanyak adalah 23 pada Sat Jun 04, 2016 11:25 pm

Dari Islam ke Atheisme: Perjalanan Rohani Murtadin Pakistan

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down

Dari Islam ke Atheisme: Perjalanan Rohani Murtadin Pakistan

Post  Admin on Thu May 05, 2011 4:58 pm


Oleh Muhammad A. Khan

Mengapa aku meninggalkan Islam dan bagaimana pandanganku sekarang.

Pendahuluan

Aku lahir sebagai Muslim dan hidup dalam masyarakat Muslim. Aku mengamati dan merenungkan segala sisi masyarakat Pakistan: budaya Islam, cara hidup, dan cara berdagang mereka. Satu aspek yang paling menarik perhatianku adalah kesetiaan masyarakat Pakistan terhadap Islam. Tidak dapat disangkal lagi bahwa budaya pakistan sangatlah berbeda dengan budaya² lain di dunia.

Sekitar 95% dari 170 juta masyarakat Pakistan adalah Muslim dan dengan begitu Pakistan jelas merupakan negara Islam. Jumlah penduduk luar kota jauh lebih besar dari penduduk dalam kota. Pakistan hanya memiliki 4 propinsi, tapi punya 30 lebih bahasa yang berbeda. Urdu adalah bahasa nasional, dan Inggris adalah bahasa kedua. Konstitusi Pakistan tahun 1973 menyatakan bahwa bahasa Arab juga merupakan bahasa kedua Pakistan. Tapi meskipun begitu, sampai tahun 2009, bahasa Arab tetap tak digunakan di Pakistan. Aku bisa dengan yakin mengatakan bahwa 90% orang² Pakistan, termasuk aku sendiri, tidak mengerti bahasa Arab; kami tidak berbicara atau menulis dalam bahasa Arab. Ini membuktikan bahwa hati orang Pakistan memang bukan Arab.

Seperti negara² Islam lainnya yakni Afghanistan, Iran, Iraq, dan Saudi Arabia, Islam adalah satu² agama dominan di Pakistan. Agama² non-Islam dikutuki dan dibenci, sehingga hanya punya sedikit tempat di negara² Islam. Negara² Islam ini berusaha menerapkan cara hidup berdasarkan ajaran Qur’an dan Sunnah. Sekitar 75% masyarakat Pakistan adalah golongan Muslim Sunni dan golongan kedua terbesar adalah Muslim Syiah.


Imanku sebagai Muslim pada Allâh, Islam, dan Muhammad

Seperti yang telah kunyatakan sebelumnya, aku terlahir sebagai Muslim, dan sejak kecil anak² diajar mengenai prinsip² Islam. Dulu, Allâh itu adalah segalanya bagiku. Aku menganggapnya sebagai yang maha besar yang mengawasi kita semua sepanjang waktu. Dia tahu segala perbuatan kita, bahkan yang kita pikirkan atau ingin lakukan. Kita merasa senang atau sedih, semuanya terjadi atas kehendaknya. Kami diajari bahwa Allâh sangat mencintai Muslim dan dialah satu² pelindung kami. Allâh katanya memiliki kekuasaan yang tak terbatas yang tak dapat kita bayangkan.

Sama seperti setiap Muslim lainnya, aku pun sangat menjunjung dan memuja Muhammad. Bagiku, dia itu adalah pahlawan, superman, satu²nya juru selamat, pelindung, pengampun, dan orang yang paling mulia di dunia yang tidak bisa disejajarkan dengan siapapun. Aku dulu tidak pernah berani berpikir bahwa Muhammad berdosa atau berbuat salah. Jika dulu aku berani mempertanyakan kemuliaan Muhammad, maka aku seketika menyalahkan diri sendiri. Dulu aku merasa sebagai orang paling beruntung di dunia karena terlahir sebagai Muslim, karena hanya Muslim saja yang bisa masuk Jannat (surga), bersenang-senang dengan huri (para perawan surgawi) dan vine (minuman anggur). Maka di usia 20 tahunan, aku mulai melakukan sholat, dan tak hanya 5 kali sehari, tapi juga sholat² nawafil (sholat tambahan yang tak diwajibkan), karena serakah ingin dapat lebih banyak perawan di surga. Kukira semakin banyak sholat, semakin cantik pula perawan² surgawinya.

Sedihnya, karena tipuan dan kebodohanku, aku malah tidak menghiraukan perawan² cantik di dunia ini.

Karena dulu aku mengira setiap kafir, tidak peduli betapa baiknya, akan masuk neraka, aku seringkali merenung akan nasib jelek yang menunggu mereka setelah mati. Karena merasa kasihan, aku berharap semua kafir bisa jadi Muslim dan bergabung bersama kami para Muslim di surga. Hal ini karena aku mengira satu²nya jalan ke surga hanyalah dengan beriman pada satu Allâh dan mengakui Muhammad sebagai Rasul Allâh. Aku sangat yakin bahwa Muhammad itu adalah pribadi terbesar setelah Allâh.


Alasan²ku Meninggalkan Islam

Sekarang aku akan membicarakan salah pengertian Muslim akan Islam, Allâh, Qur’an, dan Muhammad. Aku punya alasan jelas untuk meninggalkan Islam setelah aku mengetahui segala kengawuran dan kesalahan logika yang dibuat Muslim akan kehebatan agama Islam. Berikut kujelaskan pandanganku, dan terserah pembaca untuk menentukan apakah aku benar atau salah.


a) Allâh

Siapa sih Allâh ini? Pertanyaan valid ini sering diucapkan, tapi tiada jawaban yang memuaskan. Banyak ilmuwan besar yang menjabarkan asal-usul Allâh, yang bagi Muslim merupakan satu² tuhan, dan dulu pun aku menganggapnya demikian. Laporan ilmiah mereka menjelaskan bahwa sebelum ada Islam, Allâh ternyata adalah dewa pagan, tepatnya dewa bulan yang disembah oleh masyarakat Quraish di Arabia.

Muslim tentunya punya pandangan yang sangat berbeda akan Allâh. Menyebut Allâh sebagai dewa bulan masyarakat pagan Arab merupakan penghujatan yang sangat menyakitkan hati Muslim. Mereka tidak akan pernah menerima penjelasan para ilmuwan, karena mereka tidak akan terima bahwa Allâh mereka yang tak nampak dan hidup di surga tertinggi itu dulunya adalah dewa pagan pujaan masyarakat pagan Arab.

Aku menganggap penjelasan para ilmuwan tentang asal-usul Allâh itu benar. Hal ini karena nama ayah Muhammad sendiri adalah Abdullah (budak Allâh). Nama kakek Muhammad adalah Abdul Muttalib (budak Muttalib), dan dia memberi nama putranya sesuai dengan nama² dewa yang dipujanya. Selain itu, anak Abdul Muttalib yang lain, yakni Abu Lahab (paman Muhammad) ternyata punya nama asli Abdul Uzza (budak Uzza). Kita tahu bahwa Uzza itu adalah salah satu dewa² Quraish. Bahkan nama Uzza juga disebut dalam Qur’an 53:19, 20. Sudah merupakan hal yang wajar mengapa Abdul Muttalib memilih nama Allâh sebagai nama putranya Abdullah. Dengan begitu sudahlah jelas bahwa Allâh merupakan salah satu dewa² bangsa Quraish. Hal ini membuatku enggan bersujud pada tuhan yang dahulu merupakan dewa pagan, dan lalu pura² jadi Tuhan yang maha esa di surga. Sungguh menggelikan untuk mempercayai dewa pagan bisa berubah jadi Tuhan surgawi.


b) Qur'an Nan Suci

Umat Muslim percaya bahwa Qur'an adalah kitab suci yang terlengkap, tak pernah berubah, tanpa kesalahan. Setiap kata dalam Qur'an itu berasal dari Allâh dan tiada kekuatan apapun di dunia yang bisa mengubahnya. Tiada satu pun buku di dunia ini yang setara dengan Qur'an. Umat Muslim menganggap Qur'an sebagai buku hukum dan ketetapan untuk memecahkan segala masalah. Bagi mereka, firman Allâh dalam Qur'an adalah mutlak, abadi, dan persis sama seperti yang diwahyukan pada Muhammad 1.400 tahun yang lalu. Tiada seorang pun yang mampu mengubah atau menghapus ayat² atau Sura² Qur'an karena tantangan Allâh di Q 17:88.

Mari kita bahas bagaimana tantangan Allâh yang Maha Kuasa dihadapkan dengan ayat² pembatalanNya sendiri. Bukti² kuat di Sahih Bukhari dan Tirmizi menunjukkan bahwa Allâh ternyata tidak mampu menjaga keutuhan firmanNya sendiri, karena dia harus mengganti ayat²Nya yang katanya tanpa salah, paling bijak, dengan ayat² lain; atau bahkan di berbagai kasus, sejumlah ayat² dibatalkan. Pertanyaanku adalah: "Mengapa Allâh yang Maha Bijaksana perlu mengganti ayat²Nya? Mengapa dia lupa akan ayat² sebelumnya?" Jawaban Muslim bagi pertanyaan ini adalah: "Karena situasi dan kondisi (sikon) berubah sesuai dengan waktu turunnya wahyu. Dengan demikian beberapa ayat perlu untuk dibatalkan, dan beberapa ayat lainnya diganti."

Penjelasan ini menimbulkan pertanyaan² baru: "Memangnya situasi dan kondisi itu hanya berganti dalam kurun waktu 23 tahun sejak Muhammad mengaku sebagai nabi?"

Situasi dan kondisi akan terus-menerus berubah. Bukankah para Muslim juga sudah tahu bahwa situasi dan kondisi selalu berubah sejak jaman Muhammad sampai sekarang? Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Siapa yang bisa membatalkan ayat² Qur'an yang sudah tidak cocok lagi dengan situasi dan kondisi jaman modern dan masa depan? Jika kita tanyakan hal ini pada umat Muslim, maka hanya kebisuan saja yang kita terima.

Bukti kuat lainnya yang ditulis oleh para ahli sejarah Islam menunjukkan bahwa tantangan Allâh juga ditolak oleh Uthman bin Affan yang merupakan Muslim taat. Sejarah Islam menyatakan bahwa untuk menghindari berbagai salah pengertian, salah mengerti, berbagai jenis Qur'an yang berbeda dari berbagai kelompok Muslim, maka sang Kalifah Islam ketiga yakni Uthman bin Affan membakar buku² Qur'an terasli, dan hanya menyisakan satu Qur'an saja. Para ahli sejarah Islam menulis bahwa karena kesamaan retorika yang baik dalam bahasa Arab diantara para suku Arab, maka Islam berkembang pesat di seluruh dunia. Untuk menghindari salah pengertian dan untuk menjaga keutuhan umat Muslim, maka Kalifah Uthman membuat beberapa duplikat Qur'an versi pilihannya sendiri dan mengirimkan duplikat² Qur'an itu ke beberapa daerah. Sekarang pertanyaannya adalah: mengapa Allâh tidak menurunkan satu jenis Qur'an saja yang persis sama seperti Qur'an yang kita miliki di jaman modern? Siapa yang memberi ijin Uthman untuk membakar Qur'an asli dan menyusun kembali Qur'an baru?
Hal lain yang menarik adalah Uthman dipilih menjadi Kalifah baru sewaktu dia sudah berusia 70 atau 72 tahun. Sejarah menunjukkan bahwa Uthman bersaudara dengan orang² dari Banu Umayya. Uthman yang sudah uzur ini ternyata begitu mudah dikelabui dan dimanipulasi. Di lain pihak, Amir Muawiyah, anak Abu Sufyan, adalah Gubernur Syria. Para ahli sejarah Islam setuju bahwa di hari Mekah ditaklukkan, setelah Muhammad menghancurkan 360 patung berhala di hadapan masyarakat Quraish, banyak kafir yang masuk Islam, termasuk Abu Sufyan dan Amir Muawiyah. Alasan jadi mualaf bisa jadi karena dipaksa atau memang sukarela. Dugaanku adalah baik Muawiya maupun Abu Sufyan tidak pernah sukarela memeluk Islam, dan terpaksa memeluk Islam karena mereka tidak punya pilihan lain. Karena itu, selama kekalifahan Uthman, tatkala Muawiyah menikmati kedudukan tinggi sebagai Gubernur Syria, Muawiyah tahu betul bahwa Uthman yang uzur tidak mampu menjalankan pemerintahan Islam sendirian. Uthman harus bergantung pada para sekutu dan sukunya. Muawiya tidak pernah lupa akan pengikut²nya yang dibunuhi oleh Muslim, dan juga penghancuran berhala² Quraish oleh Muhammad. Kukira Muawiyah sudah mendendam pada Islam sejak kejadian penghancuran berhala itu. Ketika Muawiyah diangkat sebagai Gubernur Syria, dia menunggu waktu yang tepat untuk membalas dendam penghinaan Muhammad dan Muslim yang menghancurkan berhala²nya. Karena itu, bisa jadi Muawiyah-lah yang membujuk Uthman untuk membakar Qur'an yang asli.

Para sahabat Muhammad juga berperan penting dalam menjaga keutuhan Qur'an. Para Muslim menyatakan bahwa para sahabat, dengan daya ingat mereka yang luar biasa, hafal Qur'an dalam hati: ayat² illahi tidak diubah, dan dilindungi dari serangan² para kafir. Menurut Muslim, sebagian besar Qur'an diwahyukan di Mekah, sebelum Muhammad hijrah ke Medinah. Di masa awal Islam, minuman anggur tidak dianggap sebagai dosa yang dilakukan Setan. Hal ini tampak jelas di Sura² awal Qur'an. Dengan begitu, mengapa Muhammad atau Allâh jadi begitu membenci minuman anggur atau minuman beralkohol? Bahkan para Muslim di Pakistan menyatakan bahwa Muhammad melarang alkohol karena beberapa sahabat, termasuk Ali, yang rutin meminum minuman keras, tidak menyampaikan firman illahi dengan benar. Dalam keadaan mabuk, mereka sering melafalkan Qur'an berbeda dengan apa yang dilafalkan Muhammad. Menyadari hal ini, maka Allâh yang Maha Bijak dan Kuasa memerintahkan Muhammad untuk membatalkan dan mengganti ayat² Qur'an. Dengan begitu, kita bisa mengatakan bahwa tidak hanya banyak ayat Qur'an yang dibatalkan, tapi lebih banyak lagi ayat² Qur'an yang dirubah gara² para Muslim yang doyan minum anggur sampai mabuk.

Sejarah Islam menjelaskan tentang Abdullah bin Sa’d, yang merupakan salah satu juru tulis Muhammad dari Mekah. Setelah Muhammad hijrah ke Medina, dia meminta Abdullah untuk menulis ayat² Qur'an yang diimlakan Muhammad. Sewaktu melihat "proses turunnya wahyu illahi," Abdullah menyadari penipuan yang dilakukan Muhammad, dan dia pun cepat² kembali ke Mekah. Abdullah yakin bahwa Muhammad itu ternyata penipu, dan Allâh ternyata tidak pernah mewahyukan firman illahi apapun terhadap Muhammad. Muhammad tidak pernah memaafkan Abdullah. Ketika Muhammad menaklukkan Mekah, dia memerintahkan gara Abdullah bin Sa’d dibunuh, beserta para kafir pagan lainnya yang menjengkelkan Muhammad di masa lalu. Kita mungkin merasa heran mengapa juru tulis saja sampai harus dihukum mati oleh sang Nabi Islam. Menurut berbagai sumber, Abdullah bin Sa’d adalah orang yang berpengetahuan dan bijaksana di Mekah. Sudah jadi kebiasaan Abdullah bin Sa’d, bilamana sang Nabi Islam memintanya untuk menuliskan ayat atau apapun, maka dia -- sesuai dengan pengetahuan dan keahliannya -- memberi masukan pada Muhammad untuk memperbaiki bahasa ayat yang diturunkan Allâh. Muhammad mengijinkan Abdullah bin Sa’d untuk memperbaiki bahasanya. Dengan demikian Muhammad sebenarnya menyatakan kebijaksanaan Abdullah bin Sa’d di atas kebijkasanaan Allâh yang Maha Kuasa. Ketika Abdullah bin Sa’d menyampaikan hal ini kepada pengikut² Muhammad lainnya, maka nyawanya jadi terancam sehingga dia harus melarikan diri ke Mekah. Karena itulah, ketika Mekah ditaklukkan, Muhammad menginginkan Abdullah bin Sa’d dibunuh. Untungnya Uthman bin Affan adalah saudara angkatnya dan Uthman berhasil menyelamatkan nyawanya. Bisa disimpulkan bahwa orang yang cerdas dan berpengetahuan seperti Abdullah bin Sa’d telah menyusun Qur'an.

Selain hal ini, masih ada masalah besar lainnya dalam Qur'an seperti kontradiksi dalam Qur'an. Tapi aku tidak akan membahas hal tersebut dalam artikel ini. Cukuplah kiranya untuk menyatakan bahwa banyak ayat² Qur'an yang saling bertentangan satu sama lain.


c) Sifat dan Perbuatan Sang Nabi Islam

Umat Muslim mengatakan bahwa sifat Muhammad merupakan teladan yang harus ditiru. Mereka menganggap Muhammad sebagai orang yang terjujur, tersuci, rendah hati, tidak berdosa, berakhlak, bijak, jenius, dan Rahmat ulil Alamin (pengampunan bagi seluruh dunia), dll - daftarnya gak ada habisnya.

Mari kita bahaas sifat dan perbuatannya yang dinyatakan literatur Islam, seperti ahadis (tradisi hidup Muhammad) dan Sira (biografi Muhammad).


Admin
Admin

Jumlah posting : 225
Join date : 17.04.11

Lihat profil user http://akalbudiislam.forumid.net

Kembali Ke Atas Go down

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik